Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Kebahagiaan Yang Mulai Terbilas


__ADS_3

Emak, Abah dan Indri sudah pergi di tengah langit yang masih redup. Sekitar pukul setengah 6, Adwi mengeluarkan motornya untuk mengantar mertuanya pulang. Ia juga meminta jasa temannya untuk dapat membonceng Abah.


Mereka sengaja pergi secara diam-diam, Laila kecil masih tertidur pulas di atas kasur. Saat ia bangun, mungkin ia akan menangis dan mencari-cari ketiga orang yang telah lama merawatnya. Tapi Emak dan Abah tidak bisa tinggal lebih lama, sawah dan ladang tidak bisa mereka tinggalkan. Selain itu, Indri juga harus berangkat ke sekolahnya.


"Serrk! Serrk!"


Sebagai seorang istri, tugas Anjani di rumah adalah mengurus urusan rumah tangga. Pukul 7 itu Anjani menyapu halaman rumahnya.


Tepat di samping rumah, terlihat kebun yang pohonnya tidak terlalu rimbun. Hanya ada pohon asem, manggis, dan beberapa pohon kayu berukuran sedang.


Di sana, Anjani dapat melihat rumah tetangganya yang juga merupakan rumah panggung. Rumah itu berada di dataran yang lebih tinggi dari rumah Anjani. Tanah di sana berundak-undak, begitupun seterusnya, rumah tetangga Anjani yang ada di depan berada di dataran yang lebih rendah dari rumah Anjani.


Sampai di belakang halaman rumah, Anjani menemukan sesuatu.


"Ini apa?" Anjani mengambilnya.


"Maa? Maaa...?"


Dari bilik rumah yang tipis itu Anjani mendengar suara Laila, sepertinya Laila sudah bangun dari tidurnya. Lantas Anjani meletakkan sapu lidinya dan bergegas ke dalam rumah.


Laila sedang duduk di tempat semula ia tidur. Dengan wajahnya yang masih suntuk matanya yang sepet berusaha melihat-lihat ke sekeliling.


"Maa..? Maa..?" Laila mencari-cari sosok Emak.


"Kamu manggil Mama Sayang?" Anjani merasa terharu, ia kira Laila sedang menyebut nama mama.


"Mama, ti e awat." Ucap Laila yang masih belum lancar berbicara.

__ADS_1


Anjani langsung mengerti, semalam Emak menceritakan bahwa selama di kampung, Laila terus memanggil-manggil tetangganya dengan sebutan mama. Mungkin saat ia bermain, ia melihat teman-temannya memanggil-manggil mama nya.


Emak sering menitipkan Laila ke tetangganya. Tanpa disangka, Laila memanggil tetangganya itu dengan sebutan mama. Emak merasa tidak enak, ia melarang Laila untuk berbicara seperti itu. Emak berkata bahwa mama nya Laila sedang berada di dalam pesawat.


Setiap terdengar bunyi dengungan pesawat, Laila selalu bergegas ke luar dan mencari-cari pesawat itu di atas langit. Setelah Laila menemukan pesawatnya, Laila langsung berteriak memanggil-manggil mama nya.


"Mama, cepat pulang!" Itu yang selalu diteriakkan oleh Laila.


"Ini Mama Sayang, Mama udah pulang." Anjani berusaha untuk mengenalkan dirinya kepada Laila. Tapi Laila malah berpaling dan melihat ke arah jendela.


"Huu... huu..." Laila seperti akan menangis.


"Ha ku,"


Tiba-tiba Laila menangis dan memeluk Anjani dengan erat. Anjani tidak tahu apa yang membuat Laila menangis, tapi ia terus mendekap Laila dalam pelukannya.


Hingga akhirnya, Laila tertidur kembali. Anjani membaringkan Laila di atas tempat tidurnya. Anjani masih penasaran dengan sesuatu yang ia temukan di halaman belakang.


Anjani mengeluarkan sesuatu dari dalam saku roknya. Sebuah amplop surat, sudah terbakar tapi masih menyisakan nama pengirimnya. 'Lilis' jelas nama itu adalah nama seorang perempuan.


Anjani tidak tahu siapa itu Lilis, surat itu pastinya adalah milik Adwi, mana mungkin tetangga yang rumahnya berjauhan sengaja membakar surat itu tepat di belakang rumah Anjani.


Hati Anjani merasa tidak enak, ia menyimpan surat itu kembali sambil menunggu kepulangan Adwi.


"A, kamu kerja dapet berapa? Dulu kita kan udah janji buat bersaing siapa yang bisa dapetin uang paling banyak. Aku mau tau siapa yang menang." Anjani menghiraukan sejenak soal surat itu. Ia penasaran dengan hasil jerih payah yang diraih oleh Adwi.


"Aku gak punya uang, aku di sini sengsara. Pusing aku, kamu di sana gak ada kabar. Ternak sama kayu semuanya abis aku pakai berobat." Ucap Adwi sinis.

__ADS_1


Setelah 3 bulan bekerja di luar kota, Adwi pulang dan tinggal di kampungnya. Ia kembali mengambil alih pekerjaannya yang digantikan oleh bapaknya.


Kambing dan kayu-kayu yang Adwi miliki di kebun, semuanya habis ia jual. Begitupun mas kawin yang Anjani tinggalkan sebagai tanda ikatan cintanya dengan Adwi, sekarang benda itu sudah tiada lagi.


Motor Adwi pun sekarang sudah berbeda dari yang dulu. Ia menjual motornya dengan harga yang lumayan mahal dan membeli motor bekas yang harganya jauh lebih murah.


Anjani hanya tinggal menghapus bibir. Ia kecewa, selama ini Adwi yang ia harapkan sama sekali tidak memberikan apa-apa. Anjani pergi karena ingin membangun sebuah rumah yang bagus. Bekerja bersama-sama, dipisahkan dengan jarak yang begitu jauh, ternyata hanya Anjani yang berjuang sendirian.


Meskipun sebelumnya Anjani masih bersyukur memiliki rumah yang sederhana ini, tapi sekarang Anjani juga curiga bahwa rumahnya ini dibuat dari hasil keringatnya sendiri. Ia tidak percaya dengan semua yang Adwi katakan. Memangnya separah apa sakit yang diderita oleh Adwi hingga ia menjual seluruh harta kekayaan yang ia miliki.


"A, aku kerja di sana karena pengen bikin rumah yang bagus! Tapi kenapa Aa malah ngebiarin aku berjuang sendirian?!" Ucap Anjani dengan nada tinggi.


Anjani tidak bisa menahan emosinya. Sampai kini Adwi terlihat sehat-sehat saja. Anjani membentak-bentak Adwi tanpa ingin tahu apa penyakit yang dideritanya.


"Emangnya cuma Aa yang ngerasain itu? Aku di sana juga selalu inget sama Aa! Aku pengen cepet-cepet ngabarin Aa! Tapi, gimana rasa sakitnya pas majikan ngelarang dan ngebentak aku yang pengen pergi buat ngabarin Aa? Aa tau? Aku di sana kerja capek, disiksa, dimarahin, buat makan aja aku susah A! Hiks.. hiks.."


"Coba Aa bayangin, aku di sana makan makanan sisa, setiap hari aku kuatin batin aku yang selalu dapat siksaan dari majikan. Aku rindu sama Aa, sama Laila, aku pengen pulang, aku pengen kabur, tapi aku gak mau pulang tanpa bawa apa-apa, aku gak mau ngecewain kalian."


Meluapkan emosinya, Anjani menangis. Ia mematikan kompor yang berada di hadapannya. Tak peduli dengan masakannya yang sudah gosong, ia berjalan dan duduk di sebuah bangku panjang.


"Ini surat dari siapa?" Anjani menyeka air matanya dan mengeluarkan surat itu dari saku rok nya.


"Bukan dari siapa-siapa." Jawab Adwi acuh. Ia hanya berdiri dan tidak ingin menatap Anjani. Perkataan Anjani yang penuh sendu tadi pun sama sekali tidak ia hiraukan.


"Ohh... gitu aja ya suka main sama cewek gak ada aku di sini teh!" Anjani merasa sangat kesal.


"Boro-boro, mikirin anak satu juga udah pusing." Jawab Adwi kecut.

__ADS_1


'Padahal Laila diasuh sama Emak, emang apa yang jadi beban pikirannya A Adwi?!'


__ADS_2