Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Menjaga Keharmonisan


__ADS_3

Informasi tentang Adwi, Anjani simpan dan bawa pulang untuk ditanyakan penjelasannya. Ia belum tahu pasti apa yang sedang dilakukan oleh Adwi di rumah wanita itu, jadi ia akan coba untuk bertanya baik-baik.


Sebelumnya rumah sudah Anjani kunci, ia memastikan kepulangan Adwi dengan melihat ke samping rumah. Di sana terdapat saung dan tungku besar yang dikhususkan untuk memasak air nira.


Terlihat Adwi sedang memasukkan serbuk gergaji ke dalam tungku yang sudah diletakkan 2 buah gelondongan bambu. 2 bambu itu besar dan diletakan dengan posisi siku-siku.


Serbuk gergaji digunakan agar api dapat menyala dan menyembur rata di dalam tungku yang besar itu. Serbuk itu Adwi dapatkan di sebuah pabrik gergaji yang berada di kampung sebelah. Agar tidak susah-susah mencari kayu bakar, Adwi biasa membeli satu karung serpihan kayu tipis yang juga tersedia di tempat itu.


"A, udah ke rumah Bapak nya?" Tanya Anjani yang sedang menggendong Laila.


"Udah, ini bukunya aku sakuin." Ucap Adwi sedang menginjak-injak serbuk gergaji untuk memadatkannya.


Anjani tak langsung menanyakan hal yang ingin ia tanyakan, ia tahu bahwa Adwi masih sibuk dan juga masih lelah setelah berjalan jauh dari kebun.


Tungku sudah siap dan akhirnya api menyala. Kuali besar sudah berada di atas tungku beserta dengan air nira nya, mereka masuk ke dalam rumah dan meninggalkan perapian itu.


"Kok banyak banget A nulisnya?" Anjani melihat lembaran buku yang dibawa oleh Adwi.


"Iya, aku juga nulis do'a-do'a." Jawab Adwi.


Tulisan arab yang ditulis dengan tinta biru, terlihat begitu rapi dan mudah untuk dipahami. Huruf-huruf itu mengisi beberapa halaman buku Adwi, semua tulisan itu ditulis oleh bapaknya Adwi sendiri.


Adwi tidak langsung menghafalkannya. Sembari Anjani sibuk melihat-lihat isi bukunya, ia beristirahat sambil mengajak Laila bermain.


"A, kata orang, Aa suka main ke rumahnya Mbak Laras. Emang bener ya A?" Anjani menutup buku itu dan menyimpannya di atas lemari.


"Iya, itu mantan aku. Aku ke sana cuma ngobrol sama bapaknya aja." Jawab Adwi.


"Ohh.. emang berapa lama dulu Aa pacaran sama dia?"


"Nggak lama juga sih, aku yang putusin dia. Tapi aku akrab sama bapaknya, jadi sesekali aku ke sana."


'Emang pantes ya kalo A Adwi yang udah punya istri masih sempet-sempetnya deket sama orang tua mantannya? Padahal dia bukan kerabat juga.'


Dari luar, Anjani tidak terlihat marah maupun kesal. Ia mencoba meyakinkan bahwa yang dikatakan oleh Adwi itu memang benar dan tujuannya adalah baik.

__ADS_1


Sesekali Adwi pergi ke luar untuk melihat air nira yang dimasaknya tetap berada dalam api yang stabil. Butuh waktu lama untuk membuat air nira itu berubah menjadi bentuk gula. Lama kelamaan, air nira yang putih itu berubah menjadi warna keemasan kemudian coklat, itu tandanya sebentar lagi gula akan siap untuk dicetak.


Gula sudah mulai mengental dan sudah siap untuk diangkat. Tidak langsung dicetak, gula itu harus diaduk-aduk lagi agar menghasilkan gula yang kering. Anjani tak bisa membantu, ia hanya memperhatikan Adwi di sebuah bangku sambil duduk bersama Laila.


Setelah selesai mencetak gula, sesuai perkataan mereka sebelumnya, Adwi berangkat ke matrial untuk memesan 2 truk batu dan juga 2 truk pasir. Selepas dari sana, Adwi pergi ke sebuah pabrik bata dan memesan 1 truk bata.


Setelah itu, ia pergi ke bank untuk membuka rekening tabungan. Ia menabung kan uang hasil kerja kerasnya dan beberapa uang Anjani pun ia simpan sesuai dengan permintaan Anjani sendiri.


"Aku udah bikin tabungannya, nanti tiap minggu aku bakalan tabungin hasil kita ngejual gula."


Adwi pulang sambil menunjukkan buku tabungannya kepada Anjani. Ia sengaja menabung di bank karena takut uangnya akan terpakai atau hilang jika disimpan di rumah.


Dengan senyum bahagia Anjani melihat buku tabungannya itu. Tercetak angka saldo awal yang mereka miliki cukup besar. Tabungan itu nantinya akan mereka gunakan untuk membangun rumah yang mereka impikan.


Beberapa hari kemudian, akhirnya barang yang Adwi pesan sampai juga. Mulai dari batu bata, lalu hari berikutnya bongkahan-bongkahan batu dan diikuti dengan pasir. Semua truk pengangkut itu menurunkannya di tepi jalan.


Jarak antara rumah Anjani dengan jalan raya kurang lebih 100 meter. Jadi, Adwi harus mengangkut kembali pesanannya itu dan memindahkannya ke lahan luas yang berada di samping rumahnya.


Adwi meminta jasa para kerabat dan yang lainnya untuk mengangkut bahan bangunan yang ia pesan itu. Isi dari 5 truk itu dapat mereka pindahkan dalam kurun waktu sekitar 2 minggu. Itu karena jalanan setapak di sekitar sana cukup licin dan terjal.


Adwi mengupah mereka menggunakan uang milik Anjani. Bahan untuk membangun rumah baru sudah tersedia sebagian, rencananya mereka akan membangun rumah itu di sebuah lahan luas yang berada di samping rumahnya yang saat ini.


Anjani masih memiliki beberapa uang. Ia teringat saat dulu Adwi mengajaknya jalan-jalan.


"Aku juga pengen beliin Abah hp, aku pengen telponan sama keluarga di kampung." Lanjut Anjani.


"Iya, aku ngikutin gimana kamu aja, lagian itu uang kamu sendiri, kamu bebas ngebelanjainnya semau kamu." Adwi tersenyum dan langsung saja mereka berangkat ke konter hp.


Masih belum ada hp android di sana, yang umum adalah hp pijat. Mereka tidak tahu hp mana yang spesifikasinya bagus, tapi mereka bertanya dan memilih hp dengan kamera yang jernih.


Sebuah hp pijat berwarna merah, dan sebuah hp pijat berwarna hitam mereka bawa pulang. Slot kartu sudah terisi dan mereka yang belum pandai itu mencoba untuk mengotak-atiknya sendiri.


"Coba kamu sama Laila berdiri di sini, biar aku foto." Ucap Adwi yang sudah menemukan fitur kamera.


"Aku malu A. Aa aja yang difoto." Anjani enggan difoto karena ia takut hasilnya jelek.

__ADS_1


"Kamu berdiri aja, aku mau coba kameranya bagus atau nggak."


"Kan bisa foto pemandangan juga A."


"Udah, kamu nurut aja. Ini kan kamu beli buat fotoin orang, bukan buat foto pemandangan." Adwi menggiring Anjani untuk berdiri di tempat yang ia tentukan.


"Ckrek!"


Adwi mengambil foto Anjani dengan Laila. Tidak ada kamera depan di hp itu, ia menggunakan kamera belakang untuk mengambil gambarnya.


"Coba liat A," Anjani mengambil ponselnya dan melihat foto dirinya yang sedang menggendong Laila.


"Cantik kok. Kalo kamu mau, kita pergi ke tempat foto deket pasar. Di sana ada latar lukisannya, bagus-bagus." Ucap Adwi.


"Iya A, aku mau. Nanti kita pake baju yang samaan." Anjani tersenyum riang.


Dengan hp itu, Anjani terus saja mengambil foto Laila yang menggemaskan. Dari sisi mana pun Laila terlihat cantik walau dirinya sama sekali tidak mengambil pose. Mungkin saat ini Laila tengah bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh ibunya.


Malamnya, Adwi membawa hp itu untuk meminta lagu-lagu kepada temannya. Ia juga akan bertukar nomor ponsel dengan temannya agar mudah untuk berkomunikasi.


"Wih, udah beli hp juga Wi? Kayaknya baru tuh." Ucap temannya Adwi ketika Adwi mengeluarkan hp nya.


"Iya, ini punya istri. Mau minta lagu nih."


Adwi sedang berada di tempat biasa ia menongkrong, yaitu sebuah warung kopi yang berada di persimpangan jalan. Di tempat itu lah Adwi sering bermain kartu dengan teman-teman yang lainnya. Mulai dari yang lebih muda, hingga yang lebih tua darinya.


Kartu remi mulai dikocok, dan Adwi sudah duduk menyilang menunggu pembagian kartu di tempatnya. Satu bungkus rokok ia pesan, dari dulu ia memang sudah merokok dan Anjani pun sudah mengetahuinya sejak awal.


Bermain beberapa kocokan, Adwi segera pergi ke pasar dan memesan 2 bungkus nasi goreng spesial. Ia pulang lebih awal dan membawa nasi goreng itu ke rumahnya.


"Tumben A pulang cepet." Ucap Anjani ketika melihat kedatangan Adwi.


"Ini, hp nya udah aku isiin lagu. Aku mau kasih ke kamu." Adwi menyerahkan hp nya.


Malam itu lagu santai diputar dari hp baru milik Anjani. Mereka menyantap nasi goreng bersama dengan Laila juga. Setelah nasi goreng habis, Adwi bangkit dan pamit untuk keluar.

__ADS_1


"Aku mau pergi lagi." Ucap Adwi seraya pergi.


Anjani kira, Adwi akan tetap berada di rumah. Tapi ia salah, ternyata Adwi meninggalkannya lagi karena masih ingin bermain bersama teman-temannya.


__ADS_2