Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Sadar


__ADS_3

2 tahun lagi masa jabatan Adwi akan habis. Meskipun tahu keluarganya tidak terurusi, tapi ia berniat untuk mencalonkan dirinya lagi. Tentunya Anjani menolak, ia sudah lelah mengurusi kehidupan orang lain.


"Biarin cape juga, tau tau ntar aku jadi Pak Kuwu." Ucap Adwi hanya memikirkan jabatan.


Yang ia suka dari pekerjaannya adalah nama panggilan. Ia merasa bangga bisa dipanggil sebagai lurah, orang terhormat di kampungnya.


Adwi berkata bahwa ia akan mendapatkan ijasah SMA nya dengan mendaftar paket C. Anjani tidak setuju dengan itu, lagi pula masih banyak pekerjaan yang tidak memandang tingkat pendidikan. Dan lagi, biaya untuk mengambil paket itu pastinya tidaklah murah.


Namun Adwi tetap bersikeras, ia kembali mengambil uang tabungannya di bank untuk membayar biayanya di paket C. Anjani sedikit kecewa, uang tabungannya terus saja diambil tanpa adanya pemasukan kembali.


Beberapa bulan berlalu, kini Anjani juga sudah melahirkan. Tiba di bulan terakhir sudah ada lagi tugas yang mengharuskan Anjani untuk berkeliling ke setiap rumah warga.


Memungut iuran pajak tahunan, kertas pajak bumi dan bangunan yang berwarna hijau itu menumpuk di dalam rumahnya. Sangat begitu banyak, dan harus segera diselesaikan pada waktu yang sudah tenggat.


Adwi mana bisa mengurusnya sendiri, ia juga sibuk mengurus urusan lain. Anjani pun turun sembari menggendong anaknya yang baru berusia beberapa bulan. Anaknya itu perempuan, sesuai dengan keinginan Laila.


Laila begitu senang dan sayang kepada adik yang satu nya ini. Ia ingin mengasuh adiknya sementara ibunya pergi keliling kampung, tapi tentu Anjani tidak mengizinkan karena Rara masihlah seorang bayi.


Sedikit ada rasa semangat karena dari pekerjaannya ini Anjani bisa mendapat rupiah meski hanya beberapa ribu saja. Sembari membawa kertas dan buku pajak, ia mengetuk setiap pintu rumah warga.


"Berapa Bu pajak saya yang tahun sekarang? Masih sama kan?" Tanya salah seorang warga yang sedang Anjani tagih pajaknya.


"Dua puluh lima ribu lima ratus." Anjani memperlihatkan faktur pajaknya.


"Loh kok jadi naik? Taun kemarin cuma 15 ribu, sekarang kok jadi segini?" Ibu itu melihat tagihan pajaknya yang menunjukkan angka 25 ribu 300 rupiah, ia sedikit jengkel karena Anjani membulatkan bilangannya.


"Udah ah nanti aja sama suami saya. Saya lagi gak ada duit." Ucap ibu itu.


Dengan perasaan kecewa, Anjani pun beralih ke rumah lain. Ada yang membayar sesuai dengan yang tertera, ada yang menyicil, dan ada juga yang tidak mau membayarnya.


Kaki yang berjalan dan pundak yang menahan beban, harapan yang patah pun juga selalu mengiringinya. Namun semua terus ia kuatkan, kalau tidak maka Anjani akan menyetorkan apa kepada pemerintah nanti?


Menjelang petang Anjani pulang, tak baik jika dirinya mengajak Rara berlanglang di hari yang mulai gelap.


"Mamah, beli apa?"

__ADS_1


"Mamah gak beli apa-apa, kalian makan nasi aja ya."


Baru saja Anjani menghela nafas, Laila dan Riki merengek menagih buah tangan. Anjani ikut sedih memandang kedua anaknya yang terlihat kecewa, namun ia tak mendapatkan hasil yang cukup hari ini.


Hari-hari berikutnya Anjani terus menagih pajak bersama Rara, tanpa jeda, ia berangkat siang dan pulang sore seperti biasanya. Dirinya sudah lelah mengetuk pintu yang sama secara berulang kali. Makin ke sini malah ia yang dicaci oleh pemilik pajak.


"Kalo gak ada duit ya mau digimanain? Kalo ada mah pasti saya bayar biar gak risih didatengin mulu sama kamu!"


Anjani sudah sampai di ujung kampung, dan hatinya tersentak ketika mendapat cercaan dari orang yang ia tagih. Ia tak mengira warganya sendiri bersikap seperti itu kepada dirinya. Padahal ia datang dan bicara secara baik-baik, tapi orang itu tak tau bagaimana perasaan Anjani yang hanya bertugas ini.


Tiba waktunya untuk Anjani pulang tapi sebelum itu ia mampir ke warung membeli jajanan untuk Laila dan Riki yang tengah menunggu di rumah.


Sampai di rumah Anjani menggerutu sendiri, ia akhirnya meneteskan air mata setelah 1 minggu berkeliling kampung dengan anaknya.


"Aku kan cuma nagih pajak tapi kok gini banget sih? Kenapa aku yang disalahin? Harusnya juga mereka yang mandiri, dateng sendiri ke rumah, bukannya aku yang keliling kampung sambil bawa anak. Kalo gak mau bayar yaudah, kenapa harus aku yang repot, lagian bukan aku yang punya pajak!"


Laila tahu apa yang sedang dirasakan oleh ibunya, namun ia hanya memakan jajanan dan bersikap tidak peduli layaknya anak kecil.


Karena beberapa hari ini Anjani sudah tak terlihat lagi, dua, tiga, warga pun akhirnya berdatangan secara mandiri untuk membayar pajak mereka. Urusan pajak pun berakhir, dan awal tahun ini Anjani beserta Adwi memutuskan untuk segera membangun rumah barunya.


Sebelumnya neneknya Adwi lah yang sudah mendorong keinginan mereka, ia sempat berkunjung dan prihatin ketika melihat gubuk milik cucunya sudah nampak tak layak.


Karena hasil panen yang melimpah dan dapur sudah penuh dengan karung padi, mereka menyimpan karung yang lain di dalam rumah. Karena itu rumah panggung Adwi tak kuasa menahan beban berton-ton.


Sebagai seorang lurah, Adwi diberikan hak untuk mengelola sawah yang mana hasilnya boleh ia tuai sendiri. Selain dari sawah pemerintah, Adwi juga mendapat hasil dari penggadaiannya. Jadi, belasan karung padi kini tengah menumpuk di rumahnya.


Nenek yang memang seorang juragan merelakan kayu dan bambu di kebunnya untuk modal mereka membangun rumah. Adwi sangat berterimakasih, jika ia membeli, 1 batang pohon harganya bisa mencapai ratusan ribu.


Tapi berkat neneknya ia tak perlu mengeluarkan biaya yang pastinya mencapai jutaan itu. Semua kayu dan bambu yang ia butuhkan bisa ia dapatkan secara gratis dan bebas karena kebun milik neneknya sangatlah luas.


Mula-mula ia memanggil ayah tirinya untuk membuat kerangka beserta daun pintunya. Ia memang seorang pengrajin kayu, Adwi tak mau memanggil orang lain jika memang ada keluarga dekatnya.


Abah dan ayah kandungnya Adwi juga turut beserta pekerja lain yang tengah membuat pondasi. 3 buah kamar, 2 ruang tamu, 1 ruang TV, 1 kamar mandi, gudang, dan dapur yang luas.


Dengan bermodal uang di bank, bahan-bahan bangunan seperti batu-bata dan pasir kembali dipesan karena rumah yang akan dibangun ukurannya juga lumayan.

__ADS_1


Setiap harinya Anjani harus menyuguhkan hidangan dan beberapa kudapan serta kopi untuk para pekerja. Maka dari itu Emak juga menginap di sana dan ikut membantu. Mamih juga sempat datang sekali, setelah itu yang datang hanyalah Bapak saja.


2 minggu pun berlalu, ternyata bahan yang dibeli masih kurang dan sudah habis sebelum rumah itu selesai rapi. Karena terbatasnya bahan dan biaya, pengerjaan rumah tidak dituntaskan. Hanya tinggal mengaci dan mengecat, bagian depan dan dapur juga belum dipasang ubin, biarlah nanti mereka menyicilnya lagi saat ada rezeki.


Para pekerja sudah tak berdatangan lagi, Abah dan Emak pun sudah tak menginap lagi. Meski belum diadzani dan belum ada syukuran, tapi rumah baru itu sudah mereka tempati.


Tak ada tirai penutup jendela, furnitur pun tak ada, yang terpasang hanyalah TV tabung pemecah sunyi. Jika ditanya kemana barang-barang yang ada di rumah sebelumnya, mereka sudah tidak berfungsi. Sofa ungu yang dimiliki pun sudah koyak karena disileti oleh Laila sewaktu kecil.


"Assalamu'alaikum.."


"Tok, tok, tok..."


"Assalamu'alaikum.."


Siang itu seseorang terlihat berdiri di depan rumah panggung Anjani yang sebelumnya.


"Bu, mau ke Nyi Punduh?" Bu Elah, tetangga Anjani langsung menyapa.


"Iya, tapi kayaknya sepi. Ke mana ya?"


"Itu, sekarang mah udah pindah rumahnya ke sana."


Bu Elah menunjuk ke arah rumah rangkai yang baru berdiri itu. Lantas orang yang memang ada perlu itu langsung mendatangi rumah yang ke dua.


"Nyi, ini rumah kamu? Cepet ya udah bikin rumah aja, mana gede lagi rumahnya."


"Hehe.. Iya Bu alhamdulillah, ini juga belum selesai, belum ada biaya."


Kedatangannya ke mari hanyalah untuk membuat BPJS, tapi ibu itu penasaran dan ingin melihat setiap sudut ruangan rumah baru Anjani. Anjani pun menggiring si ibu untuk memperkenalkan rumah sederhananya ini.


Banyak yang salah mengetuk pintu, namun perlahan mereka tahu rumah Anjani yang sekarang. Rumah panggung yang sebelumnya memang tidak dirubuhkan, barangkali suatu waktu ada yang ingin membelinya.


Tapi banyak desus yang mengatakan bahwa rumah baru yang Adwi bangun adalah hasil korupsi. Padahal sama sekali tidak, dari dulu bahan sudah tersedia dan tinggal menunggu para tukang saja.


Hingga akhirnya jabatan Adwi pun sudah habis, Anjani melarang Adwi untuk ikut mencalonkan lagi. Adwi pun menurut, ia sudah merasakan sendiri bagaimana susahnya hidup sebagai lurah.

__ADS_1


Saat masih dalam naungannya, banyak warga yang mengeluh dan menuduh yang tidak-tidak kepada Adwi. Kesejahteraan kampung ini selalu saja dibanding-bandingkan dengan kampung-kampung sebelah.


Karena kelihatannya mereka ingin segera menurunkan posisi Adwi dari jabatannya Adwi pun berkecil hati dan menyerah. Saat ini ia kembali menjadi penyadap nira. Perlahan ia mulai menabung kembali dari hasil gula dan juga hasil kebunnya.


__ADS_2