
Anjani yang bangun pukul 3 pagi itu membawa hp Adwi ke kamar Laila. Ia membangunkan Laila yang kini tengah menyelam dalam di atas kasur lipatnya.
"Ila, ini bisa diilangin gak?" Ucap Anjani dengan nada lirih.
"Hah? Diilangin gimana maksudnya Mah?"
Kesadaran Laila masih belum pulih, bahkan saat melihat ponsel penglihatannya belum terlihat jelas.
"Dihapus, bisa gak?"
Laila meminta waktu sebentar, kemudian ia mengecek isi ponsel ayahnya.
"Ini pesan dari siapa Mah?"
"Mantan bapak kamu, semalem nagih utang."
Kemudian Laila menghapus pesannya, dan Anjani masih terpaku di sana melihat layar ponselnya. Karena merasa urusan sudah selesai, Laila langsung berbaring hendak melanjutkan mimpi indanya.
Tapi ia tak seacuh itu, sebelum berlayar ke pulau impian, dalam hatinya ia bertanya-tanya.
Siapa mantan Bapak? Bekas apa Bapak meminjam uang itu? Kenapa harus meminjam kepada mantannya? Dan apa yang sudah mereka bicarakan sebelumnya?
Pesan sebelumnya yang sudah terhapus menandakan bahwa ada percakapan yang sudah terjadi. Jelas bukan Anjani pelakunya, karena Anjani saja tak tahu bagaimana cara menghapus pesan itu.
Siangnya Laila baru menanyakan unek-unek yang ada di pikirannya itu. Dari Anjani ia mendapat informasi bahwa Adwi meminjam uang untuk membayar utang kepada Sang Kakek.
"Siapa namanya emang Mah?"
"Laras, kerabatnya Teh Wiwit yang suka kreditin baju."
Laila tak tahu orangnya yang mana. Anjani bilang rumahnya di dekat blok madrasah, namun Laila tetap tak tahu karena jarang keluar rumah.
Bermodalkan nama, Laila berusaha sendiri mencari siapa gerangan mantan ayahnya. Lewat akun sosial media facebook, akhirnya Laila menemukan sebuah akun yang cocok.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Laila, saat melihat foto-foto keluarga pada beranda akun tersebut. Wanita paling tua yang sudah dipastikan itu adalah mantannya Adwi, ia adalah ibu dari temannya sewaktu kecil.
"Mantan bapak kamu kenapa sih, ngerengek mulu katanya gak dibales, gak dibales, terus sekarang ngirim-ngirim video gak jelas."
Hari ke hari Anjani terus menemukan pesan dari orang yang sama. Anjani tidak menggubrisnya namun Laras masih saja mengirim semacam hal kata-kata mutiara yang mungkin ia tujukan kepada Adwi.
Karena mungkin memang wanita itu tak bisa diam jika tidak dibalas, Anjani pun membalasnya dan berpura-pura bahwa yang membalas pesan itu adalah Adwi.
Berhari-hari ia asyik dengan hp sementara Adwi yang memang selalu pergi pagi pulang petang jarang sekali bermain hp. Hingga akhirnya Anjani dikejutkan oleh sesuatu yang menurutnya sudah kelewat batas.
"A, itu mantan Aa apa maksudnya? Ngirim sms mulu, sekarang ngirim fotonya yang pake handuk doang lagi." Anjani mengadukan kelakuan Laras ke suaminya.
"Ya mana aku tau, orang tiap hari juga hp ada sama kamu. Kamu kali yang ngirim mulu sms ke dia."
"Ih nggak, tiap waktu juga dia yang sms duluan."
"Tuh kan, kalo kamu gak bales mah mana mungkin dia nge sms mulu, berarti itu kamu yang bales sms nya."
"Iya kan dia nya yang sms duluan."
'Sms, sms, itu chat Mah.. Pak..' gumam Laila tanpa mau ikut campur.
Tak lama setelah itu ...
"Iya udah dulu, nanti ketauan sama istri kamu ngambek lagi."
Menjelang pagi kembali Anjani yang baru bangun langsung mengecek hp. Ia menemukan sebuah pesan dari Laras. Padahal sudah beberapa hari ia tak bertukar pesan dengan Laras, tapi kenapa sekarang ada pesan seperti itu?
"Abis ngobrolin apa sampe dia bilang takut ketauan aku?" Anjani menginterogasi Adwi sekitar pukul 5 pagi.
"Apa? Curhat doang dia mah." Jawab Adwi.
"Curhat ke suami orang, emangnya baik? Awas aja aku datengin ke rumahnya, aku aduin ke suaminya kalo dia ngirim foto ke sini gak pake baju!" Anjani teramat sangat marah.
__ADS_1
"Datengin aja kalo gak malu mah. Awas aja, jangan gegabah kamu, malu-maluin satu kampung nanti gimana?!"
"Ya biarin, kan dia yang bakalan malu. Ngapain juga dia ngirim-ngirim foto telanjang ke sini? Dasar emak-emak kegatelan!"
Laila tak luput curiga, jelas-jelas Adwi seperti tengah membela mantannya. Bisa saja Laila menyadap percakapan yang ada di hp Adwi, tapi itu tidak terlalu penting baginya.
Karena ujung-ujungnya Anjani yang selalu disalahkan, Anjani meminta Adwi untuk tidak memedulikan apapun yang dikirimkan Laras ke nomor itu. Begitupun sebaliknya, Anjani tak akan membalas lagi pesan aneh yang nantinya datang dari Laras.
Beberapa bulan berlalu dan kala itu Anjani merasakan sesuatu yang aneh di perutnya. Ia takut penyakitnya kambuh lagi, tapi ia tak punya uang untuk memeriksanya.
Lambat laun ia merasakan hal luar biasa, seperti ada makhluk hidup di dalam perutnya. Saat ditanyakan ke posyandu ternyata ia hamil. Ibu beranak 4 itu memang sudah buncit sejak lama jadi ia tak sadar kalau memang ada bayi di perutnya.
Musim panen sudah tiba, sekarang Anjani tidak mempunyai sumber bahan pokok yang pasti. Ia tidak punya sawah dan perjanjian gadai sudah berakhir, yang ia lakukan sekarang adalah menjadi buruh di sawah mertuanya.
Entah berapa, jika menurut bidan posyandu saat ini usia kandungannya sekitar 7 bulan. Anjani tidak pernah memeriksakan kandungannya ke dokter, ia tak pernah diberi uang oleh Adwi untuk memeriksakan kandungannya.
Dalam usia kandungan yang sudah besar itu Anjani pergi ke sawah sendirian. Ia menggarap sawah mertuanya sendiri untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga.
Tak pernah terpikirkan di benak Anjani kalau ia akan menjadi buruh seperti ini. Hasil dari sawah mertua itu ia bisa mendapat 2 karung padi sehari.
"Teh, Si Aa nya ke mana atuh? Masa Teteh yang lagi hamil dibiarin kerja sendirian." Seorang bapak-bapak berdiri di pematang sawah.
"Gak ada Pak, lagi kerja." Anjani yang tengah membanting-banting batang padi itu menoleh.
Keringat terlihat bercucuran, perut sudah besar dan ia berada di bawah terik matahari pula. Bapak itu kasihan, kemudian ia turun membantu Anjani menyelesaikan pekerjaannya.
Anjani merasa tak enak, bapak ituvpasti juga sibuk dengan urusannya. Namun bapak itu tetap berkeras hati untuk membantu Anjani. Sampai akhirnya padi itu selesai dikarungi dan bapak itu juga membantu mengangkut karung padi ke atas motornya. Ia membawanya sendiri ke rumah Anjani.
Bersyukur masih ada orang baik yang peduli terhadapnya. Anjani juga pulang diantarkan menaiki motor. Padahal kemarin Anjani sendiri yang mengangkat karung padi itu ke rumah dengan berjalan kaki.
Kemarin juga Laila memarahi Anjani, kenapa Anjani yang tengah hamil besar itu mau-maunya mengangkat padi dengan jarak tempuh yang sangat jauh. Saran Laila biarkan saja padi itu di sawah dan nanti suruh Adwi untuk membawanya dengan motor.
Tapi Anjani tetap melakukannya dan membuat Laila lelah menasehatinya. Adwi selalu pulang pukul 5, kasihan jika petang begitu ia harus disuruh ke sawah untuk mengambil padi. Walaupun dengan motor, tapi pasti ia juga lelah karena baru saja pulang.
__ADS_1
Berbagai hal berat terus Anjani lakukan. Mulai dari mencuci pakaian sekeluarga yang menggunung, menjemur padi, menampi, dan sebagainya.
Laila sibuk menjaga adiknya yang paling kecil, ia tak bisa membantu pekerjaan berat apalagi menjemur dan menempi padi. Kulitnya sensitif, apalagi jika di bawah terik sinar matahari, jika dipaksakan ia bisa gatal tak tertahankan.