
Setelah Anjani sembuh, Laila mencoba kembali untuk membuka bisnisnya yang sempat mogok. Sayang, kali ini usahanya tak disambut dengan bidak kelancaran, dagangannya tak laku dan malah rugi.
Padahal hanya itu modal yang Laila punya. Ternyata persaingan sudah ketat, Laila yang sempat berhenti selama beberapa bulan itu sudah tertinggal jauh. Setiap ia hendak menjajalkan barang dagangan ke setiap kelas, semua menolak karena sebelumnya ada yang datang lebih awal dari dirinya.
Jikalau ia bergabung ke Organisasi Wirausaha, pastinya ia akan dipinjamkan modal dan Laila bisa membuka bisnis lain. Tapi sebentar lagi PKL akan diadakan dan Laila tidak akan tinggal lagi di lingkungan sekolah ini.
Laila yang tidak pandai bergaul itu tak memiliki relasi yang luas jika bukan di lingkungan sekolah. Akan sulit baginya mengumpulkan pelanggan dan mengganti modal dalam waktu yang cukup singkat.
Tiba waktunya masa PKL, Laila tidak mau merepotkan orang tua. Ia meminta kepada gurunya untuk ditempatkan di perusahaan yang dapat diempuh menggunakan angkot.
Ditempatkanlah Laila di CV Graha Khalinda, tempat para tele marketing bekerja. Suasananya ramai dan bahkan ada warung kecil di sana. Pekerjanya rata-rata wanita dan juga masih muda.
'Teteh-tetehnya pada cantik-cantik ya di sini, ada yang punya suami tapi masih tetep kerja.' Laila merasa kagum, ia tersenyum melirik ke arah sekitarnya.
Sudah 1 minggu ia membantu pekerjaan yang ada di sana. Dan pekerjaan Laila adalah menelpon, menawarkan jasa pembuatan kartu kredit kepada para nasabah.
"Hey anak baru!" Sahut seseorang yang lantas membuyarkan gumaman Laila. Ia menatap Laila sinis, kelihatannya ia yang paling tua, sekitar 27 tahun mungkin usianya.
"Laila." Ucap seseorang yang merupakan sejawatnya.
"Jangan dulu pulang kalo belum dapet 5 closingan, kemarin aja cuma dapet tiga! Harusnya tuh kamu dapet 10!" Lanjutnya lagi tanpa menghiraukan sambungan temannya.
Mungkin kakak itu menegur karena melihat Laila hanya diam saja. Padahal Laila tak henti-henti menelpon nasabah dan tadi itu ia bergumam sambil mendengarkan nada tunggu lewat earphone nya.
Setiap waktu Laila dihadapkan dengan tumpukan hvs yang tebalnya hampir 5 cm. Ia menyisir dan menelpon satu per satu daftar nomor telepon nasabah dari atas ke bawah.
__ADS_1
Bukan hal mudah, dari sekian ratus nomor yang ia telpon, ia hanya bisa mendapat paling banyak 5 orang nasabah yang itu pun belum tentu akan diterima oleh pihak pusat.
Tidak menentu, jumlah nasabah yang ia dapatkan setiap harinya naik turun. Sesekali juga Laila mendengar bahwa data nasabah yang diberikan kepadanya adalah data yang jelek, yang mana memang susah untuk mendapatkan hasilnya.
'Gimana mau dapet kalo dikasihnya aja data yang jelek? Kenapa aku harus disamain sama mereka, aku kan masih baru.'
Laila bukanlah pegawai bank, para nasabah banyak bertanya hal yang Laila sama sekali tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Meskipun sudah diajari, tapi ia butuh proses.
Hari itu Laila pulang setengah 6, di pinggir jalan ia menunggu angkot yang sama sekali tak kelihatan. Begini lah kalau sudah sore, angkot sudah pada berhenti untuk menarik muatan.
Laila bingung, ia harus pulang dengan cara apa. Terkadang masih ada elf yang lewat, namun uang yang Laila miliki kurang jika dipakai untuk naik elf.
Setiap harinya Laila hanya membawa ongkos pulang pergi. Agar tidak kelaparan, ia membawa bekal sendiri dengan lauk yang seadanya. Kadang juga Laila tidak berangkat PKL, ya, karena ia tidak mendapatkan ongkosnya.
"Sini Kakak anterin, mangkannya harus dapet banyak biar gak pulang sore lagi." Untungnya, salah satu pekerja menawarkan tumpangan motor untuknya.
Adwi baru selesai mandi setelah pulang dari pekerjaannya. Ia melihat Anjani tengah menyalakan tungku kayu di dapur sebelah, kemudian ia menghampirinya.
"Kalo lahiran suruh orang aja buat anterin kamu, aku gak bakal ikut!" Adwi berdiri di lawang pintu.
Mungkin sudah hampir bulannya anak itu lahir, Anjani yang tengah duduk hendak memasak air terlihat menengadah menyimak perkataan suaminya.
Adwi bilang, ia sibuk bekerja, kalau mengantar Anjani bersalin tentunya ia harus cuti. Uang lebih penting, kerja saja masih susah uang, apalagi tidak bekerja. Begitu pikir Adwi.
"Hiks.. Hiks.."
__ADS_1
Tanpa berkata, Anjani langsung saja menangis. Istri mana yang tidak ingin ditemani oleh suaminya saat proses persalinannya? Dalam hati, Anjani tahu, Adwi tidak menginginkan anaknya ini.
Memang, tadinya Anjani hanya cukup dengan 3 anak saja. Tapi tuhan berkata lain, dan dalam keadaan hidupnya yang susah ini, ia akan melahirkan anak ke 5.
"Nangis mulu! Jijik tau!" Umpat Adwi.
"Kenapa sih yang ada di rumah kerjaannya pada musingin mulu? Gak anak, gak emaknya, bikin gak betah tinggal di rumah!" Lanjutnya kemudian ia pergi dengan motornya.
Adwi tak habis pikir, apa saja yang dikerjakan oleh Anjani seharian ini. Keadaan rumah selalu terlihat kacau. Saat hendak beristirahat dan bahkan baru pulang kerja pun ia disuguhkan dengan tangis dan jeritan anak-anaknya.
Rara sering menangis dijahili oleh Riki, dan adik laki-laki yang paling kecil pun sangatlah rewel. Tak sehari pun suasana rumah tenang, padahal Riki sudah kelas 2 SMP, tapi kelakuannya masih seperti bocah dan masih senang bermain mobil-mobilan.
Laila yang baru pulang lewat dapur melihat Anjani duduk layu dengan isakan. Segera Laila menghampirinya, ia takut Anjani tengah memendam sakit.
"Kenapa Mah?" Tanya Laila begitu khawatir, ia sering mendengar ibunya itu mengeluh sakit di bagian perut.
"Bapak kamu, hiks.. hiks.. Katanya gak mau nganter Mamah bersalin. P-padahal, Mamah gak pernah minta apa-apa sama bapak kamu, hiks.. ditemenin aja juga udah cukup. Terus, nanti Mamah mau sama siapa ke sana?" Ucapan Anjani tersengal-sengal, ia pasti tengah menahan sakit yang amat derita.
'Kalo gak mau tanggung jawab kenapa harus bikin anak?! Aku juga udah capek ngurusnya. Sinting!'
Laila merasa kesal pada keduanya. Namun ia tahu bahwa Adwi lah orang yang paling harus ia murkai. Anjani bisa hamil pastinya karena tak pernah melanjutkan program KB, ia tak pernah punya biaya.
'Sok-sok an lagi nyuruh pergi sendiri, emang udah ada biayanya? Kalau gak ada uang gak usah *tetot* lah, maunya enaknya aja!' cetus Laila kembali.
Sepanjang masa, tak pernah Adwi mempersiapkan biaya soal persalinan. Paling-paling saat sudah harinya mereka kocar-kacir meminjam dan menambah lubang hutang.
__ADS_1
"Udah Mah, jangan ngarepin yang aneh-aneh sama orang yang kayak gitu! Mamah nanti biar Ila yang anterin, jangan nangis mulu Mah, percuma, Bapak gak akan peduli."
Dari dulu, Anjani yang tengah hamil itu tak pernah diperhatikan dan dimanjakan. Justru, ia dibuat frustasi dan dibiarkan melakukan berbagai pekerjaan berat. Sering kali Anjani mengeluh kram di perutnya, namun Anjani tetap menguatkannya.