Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Tak Mau Kalah


__ADS_3

Baru menetap 1 minggu, Adwi sudah mendapat serangan meriang. Dirinya tak terbiasa menerima cuaca yang menurutnya terlalu panas di sana. Karena tak sembuh-sembuh dan agaknya tak akan betah, Adwi pun memilih untuk pulang saja.


Melihat Adwi pulang cepat tentu Anjani merasa sedikit kecewa, Adwi ke sana bukanlah tanpa biaya. Tapi Anjani memakluminya dan dengan sabar merawat Adwi di rumah.


Dapat dilihat sendiri bagaimana belangnya kaki Adwi bekas memakai sandal jepit, sangat nampak terlihat jelas. Baru satu minggu tapi sudah begini, bagaimana dengan satu bulan, apalagi dengan satu tahun?


Unek-unek yang beberapa hari lalu Anjani pendam sekarang bisa ia tanyakan langsung kepada orangnya. Namun ia menunda sampai Adwi terlihat sembuh.


"A, itu maksudnya apa di facebook? Teh Laras sms kamu, nanyain udah sampe mana? Emang Aa ngabarin dulu ya ke dia kalau Aa mau pergi ngerantau?"


Anjani langsung mempertanyakannya. Sementara Anjani berpanjang lebar, Adwi terlihat hanya diam saja. Pikir Anjani, mungkin ia tengah bingung mencari alasan.


"Kayaknya Aa sengaja main ke rumahnya cuma buat pamitan ya? Niat banget sih A, padahal dia itu bukan siapa-siapa. Keluarga juga bukan." Desak Anjani yang pada akhirnya membuat Adwi menjawab.

__ADS_1


"Aku cuma mau ngingetin ke dia supaya dia gak nagih-nagih utang lagi. Kan kamu juga yang repot kalau nanti dia tiba-tiba nagih."


"Hm, gak usah gitu juga kali A. Makannya cepet-cepet dilunasin deh, aku gak mau Teh Laras ganggu-ganggu keluarga kita lagi!"


"Iya, ini aku juga lagi ngusahain."


Anjani pun melupakannya. Tak berselang lama, Adwi yang meminjam hp Laila. Ia hendak membuka facebook, memastikan pesan apa yang dikirim oleh Laras ke akunnya.


Tapi, sebuah pesan dari akun laki-laki lantas mengalihkan perhatiannya. Dibukanya pesan itu dan nampak percakapan singkat yang agak panjang.


Adwi sudah membaca semua isi pesannya dan langsung mempertanyakannya. Pesan itu datangnya dari mantan Anjani, Adwi tahu sendiri dari percakapan yang menanyakan tentang kabar orang tua masing-masing.


"Apaan sih A, lagian cuma ngobrol biasa. Dia kan juga udah punya istri sama anak."

__ADS_1


Anjani tidak merasa bersalah karena Adwi sendiri sering terlihat mengirim pesan ke wanita lain. Dan pesan dari sang mantan itu juga bukan Anjani yang memulai, ia hanya membalas untuk menyapa.


"Biasa, biasa, itu kamu nanyain dia sekarang kerja di mana, itu namanya biasa? Itu tuh namanya peduli! Pake do'ain semoga lancar segala lagi."


Adwi terlihat kesal namun Anjani masih merasa tidak bersalah. Adwi pun pergi dan membuat Anjani menggerutu sendiri.


"Huh! Dasar A Adwi! Padahal dia sendiri suka sembunyi-sembunyi sms an sama Teh Laras!"


Malamnya, sekitar pukul 11, Adwi pulang dan melihat Anjani sudah terlelap bersama anak-anaknya. Dibangunkannya Anjani dan ia langsung mengintimidasi Anjani dengan pertanyaan.


"Kenapa masih di sini? Bukannya mau balikan sama mantan?" Tanya Adwi yang langsung membuat Anjani sedikit tersentak.


"Kamu kenapa sih A? Yang kayak gitu masih aja diperpanjang, udah ah berisik, anak-anak lagi pada tidur."

__ADS_1


"Yaudah pindah keluar ngobrolnya."


Adwi menarik tangan Anjani untuk keluar dari kamar. Ia menggiring Anjani sampai tiba di ruang dapur. Anjani yang mendapat perlakuan seperti ini lantas merasa cemas, mungkinkah Adwi tengah bercanda? Ini tidak seperti biasanya.


__ADS_2