Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Begitu Rupanya


__ADS_3

Usai kejadian malam itu, Laila memutuskan untuk pergi mengunjungi Emak. Ia membawa banyak pakaian dan barang, sepertinya ia bukan ingin mengunjungi tapi ingin pindahan.


"Mau berapa hari kamu di sana?" Tanya Anjani melihat pakaian Laila sekantong besar.


"Yang lama ah biar gak ketemu lagi sama orang itu!" Dengus Laila tanpa mau menyebut namanya.


Bukan kali pertama Laila dikejar-kejar oleh seorang pria. Banyak yang menawarkan janji-janji harta bahkan yang terlihat terjamin ketulusannya. Tapi semua itu tak lantas membuat Laila tertarik, ia masih kuat dengan tekadnya yang akan terus menjomblo.


Gian kembali ke rumah di suatu hari, namun Laila tak nampak ada di sana. Anjani kasihan kepada Gian, ia datang jauh dari kota lain karena memang dirinya bekerja dan menetap di luar kota.


Laila betah sekali tinggal di rumah Emak, Anjani harap Laila tidak merepotkan Emak karena walau sudah besar, Laila tetap selalu dimanjakan oleh Emak.


"Ila mah hebat ya, anaknya rajin, dia gak malu jualan di kampung orang. Gak kayak bapaknya yang bisanya cuma itu aja." Ucap Emak yang kala itu mampir ke rumah Anjani setelah pulang dari pasar.


"Hah? Jualan? Jualan apa Mak? Emang Ila jualan ya?" Anjani heran, ia tidak tahu dengan Laila yang sudah sebulan ini tinggal di rumah Emak.

__ADS_1


"Masa Teteh gak tau? Laila itu jualan lauk makan, sama jajanan juga. Dia yang bikin sendiri dan rasanya itu enak, orang kampung juga pada suka." Ucap Emak terlihat sangat mendalaminya.


"Laila gak pernah bilang sama Teteh, apa mungkin sengaja dia gak bilang?" Terka Anjani yang memang tahu Laila suka menyembunyikan sesuatu.


"Iya kah? Waduh, gimana atuh Emak udah bilang sama kamu." Emak menutup mulutnya, ia terlihat panik.


"Gak papa Mak, aku pura-pura gak tau aja."


Rupanya Laila sedang berbisnis di sana, Anjani merasa bangga, ia jadi termotivasi untuk bisa berniaga seperti anak sulungnya, dirinya menyampaikan hal ini kepada Adwi untuk bisa memodalinya.


"Mau bikin donat A."


"Emang bisa?"


"Ya kan dicoba dulu, kali aja bisa."

__ADS_1


Anjani tidak memiliki kepandaian dalam membuat kue-kuean. Tapi ia ingin, ja yakin bahwa dirinya bisa dan Anjani ingin membuat donat karena baginya donat itu lucu dan dapat menarik perhatian para pelanggan.


Selesai juga Anjani membuat donat. Walau mungkin tidak sehebat donat kualitas premium, tapi yang ia buat terlihat masih layak disebut donat.


Anjani mangkal di depan SD supaya tidak capek. Kebetulan memang sedikit penjual yang dagang di sana. Anjani menggendong anak bungsunya dan ia juga mengajak si pengais bungsu yang kini tengah berjalan-jalan di area sana.


Beberapa Anak murid mendekati dagangan Anjani. Bahkan pedagang lain dan guru pun ikut penasaran. Tapi bukan penasaran tepatnya, mereka kasihan melihat Anjani yang repot dengan 2 anaknya.


'Kemana bapaknya?' tanya mereka dalam hati yang iba.


Ini kali pertama Anjani berjualan, jujur ia merasa gengsi namun tak mau kalah dengan anaknya. Jika Laila bisa kenapa Anjani tidak? Laila sudah berjuang sekeras itu, sementara Anjani selama ini selalu menunggu mendapat bantuan uang dari Laila.


Beberapa hari Anjani meneruskan jualannya dengan tekstur dan rasa donat yang masih berubah-ubah. Anjani belum pandai tapi donatnya laku-laku saja.


"Gara-gara kamu semuanya jadi ngeremehin aku."

__ADS_1


Adwi terlihat kesal, pasalnya banyak orang yang iba melihat Anjani berjualan. Ia dipandang seolah tidak dibiayai oleh Adwi, padahal Adwi juga masih memberikan Anjani nafkah.


__ADS_2