Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Meskipun Pedih


__ADS_3

Sudah hampir 6 bulan lamanya Anjani tinggal di rumah sekaligus di negara orang. Tiga bulan terakhir, Anjani sempat meminta izin kepada majikannya untuk pergi keluar menyerahkan sejumlah uang sambil mengabari keluarga-keluarganya yang ada di kampung.


Gajinya selama 2 bulan harus terpotong untuk membayar biaya-biaya keberangkatannya sewaktu di Jakarta. Namun, Nyonya Majikan sama sekali tidak mengizinkan Anjani untuk keluar dari rumahnya, ia angkat kaki sendiri untuk mengirim uang itu ke Jakarta.


Dari sini tak mengirim, dari sana pun tak tahu alamat untuk mengirim. Karena tak tenang bekerja tanpa sebuah kabar, Anjani ingin pulang. Lantas ia meminta izin untuk pulang. Namun, yang ia dapat hanyalah amarah Sang Majikan.


Dahulu, Anjani mendapatkan firasat buruk saat bekerja dan mendapati sebuah kabar yang menyatakan bahwa kekasihnya akan menikah dengan wanita lain. Tapi sekarang, firasat buruk itu tak pernah muncul lagi. Yang ia khawatirkan hanyalah kabar semua keluarganya.


Sekarang, Anjani hanya pasrah dan tidak berani lagi untuk meminta sesuatu kepada majikannya. Jika keinginannya begitu besar, Anjani bisa saja kabur dari rumah itu dan pulang ke Indonesia. Tapi dirinya tetap terus bekerja karena uang yang ia hasilkan belum dirasa cukup.


"Hey, kamu! Tunggu!"


Ketika Anjani hendak pergi meninggalkan dapur, tiba-tiba Nyonya Majikan memanggil dan menghampirinya.


"Ada apa Nyonya?" Tanya Anjani keheranan melihat Sang Majikan berjalan sambil mewaspadai keadaan sekitar.


"Sini, sini," Nyonya Majikan menggiring Anjani menuju ke kamar mandi.


"Mana coba, buka kerudung kamu, saya pengen liat rambut kamu." Ucap Sang Majikan dengan suara yang pelan.


Setiap hari Anjani selalu memakai kerudungnya. Ia tak pernah sedikitpun menampakkan sehelai rambutnya di depan keluarga itu. Hal itu mungkin membuat Nyonya Majikan merasa penasaran dan ingin melihatnya, Anjani pun langsung melepaskan kerudungnya dan membuka gelungan rambutnya.


"Yaa Allah... cantik sekali rambutmu!"


Nyonya Majikan terkejut melihat rambut panjang Anjani yang hampir selutut. Rambut hitamnya sedikit bergelombang dan terlihat sangat indah.


"Cepat, cepat, pakai kerudungmu lagi, nanti keburu ada Tuan datang." Ucap Nyonya Majikan panik.

__ADS_1


Anjani pun menggelung kembali rambutnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Nyonya majikannya itu, tapi ia dengan segera mengenakan kembali kerudungnya.


Tak sekalipun Anjani merasa akrab dengan Tuan Majikannya. Ia lebih sering berkomunikasi dengan sang Nyonya Majikan. Tapi, suatu malam, di sebuah ruangan yang pintunya terbuka, Tuan Majikan terlihat sedang menulis pada selembaran kertas. Anjani yang hendak lewat langsung dipanggil oleh Tuan Majikannya itu.


"Dek, ke sini sebentar," ucap Tuan Majikan. Meskipun Anjani adalah pembantunya, tapi ia tak pernah memanggil Anjani dengan sebutan yang kasar maupun merendahkan.


"Iya Tuan," Anjani segera menghampiri dan masuk ke dalam.


"Buatkan saya kopi hitam, dan jangan pakai gula terlalu banyak ya. Malam ini saya harus terjaga sampai larut malam." Ucap Tuan Majikan.


"Baik Tuan."


Anjani segera keluar dari ruangan itu dan menuju ke dapur untuk membuatkan segelas kopi. Anjani tak tahu betul seperti apa selera kopi tuannya itu, tapi ia tetap membuatnya dan langsung membawanya ke ruangan Tuan Majikan.


"Ini Tuan, dicoba dulu." Anjani meletakkan kopinya di atas meja.


"Pas kok," ucap Tuan Majikan setelah menyicip kopinya.


"Kamu mau menggoda suami saya ya?! Memangnya kamu tahu apa tentang kopi kesukaannya?! Biasanya suami saya selalu meminta saya yang membuatkan kopinya!"


Nyonya Majikan marah dan membuat Anjani tertunduk. Memang, baru kali ini Tuan Majikan menyuruhnya untuk membuatkan kopi. Tapi dirinya tidak salah apa-apa dan hanya menuruti perintah Tuan Majikan saja.


"Kenapa kamu diam?!"


Nyonya Majikan menjenggut kerudung Anjani tepat pada bagian rambutnya. Itu membuat Anjani kesakitan dan langsung membuat hatinya tersentak hebat.


Sudut matanya langsung mengeluarkan air mata. Anjani tak berkata apapun, ia hanya menangis tanpa membela dirinya yang tidak salah sedikitpun.

__ADS_1


Nyonya Majikan terus berusaha memaksa Anjani untuk membuat pengakuan, ia menampar pipi Anjani dengan keras sekaligus menginjak-injak jari kaki Anjani dengan sandalnya.


Anjani merasa sakit, di kepala, pipi, kaki, terutama di dadanya yang terasa sesak. Dengan satu hentakan, Anjani melepaskan tangan Nyonya Majikan dan langsung berjalan ke kamarnya dengan langkah yang cepat.


Di rumah ini, tak ada lagi seseorang yang bisa ia mintai pertolongan selain tuhannya. Anjani masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamarnya dan langsung mengambil air wudhu.


Memakai mukena dan menghamparkan sajadah, Anjani segera menunaikan ibadah shalat isya yang belum sempat ia kerjakan.


Setelah shalat, Anjani berdo'a untuk meminta perlindungan kepada tuhannya. Dalam do'anya pun Anjani tidak pernah lupa kepada semua anggota keluarga yang ia tinggalkan di tanah airnya.


Berusaha menenangkan dirinya, Anjani membuka Kitab Al-Qur'an dan membacanya dengan suara yang sendu dan keras. Gejolak emosi saat ini tengah meluap-luap di dalam hatinya.


Selama bekerja di tanah air, ia tak pernah diperlakukan seperti ini. Anjani merasa sangat kesal, tapi ia tak mampu melawan, dirinya juga tak ingin dipecat dari pekerjaannya.


Tak disangka, suara lantunan ayat suci yang berasal dari kamar Anjani sampai hingga ke telinga Nyonya Majikan yang saat ini tengah berada di dapur. Ia terkejut dan segera berlari memanggil kedua anaknya untuk mengajaknya ikut ke kamar Anjani.


"Apa yang sedang kamu lakukan?!"


Sambil memeluk kedua putrinya, dengan perasaan takut, Nyonya Majikan berdiri di tengah-tengah lawang pintu kamar Anjani.


Ayat-ayat suci terus Anjani lantunkan tanpa menghiraukan pertanyaan majikannya itu. Suaranya semakin keras, gejolak dalam hatinya semakin meluap-luap mengetahui Sang Majikan yang ia benci tengah berada di kamarnya.


Meski ragu-ragu, Nyonya Majikan masuk ke dalam bersama kedua putrinya.


"Hentikan! Kamu sedang apa?! Kamu sedang membaca guna-guna untuk saya ya?!"


Di negara itu, banyak rumor-rumor yang mengatakan bahwa orang-orang yang datang dari Indonesia memiliki semacam kekuatan jampi-jampi untuk mencelakai orang lain. Nyonya Majikan yang tahu bahwa Anjani berasal dari Indonesia merasa takut dirinya tengah berada dalam bahaya.

__ADS_1


Tapi Anjani tak terhentikan, ia sama sekali tidak menoleh dan fokus kepada kitab suci yang ada di depannya. Anjani tak habis pikir dengan majikannya ini, padahal ia hanya sedang membaca Al-Qur'an, tapi majikannya itu sama sekali tidak tahu.


Karena merasa takut berada di kamar Anjani, Nyonya Majikan dan kedua putrinya enyah dari ruangan itu. Anjani heran, apa sebenarnya agama yang dianut oleh majikannya itu? Ia tak pernah sekalipun terlihat mengerjakan ibadah yang dilakukan oleh penganut ajaran Islam, tapi terkadang ia sering mengucapkan lafal-lafal yang memuja Allah, tuhannya agama Islam.


__ADS_2