Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Hasil Kerja Keras Berdua


__ADS_3

Walaupun Adwi tahu bahwa istrinya itu baru saja pulang dan masih kelelahan, tapi ia ingin Anjani beristirahat di tempat persemayaman yang telah ia buat atas hasil dari kerja kerasnya sendiri.


Sepanjang perjalanan, Adwi membawakan koper milik Anjani. Para warga yang melihat langsung menyapa rombongan keluarga itu.


Anjani terlihat mencolok karena menggunakan gamis syar'i. Gamis itu berwarna hitam polos, ia terlihat sangat berbeda dengan penampilannya yang dulu.


Di kampung itu Anjani juga dikenal sebagai perempuan yang baik dan soleha. Dengan penampilannya yang saat ini, ia sudah terlihat seperti wanita yang sempurna. Kain panjang yang menyelimutinya, tak meluputkan indahnya postur tinggi Anjani.


"Ini, rumah yang aku buat. Semuanya dikerjain sama kerabat-kerabat kita. Abah sama Emak juga ikut ngebantuin." Ucap Adwi.


Mereka berhenti di depan sebuah rumah yang memang terlihat sederhana, jauh dari keramaian dan dekat dengan perkebunan. Hanya 2 rumah yang terlihat berada di depan dan di belakang rumah itu. Yang lainnya terhalang oleh perkebunan dan saling berjauhan.


Sama seperti rumahnya Anjani di kampung, rumah itu terbuat dari bilik bambu dan juga memiliki kolong yang ditopang oleh balok batu. Orang-orang jawa biasa menyebut rumah itu sebagai rumah panggung.


"Alhamdulillah A, sekarang kita udah punya rumah sendiri."


Anjani merasa senang, meskipun rumahnya bukan rumah gedung, tapi ia sangat mensyukurinya. Yang terpenting, dirinya dan Adwi sudah tidak menumpang lagi di rumah mertua.


Kampung Adwi yang berada di perbatasan kota itu masih menyimpan beberapa rumah dengan model yang sama. Sangat berbeda jauh dengan rumah kedua orang tua Adwi, tapi Adwi yang merupakan bagian dari keluarga itu sama sekali tidak peduli.


Begitupun sebaliknya, kedua orang tua Adwi tidak peduli dan sama sekali tidak menyumbang harta. Tanah yang Adwi tempati untuk membangun rumah adalah tanah pemberian dari neneknya.


"Yaudah, ayo masuk, kamu pasti capek,"


Melihat Anjani yang tidak mempermasalahkan rumah sederhananya, Adwi langsung mempersilahkan Anjani dan sekeluarga untuk masuk.


Kursi, TV, dan barang-barang yang lainnya sudah menghiasi bagian dalam rumah itu. Sangat terlihat nyaman, Anjani duduk di atas sofa empuk berwarna ungu.


Kini, Anjani hanya tinggal menunggu kedatangan Laila. Adwi juga sebelumnya sudah memberi tahu Emak dan Abah bahwa Anjani akan segera pulang.

__ADS_1


Anjani bersandar pada sandaran kursi, ia sangat kelelahan, mencoba mengipas pelan kerudung syar'i nya. Melihat Anjani yang bercucuran keringat, Adwi yang sigap itu langsung menyalakan kipas angin, dan membuat Anjani merasa lebih segar.


Para tetangga berdatangan ke rumah itu, Anjani yang masih kelelahan sudah diajak mengobrol banyak topik. Mereka penasaran bagaimana rasanya bekerja di luar negeri, tapi Anjani tidak banyak omong karena tidak ingin mengatakan kisah yang sebenarnya.


Siang hari, Emak dan Abah datang membawa buah hati cahaya mata Anjani. Kedatangan mereka membuat Anjani terkejut, hatinya menggebu-gebu, segera menatap serius seseorang yang tengah berada di dalam pangkuan.


Anak perempuan berambut pendek kemerah-merahan, mempunyai kulit yang putih dan terlihat cantik. Matanya hitam belo, kedua pipinya menggembung terlihat seperti akan jatuh, ia begitu sangat menggemaskan.


Segera Anjani memeluk anaknya itu, meneteskan air mata tak percaya anaknya sudah tumbuh besar. Tapi, Laila yang sudah berusia 2 tahun lebih itu malah menangis saat dipeluk oleh Anjani.


"Loh? Kenapa Nak? Ini Mama." Anjani tak mengira bahwa Laila akan menangis saat dipeluknya.


Laila tidak berkata apa-apa, ia hanya menangis dan berlari menuju pangkuan Emak. Wajar saja, mungkin Laila merasa asing dengan ibunya karena sudah lama tidak bertemu.


Anjani mencoba membujuk Laila dengan boneka barbie yang ia beli. Suara nyanyian muncul saat Anjani menekan bagian belakang boneka itu. Mendengar suara yang datang dari boneka itu, Laila pun tertarik dan berhenti menangis.


"Sini Sayang, kamu mau ini kan?" Anjani mencoba membujuk Laila untuk kembali ke pangkuannya.


Tetesan air mata mulai berjatuhan lagi, membuat para keluarga yang melihatnya juga ikut terharu. Ibu dan anak yang sudah lama terpisahkan kini bisa kembali bertemu.


"Mak, Laila udah Emak bawa berobat ke mana?" Anjani melihat kulit Laila sudah terlihat cantik lagi. Bekas luka nya pun hampir tidak terlihat.


"Abah yang ngobatin, dulu waktu pergi ke dokter sama Adwi, lukanya gak sembuh-sembuh. Daripada ngeluarin uang terus buat ke dokter, mending berobat seadanya aja di rumah." Ucap Emak.


"Abah tiap hari nyari obat buat kulit, kayak daging kelelawar, dan sejenisnya." lanjut Emak.


Anjani merasa jijik saat tahu anaknya diberi makan hewan-hewan seperti itu. Tapi Anjani bersyukur jika dengan itu Laila bisa sembuh.


Sudah sore hari, Anjani lekas mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa tidak nyaman. Dapur rumah itu beralaskan tembok semen, di sampingnya terdapat kamar mandi yang sama dengan yang ada di rumah-rumah gedung.

__ADS_1


"Anjani, semuanya, saya sama Bapak pamit ya." Mamih dan Bapak memutuskan untuk pulang.


"Maaf ya Mih, aku gak sempet beli oleh-oleh buat Mamih sama Bapak." Ucap Anjani.


"Gak papa kok, Mamih sama Bapak juga gak ngeharapin itu."


Sementara itu, Emak dan Abah akan menginap karena Laila pasti belum bisa berbaur dengan Anjani, dan mereka pun juga masih rindu dengan Anjani.


"Indri, Teteh juga gak beli apa-apa buat kamu, nanti besok kita pergi belanja ya." Anjani lupa untuk membelikan Indri juga, sewaktu di sana, ia hanya teringat kepada Laila seorang.


"Iya Teh."


Malam itu terasa sangat hangat. Tak seperti malam-malamnya saat berada di rumah majikan, selalu sunyi dalam sepi sendirian.


"Sayang, sini, Mama punya sesuatu buat kamu."


Anjani menunjukkan baju dan aksesoris yang sudah ia beli kepada anaknya. Pakaian anak bergaya barat coba ia pakaikan kepada Laila. Namun, pakaian itu terlihat kebesaran, Anjani menyimpannya untuk dipakai nanti saat Laila sudah besar.


"Kamu cantik Sayang, mirip sekali dengan papa kamu."


Anjani terus saja menyanjung-nyanjung Laila dan Indri yang ditinggal Laila saat bermain hanya bisa bengong menyimak.


"Indri, kamu mau yang mana? Ambil sini."


Aksesoris yang Anjani beli begitu banyak. Bando, kacamata, beberapa set jepit dan ikat rambut semuanya Anjani belikan untuk Laila.


Sudah pukul 8, Indri dan Laila sudah tertidur dan saling berdampingan. Emak bilang, mereka sangat akur, Indri sangat menyayangi Laila layaknya adik sendiri.


"A, uang yang aku transfer udah Aa terima kan?" Anjani baru menanyakan uang itu saat malam hari.

__ADS_1


"Udah kok, udah aku beliin kebun, jadi kita juga punya kebun sendiri. Aku juga kasih buat Emak sama Abah yang udah ngurusin Laila." Jawab Adwi.


Anjani merasa tenang uang yang ia kirim sudah dimanfaatkan dengan baik oleh Adwi. Sekarang, ia membawa pulang uang sebesar 25 juta. Rencananya, uang itu akan mereka gunakan untuk menggadaikan sawah.


__ADS_2