
Sudah 5 kali Laila diperiksa ke berbagai dokter namun hasilnya tak jauh berbeda Saat obat masih ada, ia agak membaik, namun setelah habis dirinya kembali mendapati borok yang makin menyebar.
"Mah, aku pengen ke dokter kulit, aku udah gak tahan."
Laila sama sekali tak puas dengan diperiksanya ia ke dokter murah. Dirinya hanya dilihat sekilas oleh sang dokter, dan dokter langsung memberikan obat yang hanya bisa bertahan sampai 3 hari saja.
"Iya, iya, nanti Bapak kumpulin dulu uangnya." Ucap Adwi menenangkan.
Belum diketahui pasti berapa biaya yang harus dibayarkan ke dokter kulit. Tapi melihat Laila, keadaannya sudah terlihat sangat parah. Untuk sementara, Adwi mengajak Laila ke dokter umum lagi untuk diperiksa. Kali ini Adwi memaksakan untuk memeriksa Laila ke dokter yang agak mahal.
Diberikanlah Laila obat yang tahan sampai 10 hari lamanya. Selama itu, boroknya berangsur-angsur mengering dan korengnya juga ikut terlepas. Laila merasa senang, dirinya akan segera sembuh.
Laila akhirnya sembuh, dan Adwi yang sudah lama menganggur kini memutuskan untuk pergi merantau. Ia sudah memberi Anjani bekal dan sudah siap untuk berangkat.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu ya, do'ain, semoga usaha aku di sana lancar." Ucap Adwi kepada Anjani. Ia sudah menggendong tas yang mana berisi pakaiannya sendiri.
"Iya A, aku pasti do'ain." Setelah sekian lamanya, kinj Anjani berani kembali untuk memeluk Adwi. Ia merasa berat, ia tahu bahwa tujuan Adwi hanyalah mencari nafkah. Tapi ia tak kuasa meneteskan air matanya.
Laila yang turut menyaksikan kepergian ayahnya ikut merasa sedih. Ia menangis merasa kehilangan, padahal dirinya benci kepada ayahnya karena ayahnya suka judi. Ia membiarkan Laila parah dengan penyakitnya. Hingga akhirnya bekas luka banyak tersebar dimana-mana. Jikalau diperiksa saat masih awal, mungkin tubuh Laila masih mulus seperti semula.
Kulit Laila yang semula putih sekarang terlihat kusam. Selama sakit ia jarang mandi, karena kalau mandi lukanya akan basah dan Laila sangat jijik melihatnya.
Laila mengetik pesan dan mengirimkannya pada akun facebook milik ayahnya. Adwi sekarang tak punya hp, ia sudah menjualnya. Walau begitu, tapi Laila merasa khawatir, ia merasa ingin berbincang dengan ayahnya.
Hari berubah menjadi minggu, dan sebuah panggilan tak terjawab masuk di aplikasi WhatsApp. Nomor tidak dikenal, Laila langsung tersenyum senang, mungkin ini nomor teman ayahnya di perantauan.
Kemudian ia menanyakan terlebih dahulu tentang identitas pemilik nomor. Dan benar sesuai dugaannya, itu adalah teman ayahnya. Kemudian malamnya ia sekeluarga dengan senang melakukan panggilan video bersama ayahnya.
__ADS_1
"Lagi pada ngapain?" Tanya Adwi di seberang sana.
"Ini A, lagi pada nonton TV. Aa udah makan belum?" Jawab Anjani.
"Udah kok barusan. Aku di sini belum kerja, masih dikenalin dulu."
Setengah jam Adwi bercerita pengalaman di perantauan, katanya udara di sana terasa sangat-sangat panas.
Esoknya Anjani meminjam hp Laila, ia meminjam untuk sekedar mengecek facebooknya Adwi. Ia tahu email dan juga sandinya, karena memang akun itu ia juga yang memegang.
"Udah nyampe mana?" Sebuah pesan masuk yang lantas mengejutkan Anjani datang dari Laras.
1 minggu yang lalu, sedangkan Adwi juga berangkat 1 minggu yang lalu. Maksudnya apa? Sudah sampai mana? Apakah Adwi memberitahu Laras dulu kalau ia akan berangkat?
__ADS_1