Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Dari Bawah Dahulu


__ADS_3

Rini kembali mengecek keadaaan Laila yang tengah sibuk di dapur. Bahan masakan tadi sekarang sudah berubah menjadi makanan siap santap dan sudah tertata rapi di meja makan. Rini mencicip satu per satu, memastikan masakan yang dimasak Laila.


"Gimana Teh? Enak gak? Aku bingung masaknya gimana. Hehe.."


Laila yang tengah mencuci peralatan bekas masaknya tadi menoleh melihat kedatangan Rini. Ia merasa tidak percaya diri, dirinya belum pernah masak dengan bahan yang selengkap ini, ia agak takut masakannya tak seenak yang seharusnya. Tapi, Laila sudah merasa betul menepatkan rasa masakannya.


"Enak kok." Jawab Rini membuat Laila sedikit lega.


"Kurang asin atau terlalu asin Teh?" Laila masih ragu dan ingin memastikan.


"Udah pas. Yaudah sekarang kita makan dulu, ini kamu anterin ke Mamah sama Bapak."


Rini menyisihkan 2 piring dan menyerahkannya kepada Laila. Laila pun segera mengantarkan masakan buatannya kepada Bu Yeyet dan Pak Syafiq, kemudian ia kembali ke dapur dan makan bersama Rini di sana.


"Abis ini kamu nyetrika ya, bajunya dilipet, dimasukkin ke dalem lemari." Ucap Rini di sela makan.


"Iya Teh. Tapi Teh, ngayak sekamnya kan belum beres, aku harus beresin dulu atau langsung nyetrika aja?"


"Sekam bisa besok lagi, yang penting udah cukup buat pakan ayam hari ini."


Dan Laila pun menjalankan berbagai tugas semaksimal yang ia bisa. Pukul 5, ia baru diperbolehkan pulang.


Sampai di rumah, Laila langsung merebahkan diri di lantai karena merasa sangat lelah. Dari pukul 5 pagi sampai 5 sore itu dirinya tak henti-henti disuruh ini itu, ia hanya dapat menarik nafas saat ibadah shalat dzuhur dan ashar.


"Gimana? Suka kerja di sana?" Tanya Anjani melihat Laila yang tengah terkapar.

__ADS_1


"Capek Mah, pegel punggung aku, disuruh bungkusin terigu."


"Ya iya namanya juga kerja pasti capek."


Banyak hal yang Anjani pertanyakan. Terutama upah, Anjani mempertanyakan upah namun Laila pulang tanpa menerima apa-apa.


Keesokan paginya, Laila terlihat sudah bersiap dan sudah mengganjal perutnya dari pukul setengah 5. Kemudian ia menyalami tangan kedua orang tuanya untuk segera pergi berpamitan.


"Mau berangkat lagi?" Tanya Anjani kepada Laila.


"Ya iyalah Mah, masa cuma sehari aja." Jawab Laila kemudian ia mengucapkan salam dan langsung segera berangkat.


Sekarang, satu anaknya sudah mulai bekerja. Anjani sebenarnya khawatir dan terus saja memikirkan. Apakah Laila tidak malu bekerja di toko itu? Dan lagi orang-orang pasti akan mengenalinya.


Anjani tahu betul Laila itu orangnya pendiam juga pemalu, tapi mungkin keinginannya untuk bekerja dan menghasilkan uang melebihi itu semua.


Sama seperti kemarin, mungkin Laila memang belum terbiasa. Tapi kali ini, Laila bercerita bahwa dirinya mendapat pengalaman yang tidak mengenakkan.


"Mah, tadi pagi aku kan disuruh ngupas bawang merah sama bawang putih sekilo, terus Bu Yeyet yang masak. Dia masak sayur tapi ditinggalin. Aku liat daging sama wortelnya masih aja direbus, udah lama banget tapi Bu Yeyet gak balik-balik, yaudah aku masukkin kolnya ke sana biar cepet mateng. Eh gak lama Bu Yeyet dateng terus nanya sama aku."


"Ini siapa yang nyuruh masukin kolnya ke sini?! Emang tadi saya nyuruh kamu?!"


"Terus aku jawab gak ada yang nyuruh, tapi wortelnya udah empuk."


"Terus siangnya lagi Bu Yeyet masak ayam, ditinggalin lagi. Aku gak berani ikut campur, soalnya Bu Yeyet gak titip pesan sama aku. Yaudah aku biarin sambil ngayak sekam. Eh tiba-tiba Bu Yeyet datang dan dia marah-marah sama aku karena masakannya itu bumbunya udah surut dan hampir gosong."

__ADS_1


Cerita Laila membuat Anjani jadi emosi. Ia tak terima anaknya dibentak-bentak, sedangkan dirinya sendiri tidak pernah membentak Laila.


"Kalo gak ngerasa salah lawan aja, jangan diem mulu." Titah Anjani berdecak kesal.


"Gak sopan Mah, masa aku nyolot sama yang lebih tua. Lagian aku takut gak digaji kalo ngelawan."


Laila hanya bisa bersabar karena tahu diri sebagai bawahan. Sedangkan, Anjani tahu sendiri sikap Bu Yeyet. Ia cerewet, dan memang banyak pekerja yang tidak betah tinggal di sana hingga menantunya sendiri yang dipekerjakan.


Satu bulan Laila menguatkan diri dan mulai terbiasa. Untuk kali pertama, ia mendapat amplop gajinya. Ia menerima gaji sebesar 1 juta dan sampai di rumah langsung ia berikan sebagian untuk keperluan rumah tangga.


"Ini Mah buat beli gas sama listrik." Laila memberi Anjani 100 ribu, gas dan listrik hanya 50 ribu, sisanya terserah Anjani mau diapakan.


"Udah Ila, kamu berhenti aja jangan kerja di sana, di sana kan capek, kamu mau kerja sampai kapan?"


Melihat Laila yang memberikan waktu selama setengah hari penuh, Anjani rasa ini tak sebanding dengan gaji yang diterimanya. Pekerjaan Laila bukanlah enteng, selain mengerjakan pekerjaan dapur dan rumah tangga, ia juga harus melayani pelanggan, mengangkut barang dari gudang ke toko kemudian memajangkannya.


Jika di kota, seharusnya megerjakan pekerjaan dapur saja gajinya berjuta-juta. Tapi Laila yang mengerjakan semua, malah mendapat gaji yang tidak sesuai.


Sebenarnya Laila juga merasa begitu, ia merasa tak adil. Bukan hanya 1 orang, tetapi dirinya disuruh-suruh oleh 3 orang yang membuat Laila tentu menjadi kewalahan.


Laila juga merasa jijik, setiap hari ditugaskan mengayak sekam yang mana sekam itu dipenuhi oleh banyak belatung. Laila baru menyadari hal itu segelah 3 hari bekerja. Selain itu, tiap harinya ia selalu disuruh mengepel teras gudang yang dipenuhi oleh kotoran ayam.


Pernah sekali ada seorang bapak-bapak yang bertanya kepada Laila saat Laila tengah sibuk membereskan barang di depan gudang.


"Kenapa kamu gak kuliah? Kerja di sini disuruh sama siapa?" Bapak itu iba melihat gadis kecil seperti Laila berusaha mengangkut dus-dus yang berisikan penuh di dalamnya.

__ADS_1


Laila memang memiliki tubuh yang kecil, ia berbeda dari rata-rata anak seusianya. Sering kali Laila dikira baru lulus SD, tapi Laila menerima kenyataan itu dengan lapang dada.


'Aku ini awet muda!' pikiran positif yang selalu membuat Laila percaya diri.


__ADS_2