Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Cakap Angin Saja


__ADS_3

Rumah yang kembali ditunda pengerjaannya karena keterbatasan biaya itu tak kunjung diadzani. Lagipula rumah itu sudah lama, mana mungkin Anjani baru syukuran sekarang. Dan lagi rumahnya belum selesai sepenuhnya.


Laila baru saja pulang sekolah, ia mendapati Abah dan Emak tak ada di dalam rumah. Sepertinya mereka sudah pulang, tapi kenapa tidak bilang? Hati Laila langsung kembali bersedih tatkala Anjani membenarkan dugaan Laila.


"Ila, kamu itu jangan bicara yang enggak-enggak sama Emak. Mamah sakit hati, tiap kali Emak ke sini pasti selalu aja marahin Mamah. Hiks.. Hiks.."


Anjani menangis tepat saat kedatangan Laila. Tapi Laila merasa tidak berbicara yang aneh-aneh, ia berbicara yang sejujurnya. Ia merasa kesal namun perasaan kesalnya tidak ia luapkan.


Laila hanya diam mendengarkan, dalam hati ia tak peduli melihat ibunya menangis saat ini. Dirinya juga sakit, tapi ibunya berbicara seolah ia yang paling tersakiti.


Selesai dengan ibunya, Laila masuk ke dalam kamarnya. Ia berdecak kesal, mengingat apa saja kesalahan ibunya. Satu, ibunya itu selalu telat menyiapkan sarapan pagi. Walaupun tahu Laila harus berangkat pagi sekali, tapi Anjani selalu pulang telat dari warung.


Selama ada Emak di rumah, Anjani selalu menyiapkan sarapan pagi untuk Laila. Biasanya Laila jarang makan pagi dan langsung berangkat ke sekolahnya. Bahkan hari senin yang selalu diadakan upacara itu pun Anjani tak bersiap-siap sedari dini.


Dalam hati Laila mengharap ada sebuah kalimat dari Anjani, "Makan dulu Ila, kamu kan sekolahnya lama." Namun hal itu tidak ia dapatkan di hari yang selanjutnya ini.


"Seenggaknya kalo liat aku gak makan kasih uang jajan lebih kek." Gerutu Laila di hari selasa. Dirinya tengah berjalan menuju jalan raya.


Sekarang Anjani kembali tak acuh lagi, ia tak berbuat dan membiarkan Laila berangkat dengan perut yang kosong.


Sesampainya di sekolah, Laila selalu mengajak kedua sahabatnya untuk jajan pagi. Ia tahu sarapan pagi itu penting, ia tak mau terkena penyakit magg seperti orang lain.


"Kalian pernah gak sih ngerasa sakit hati karena mamah? Kalian pikir mamah gak perhatian, itu, itu, itu, tapi mamah ngerasa kayak udah bener sendiri." Ucap Laila saat jam pulang. Ia selalu diam dahulu di lingkungan sekolah bersama kedua temannya.


"Pernah, waktu itu gak ada makanan di kulkas, Mamah sering gak masak, dia jarang di rumah dan sibuk di sekolah mulu. Aku pindah ke rumah nenek, tapi sebelum itu aku nulis di sebuah kertas, aku simpan deh di sembarang tempat." Jawab Ita.


Ibunya Ita adalah pemilik sebuah sekolah dasar, ia sibuk dengan urusannya sehingga Ita merasa tidak diperhatikan. Setelah mendapati selembar kertas berisikan curahan hati anaknya, ibunya Ita langsung menjemput Ita ke rumah neneknya.

__ADS_1


Kala itu ibunya Ita meminta maaf, dan setelah itu makanan selalu tersedia di kulkas beserta sebuah catatan manis yang menempel di pintu kulkas.


"Abis itu Ibu jadi perhatian sama aku, dia ninggalin catatan yang baru setiap harinya." Ita terlihat senang.


Laila yang mendengar hal itu lantas merasa mendapat sebuah pencerahan. Ia tidak menceritakan unek-uneknya sendiri, dirinya langsung pulang seperti biasanya.


Sore harinya Adwi pulang mendapat rezeki dan membeli 1 kilo ikan segar untuk dibakar di rumah. Mereka sekeluarga membakar ikan di luar ruangan, asap pembakaran mengepul hebat, kebetulan Anjani sudah menyapu bagian halaman samping itu dan membakar sampahnya di sana.


Esoknya, Laila dibingungkan karena pulang sekolah semua pintu rumahnya dikunci. Tidak ada seorangpun yang terlihat ada di dalam, Laila mencari-cari kunci di bawah sendal. Namun, ia tak menemukannya, lantas ia mencoba bertanya kepada Bu Elah tetangganya.


"Bu, Mamah aku ke mana ya? Ada nitipin kunci rumah gak Bu?" Tanya Laila setelah memanggil Bu Elah keluar dari dalam rumah.


"Si Mamah mah udah ke rumah sakit Nyi dari pagi juga. Adik kamu, sesak." Ucap Bu Elah mengejutkan Laila.


"Hah? Siapa Bu? Rara?"


"Iya, tapi Mamah kamu gak nitipin kunci sama Ibu. Di sini aja atuh nunggunya."


Dengan bahu yang masih menggendong ransel, Laila pergi ke rumah ibu dan bapaknya Adwi. Kakeknya Laila terlihat sibuk dengan bawahannya, ia menyuruh untuk segera mengumpulkan beberapa juta uang.


Dan malamnya sekitar pukul 7 mereka berangkat menggunakan mobil pribadi. Abah dan Emak juga sudah turut di sana. Sepanjang perjalanan, Laila terus saja menangis, mengingat adiknya yang entah bagaimana keadaannya.


*flashback on


Pagi tadi, Anjani pergi ke warung sekitar pukul 7. Ia duduk bercengkerama di depan warung sambil menggendong Rara, anaknya.


"Teh itu anaknya kenapa? Kok pucet banget?" Tanya salah seorang yang sedari tadi mengobrol bersama Anjani.

__ADS_1


Anjani baru sadar, ada sesuatu yang aneh dengan Rara. Setelah diketahui keadaannya, Rara segera dilarikan ke puskesmas terdekat. Tak ada waktu mencari Adwi, Anjani diantarkan oleh suami si pemilik warung.


Sampai di puskesmas, Rara tidak mendapat penanganan yang lengkap. Ia dirujuk ke rumah sakit yang jaraknya memerlukan waktu 1 jam untuk bisa sampai ke sana.


Dengan mobil ambulans, Anjani pergi berdua bersama Rara. Ia menitip pesan untuk segera mengabari keluarganya terutama Adwi, ia juga menyuruh Adwi untuk menjemput Riki di sekolahnya.


Dan setelah pesan dari Anjani tersampaikan, Adwi segera menyusul bersama Riki. Sampai di sana ia langsung menelpon bapaknya, ia membutuhkan dana sekian juta untuk biaya rawat inap anaknya.


*flashback off


Laila yang sudah sampai di depan pintu rawat kelas 2 langsung menyerobot masuk ke dalam. Sedari tadi ia cemas dan mulai berpikiran yang aneh-aneh, tapi untungnya saat dilihat ke dalam, keadaan adiknya terlihat baik-baik saja. Rara kini tengah terlelap dengan selang yang tersambung ke tabung oksigen.


Pagi harinya Rara sudah diperbolehkan pulang. Laila absen sekolah, ia tengah sibuk melihat hasil pemeriksaan dan juga rontgen paru-paru Rara.


Tanpa mengalihkan perhatian, ia terus berada di sisi Rara. Ia takut sesuatu akan terjadi lagi, sedari kemarin ia juga sudah khawatir karena Anjani membawa-bawa Rara yang masih kecil di tengah kepulan asap.


'Mamah gimana sih? Dia bisa gak sih ngurus anak? Masa Rara yang udah susah nafas baru ketahuan sama orang lain.'


Laila kesal dengan ibunya, mengingat Rara yang masih berumur 2 tahun, ia pastinya masihlah lemah. Laila tak ingin kehilangan Rara yang memiliki pipi bulat dan bulu mata yang cantik itu, ia adalah adik yang didambakannya.


Satu bulan setelah itu, Bapak datang dan menagih uang yang Adwi pinjam.


"Jangankan jutaan Pak, tiap hari juga uangnya pas buat kebutuhan anak-anak. Gula nya kan juga lagi gak bagus." Ucap Adwi kepada Bapak.


Semakin hari, kebutuhan rumah tangga itu semakin naik. Uang hasil gula dan juga kebun hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sudah lama juga Adwi tidak menabung, uang tabungannya di bank bahkan saat ini tak sampai hingga satu juta.


Sebenarnya Bapak merasa tidak enak menagih uangnya seperti ini, tapi Mamih selalu marah kepadanya karena takut Adwi tidak mengembalikannya.

__ADS_1


Tanpa ucap pun Adwi sudah mengerti, ia tahu Bapak datang ke sini karena Mamih. Lantas Adwi berjanji akan segera mengembalikannya, ia akan mengambil uang yang ada di tabungannya.


Karena itu saja belum cukup, keadaan mengharuskan dirinya berutang untuk menutup utang. Terbesit di pikiran Adwi untuk meminjam kepada Laras, mantan kekasihnya.


__ADS_2