
"Assalamu'alaikum,"
Ketika Anjani sedang asyik menelpon orang tuanya di kampung, 2 orang wanita datang mengucapkan salam dan nampak berada di depan rumahnya. Sebelumnya pintu depan sengaja dibukakan agar udara tidak terasa panas.
"Wa'alaikumsallam warahmatullah, bentar ya Teh," ucap Anjani kepada kedua wanita itu.
"Mak, udah dulu ya, lagi ada tamu. Nanti Teteh telpon lagi. Assalamu'alaikum." Anjani mematikan telpon.
"Teh, ayo masuk." Anjani mempersilahkan kedua wanita itu masuk. Terlihat keduanya membawa tas besar yang Anjani tidak tahu apa isinya.
"Neng, ini Teteh mau nawarin barang sama Neng, mau pesen apa bisa, mau nyicil juga bisa Neng." Salah satu wanita membuka isi tasnya.
Isinya tak lain adalah produk-produk kecantikan dan produk-produk kebutuhan rumah tangga. Ada parfum, sabun, shampo, dan yang lainnya.
"Nah, kalo yang ini baju Neng," wanita itu membuka tas yang satunya lagi.
"Ayok Neng dipilih, ini juga kayaknya cocok-cocok buat Neng. Kalo nanti dirasa kurang suka bisa dikembaliin lagi."
Baju-baju yang terbungkus oleh plastik itu dibuka dan diperlihatkan kepada Anjani. Anjani melihat-lihat beberapa gamis dan gaun, semuanya terlihat cantik dan pas panjangnya dengan tinggi badan Anjani.
"Celana laki-laki juga ada Neng, kaos, peci, buat si Aa nya mau?" Kembali wanita itu menawarkan barang-barangnya yang lain.
"Bentar Teh, aku panggilin dulu si Aa nya."
Anjani pergi menuju dapur dan menghampiri Adwi yang sedang berada di samping rumah. Adwi baru saja pulang menyadap nira dan saat ini ia tengah menjaga perapian.
"A, sini, ada yang nawarin baju bagus-bagus loh." Ucap Anjani dengan antusias.
Adwi pun ikut dengan Anjani, ia berjalan di belakang dan ikut duduk bersama. Tapi, tiba-tiba salah seorang wanita yang sedari tadi tidak berbicara, tersenyum sambil mencolek Adwi dengan tingkah genitnya.
Anjani terkejut, baru saja ia dan Adwi duduk, tapi wanita yang tidak dikenal itu sudah berani-beraninya mencolek Adwi.
"Eh! Kamu yang sopan Laras!" Wanita yang sedari tadi berbicara dengan Anjani langsung menepis tangan wanita yang ia panggil Laras.
'Laras?' Terpikir oleh Anjani nama yang ia hafal dari ibu-ibu yang ada di warung.
__ADS_1
Adwi yang dicolek oleh wanita itu hanya diam saja. Wanita yang dipanggil Laras itu tetap saja keletah, memandang Adwi dengan tatapan yang genit. Yang satunya lagi merasa tidak enak, ia meminta maaf dan memilih untuk pergi dari rumahnya Anjani.
"A, jadi itu mantan Aa ya?" Tanya Anjani setelah kedua wanita itu pergi.
"Iya, kamu liat aja sikapnya begitu. Makannya aku putusin." Ucap Adwi.
'Kok ada ya cewek yang kayak gitu? Gak ada malunya.' Anjani merasa sedikit kesal karena wanita itu telah mencolek Adwi di depan dirinya.
"Kalo yang satunya lagi orang sini A?" Tanya Anjani.
"Iya, itu Teh Wiwit."
Adwi bilang, Teh Wiwit dan Laras baru pertama kali datang ke rumahnya. Laras dan Teh Wiwit itu adalah kerabat, sepertinya Teh Wiwit baru saja memulai usahanya sebagai tukang kredit.
Anjani tidak mempermasalahkan masalah itu, ia tahu bahwa Laras lah yang salah karena telah mencoba menggoda Adwi. Tapi Anjani heran dengan selera Adwi, Laras itu terlihat gemuk dan menor, ia juga sepertinya jauh lebih tua dibanding Adwi.
Anjani tidak melanjutkan telponnya, ia mengobrol bersama Adwi sambil membantu Adwi mengisi banyak polybag kecil dengan tanah.
Polybag itu akan ditanami dengan bibit-bibit pohon kayu dan juga pohon cabai yang nantinya akan Adwi pindahkan ke kebun. Tak lupa mereka menjaga perapian agar tetap menyala.
"Innalillahi wa inna ilaihi raajiun..."
Ketika tengah mencetak gula, terdengar sebuah pengumuman orang meninggal melalui pengeras suara yang berada di masjid. Setelah mereka mendengarkan pengumumannya, ternyata orang yang meninggal itu masih satu RT dengan mereka.
"Innalillahi," Anjani turut berduka mengetahui tetangga jauhnya baru saja meninggal.
"Abis ini aku mau ngelayat, nanti kamu ngelayatnya besok aja ya sama tetangga." Ucap Adwi.
"Iya A,"
Setelah selesai mencetak gula, mereka masuk ke dalam rumah. Dari luar, terdengar suara langkah yang ramai dan obrolan orang-orang.
"Ada apa ya A? Kok rame?" Anjani merasa heran, biasanya kawasan di sekitar rumahnya selalu sepi.
"Mungkin mereka mau ngegali kuburan. Soalnya tanah di sana udah diwakafin." Ucap Adwi.
__ADS_1
Yang Adwi maksud adalah sebuah lahan kosong yang sudah terdapat pohon beringin di sana. Lahan itu berada tepat di samping lahan yang ingin mereka jadikan rumah suatu saat nanti.
"Assalamu'alaikum,"
Saat itu juga terdengar suara sahutan seorang lelaki dari luar rumah. Anjani tak berani membukakan pintu, ia menyuruh Adwi untuk membukanya.
"Wa'alaikumsallam." Ucap Adwi seraya membukakan pintu.
"Wi, ini kita mau ikut pasang listrik sebentar, mau gali kuburan." Ucap seorang bapak-bapak.
"Oh, iya Pak boleh. Sambunginnya di samping rumah aja pak, biar aku bantu."
Adwi langsung pergi ke samping rumah, bapak-bapak itu sudah sedia dengan gulungan kabel dan juga lampu neon besar berdaya tinggi.
"Nanti kalau mau copotin kabelnya matiin aja lampunya Pak, saklarnya ada disini kok." Setelah selesai, Adwi pun pergi dengan motornya tanpa pamit kembali kepada Anjani.
Seketika Anjani merasakan suasana mencekam, tapi perasaannya terasa jauh lebih tenang saat hp merah miliknya berdering memunculkan panggilan dari Abah.
"Assalamu'alaikum," ucap Anjani mengangkat telpon.
"Wa'alaikumsallam warahmatullah, Teh, lagi ngapain? Ini Emak sama Indri katanya pengen nelpon." Ucap Abah dalam telpon.
"Ini, Teteh lagi duduk. Di sana lagi pada ngapain?" Tanya Anjani.
"Sama aja Teh, lagi nonton TV." Jawab Emak, sepertinya ia mulai terbiasa mengobrol di dalam telpon.
"Laila nya mana Teh?" Terdengar suara Indri.
"Laila lagi tidur, ini Teteh lagi sama Laila."
"Kalo A Adwi kemana Teh?" Tanya Emak.
"A Adwi juga lagi tidur, kayaknya dia kecapean Mak." Anjani terpaksa berbohong. Ia tahu bahwa Adwi tidak akan pulang sehabis melayat.
Tiba-tiba Anjani merasakan suasana rumahnya kembali mencekam. Tidak ada suara obrolan orang maupun langkah kaki. Tak lama setelah itu, baru Anjani mendengar langkah kaki para pengantar jenazah yang lewat depan rumahnya.
__ADS_1
Entah hanya perasaan Anjani saja, tapi hawa seisi rumah terasa panas saat jenazah itu melewati rumahnya. Seketika Laila menangis keras dan membuat Anjani merasa takut.