Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Mengatur Sendiri


__ADS_3

"Hari ini pengeluaranku 8 ribu, aku gak boleh jajan mulu, sehari maksimal harus 5 ribu!"


Laila tengah menghitung-hitung arus keuangannya. Disisihkannya uang untuk membeli sembako di kampung, sedangkan untuk dirinya 300 ribu sebulan dan untuk membayar kosan 300 ribu sebulan.


Setiap harinya Laila hanya mengeluarkan uang untuk membeli lauk pendamping nasi. 5 ribu untuk 3 kali makan, Laila sangat berhemat, ia tak mau membelanjakan uangnya hanya untuk bersenang-senang. Ia tak perlu apa-apa lagi, dengan membantu keluarganya di kampung saja sudah cukup membuat hatinya senang.


Sebenarnya Laila merantau karena bercita-cita ingin melunasi hutang kedua orang tuanya itu kepada Laras. Ia tak mau Laras merusak hubungan kedua orang tuanya dengan berkedok menagih-nagih utang.


Perlahan Laila yang tadinya menentang hubungan kedua orang tuanya, sekarang berusaha memperbaikinya. Karena tak dapat dipungkiri, Anjani tak kan dapat Laila pisahkan dari Adwi.


"Bapak gak punya kaos panjang buat kerja? Yaudah nanti Ila beliin ya Pak yang ukuran L."

__ADS_1


Di saat penghuni kos lain sibuk menelpon pasangannya, malam itu Laila menelpon keluarganya. Lama sudah Adwi tidak keluyuran malam lagi, semenjak ia bekerja sebagai kuli, dirinya hanya bisa memanfaatkan waktu malam untuk beristirahat.


Adwi sudah tak judi lagi, Laila percaya karena sering melihatnya melalui panggilan video, Adwi memang selalu berada di dalam rumah.


"Kakak kirim mobil-mobilan!"


"Kakak, aku mau boneka!"


Banyak berbagai hal yang sudah Laila kirim ke dalam rumahnya. Alasan mengapa Laila selalu mengirim sembako/ barang daripada uang karena takut uang yang dikirim disalahgunakan. Laila masih belum percaya Anjani maupun Adwi bisa memanfaatkan uang yang dikirimnya dengan sebaik mungkin. Mengingat, mereka banyak hutang kemana-mana.


Tiba di bulan puasa, dan Laila menjalankan ibadah puasa dengan baik tanpa sendu karena tiada keluarga yang menemani. Laila tak pernah sedih jauh dari orang tuanya, justru ia senang karena bisa hidup mandiri.

__ADS_1


Musim di sana begitu terik, tidak sama seperti di kampung. Dalam musim yang terik itu Laila harus menahan lapar dan haus sambil bekerja.


Petang hari di saat pulang kerja, penjual takjil sudah berjejer dimana-mana. Laila yang tengah berjalan menuju kosan tentu tergoda dan ingin segera membelinya. Namun harga takjil mahal, bahkan lebih mahal dari lauk makan Laila setiap harinya. Laila pun mengurungkan niatnya, lagipula ada air putih di kamar kosan.


Hidup mengumpulkan uang ternyata tidak enak, semuanya dibatasi padahal kerja untuk diri sendiri. Tapi Laila tidak merasa begitu, ia bekerja untuk keluarganya.


Lebaran hampir tiba, dan Anjani yakin Laila pasti akan segera pulang. Sudah berbulan-bulan Anjani tidak melihat wujud anaknya yang paling besar itu, selama ini mereka hanya berhubungan secara virtual.


"Mau apa pulang? Ila mah mau di sini aja, gapapa orang lain pada libur juga, lagian cuma berapa hari."


Laila menolak untuk pulang, ia bilang sayang ongkosnya jika dipakai untuk pulang. Lantas Laila mau pulang kapan? Padahal sudah lama Laila bekerja di sana. Anjani merasa sedih, karena putusan Laila katanya sudahlah bulat.

__ADS_1


__ADS_2