
Bukan Laila saja yang tidak mengetahui tetangga nya, ternyata tetangga nya itu juga tidak mengenali Laila. Anjani terheran-heran, tapi mungkin wajar, semenjak lulus SD Laila tak pernah lewat jalan sini lagi.
"Ini anak aku Bu." Ucap Anjani tersenyum ramah.
"Ehh, yang perempuan itu? Udah besar ya? Pangling banget gak pernah liat. Sekarang sekolah di SMP atau di mana?" Ibu itu terkejut seolah baru menyadarinya.
Laila yang sudah lama lulus SMA itu masih saja dianggap bocah. Ia hanya bisa pasrah karena memang kenyataan tubuhnya kecil, nampak seperti yang kurang gizi.
Andai saja Laila terlahir dari orang yang berada dan peduli, ia pasti akan tumbuh normal seperti yang lainnya. Ia sadar sewaktu kecil dirinya tak disusui, diantara keluarga ini hanya diri lah yang kurus dan pendek. Ayah dan ibunya tinggi dan normal, bahkan Riki pun jauh lebih tinggi dari Laila.
Mungkin semuanya sudah ditakdirkan begini dan Laila tentu tak bisa mengubahnya. Percuma saja mengeluh dan protes, lebih baik Laila mensyukurinya.
"Cantik banget ya. Anaknya Adwi emang gak salah." Puji ibu itu mengarah kepada Laila.
__ADS_1
Beruntung, Laila yang pendek itu masih memiliki paras yang cantik. Ia tak benar-benar payah, dirinya yang lahir di tanggal cantik, 23, 03, 2003, selalu menguatkan diri dengan memberi motivasi kepada diri sendiri, mengatakan bahwa dirinya spesial dan memiliki keunggulan.
Keduanya pulang ke rumah, dengan perasaan hati Laila yang mengembang karena tadi sempat dipuji-puji. Tapi Laila berusaha menyembunyikan perasaannya, ini sudah jadi makanan sehari-harinya waktu di kampung Emak juga.
Di kampung Emak, Laila sering dipanggil bule. Entah, Laila merasa tak pantas, tapi mereka menganggap seperti itu karena Laila memiliki kulit yang putih dan rambut yang agak pirang.
"Besok jualan lagi ya Mah. Lumayan." Ucap Laila menghitung omset yang ia dapat. Masih tersisa beberapa donat, dan saat itu Laila memakannya.
"Ah, Mamah mah. Aku gak pd kalo sendirian, nanti banyak orang yang nanya di jalan." Laila merengek.
"Bapak kamu nanti marah lagi."
"Tau ah, Ila mau belanja dulu."
__ADS_1
Laila merasa kesal, ia sebenarnya melakukan ini bukan untuk dirinya semata. Justru ia ingin membantu meningkatkan kualitas ekonomi keluarga, tapi keluarganya sendiri malah terlihat menolak jalan rezeki.
"Neng, itu tadi donat buatan kamu? Ibu mau pesen buat acara ulang tahun si adek. Boleh gak Neng?"
Di jalan, ada ibu-ibu yang memanggil, ia yang sempat membeli sisa-sisa donat sewaktu Laila pulang.
"I-iya Bu. Bisa Bu, mau pesen berapa dan buat hari apa?" Ucap Laila sedikit gugup dan senang.
"Buat besok Neng. Belum siap-siap hahh.. untung aja ketemu donatnya Neng. Pesen berapa ya? Anak-anak pasti suka banget sama donat." Ibu itu berpikir lama, sementara Laila hanya bisa menunggunya.
Setelah dipikir-pikir, Si Ibu memesan 150 biji donat yang tentunya akan sedikit dipotong harga oleh Laila. Untung saja Laila baru mau berangkat, jadi ia sekalian belanja bahan untuk pesanan si ibu itu.
"Mah, tadi Bu Idah pesen donat 150 biji ke aku, buat acara ulang tahun anaknya. Uangnya udah aku terima." Ucap Laila saat sampai di rumah. Ia meletakkan belanjaannya yang terlihat banyak.
__ADS_1