Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Tour


__ADS_3

Sekarang Laila sudah berada di kelas 4 SD. Minggu depan ia akan izin sekolah karena ayahnya yang seorang lurah mendapat touring gratis se pemerintah desa. Adwi sudah mendapatkan 2 buah nomor kursi di dalam bis nanti, rencananya mereka akan pergi ke sebuah pantai.


Ke sana, Adwi hanya akan pergi bersama dengan Riki dan Laila. Sedangkan Anjani, ia tidak akan ikut, saat ini ia tengah mengandung lagi. Laila yang sering bertengkar dengan adik laki-lakinya, berharap agar adik barunya itu terlahir sebagai seorang perempuan.


Sebagai istri seorang lurah, tentunya Anjani juga diajak, 2 buah nomor kursi itu memang sudah dikhususkan untuk Adwi dan Anjani saja. Ia sangat ingin ikut, ongkos ditanggung oleh pemerintah dan ia hanya perlu membawa bekal saja.


Tapi karena kandungannya yang sudah berusia 7 bulan, ia takut jika akan terjadi apa-apa kepada anak yang berada di dalam kandungannya. Apalagi perjalanannya membutuhkan waktu berjam-jam, di dalam bis juga pastinya tidak akan terasa nyaman.


"Reva, nanti bilangin ya sama pak guru, hari selasa aku gak bakalan sekolah, aku mau pergi ke pantai sama Bapak." Ucap Laila saat sedang bermain bersama temannya.


Laila sudah merasa tidak sabar, ia belum pernah pergi ke pantai sebelumnya. Teman-temannya ada yang sudah pernah pergi, dan mereka bercerita bahwa air laut itu rasanya asin. Laila juga melihat sendiri teman-temannya itu membawa banyak kelomang sepulang dari pantai.


"Wahh, kalo gitu nanti aku nitip surat ya." Ucap Reva teman sekelasnya, ia seperti sosok sahabat sejati bagi Laila.


"Surat buat siapa?" Tanya Laila heran.


"Aku mau kirim surat buat tuhan." Reva terobsesi dengan film yang pernah ditontonnya.


"Hah? Emangnya bisa ya?"


"Ya bisa, nanti kamu hanyutin aja suratnya ke laut. Suratnya pasti sampe ke tuhan kok, aku mau minta supaya kita bisa jadi temen selamanya."


"Wahh.. aku juga mau kalo gitu, aku mau tulis surat juga." Dengan mudahnya Laila juga ikut percaya.


Sampai di rumah, Laila segera mengambil secarik kertas bersama dengan pena nya. Reva bilang ia harus menuliskan permohonannya pada surat itu. Laila tidak meminta lebih, ia hanya menginginkan hal yang sama seperti yang diinginkan oleh Reva.

__ADS_1


Laila menulis surat itu secara sembunyi-sembunyi. Ia malu karena merasa sedikit konyol dengan apa yang sedang dilakukannya. Segera Laila mengikat surat itu dengan tali dan menyembunyikannya agar tidak ketahuan.


Sebelum hari itu tiba, Adwi sering terlihat aktif berolahraga untuk mengencangkan otot-ototnya. Anjani rasa Adwi ingin menarik perhatian para wanita dengan tubuhnya. Apalagi turis, yang dikenal sebagai wanita cantik berkulit putih.


"Mm.. giliran mau ke pantai baru olahraga, biar banyak yang suka ya?" Ucap Anjani sinis, ia berbicara di depan anak-anaknya.


"Iya lah, aku kan mau foto-foto di sana. Harus keliatan atletis." Ucap Adwi yang sedang menarik karet fitnes dengan tangannya.


Sesekali Adwi berbicara layaknya seseorang yang hendak mencari wanita lagi. Laila dan Riki hanya diam saja. Laila sudah tahu dan mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orang tuanya itu, tetapi Laila tidak ikut campur, lagi pula ia sama sekali tidak memedulikannya.


"Mah, nanti aku mau bawa pasir se keresek ya, sama air laut juga." Ucap Laila meminta yang aneh-aneh.


"Buat apa Ila? Nanti sopir bus nya marah kalo Ila bawa itu." Anjani mencoba melarangnya.


"Mereka kan perginya nggak naik bus, kalo naik bus gak boleh bawa itu, nanti Ila nya ditinggal di sana mau?"


Perjalanan gratis, maka ia tidak bisa mengambil barang bawaan yang banyak, begitu pikir Laila. Ia merasa kecewa, tapi ia akan tetap berniat setidaknya membawa pasir meskipun hanya segenggam. Ia juga tak sabar ingin melihat kelomang-kelomang yang berjalan di bibir pantai seperti yang diceritakan oleh teman-temannya.


Hingga tiba lah hari dimana mereka akan berangkat. Sore hari, sekitar pukul 4, mereka sudah berangkat menuju desa menggunakan ojeg. Anjani sudah ditemani oleh Emak agar ia merasa aman.


Di depan balai desa, mereka sudah melihat beberapa rombongan bus besar yang terparkir. Semua perangkat desa yang sudah terdaftar untuk ikut segera di cek kehadirannya.


Laila sudah siaga, ia sama sekali tidak memakai atau membawa baju maupun kain sejenisnya yang berwarna hijau. Karena sudah tahu bagaimana kisahnya, ia takut diculik oleh Nyi Roro Kidul.


Setelah semuanya terlihat hadir dan tidak ada yang kurang sedikitpun, mereka dipersilahkan untuk naik dan menempati tempat duduk yang sesuai dengan nomor kursi masing-masing.

__ADS_1


Laila duduk di dekat jendela, ia bilang, ia ingin melihat pemandangan jalanan. Ini adalah kali pertamanya menaiki bus.


Mesin berderu dan bus pun mulai bergetar. AC di atas menyala, Adwi menutup AC nya karena memang udara sedang terasa dingin.


Bis pun melaju perlahan dan mulai berjalan dalam kecepatan normal. Sepanjang perjalanan Laila terus mengintip dari balik jendela. Riki juga merasa penasaran, ia ingin melihat tetapi Laila segera menepisnya.


Laila yang duduk bersebelahan dengan Riki itu sama sekali tidak mau bersentuhan dengannya. Bahkan ia menaruh sebuah tas sebagai sekat antara dirinya degan Riki.


Adwi segera melerai, di rumah, Laila dan Riki memang seperti kucing dan anjing. Selalu bertengkar karena sebab hal sepele. Ia pun menyuruh Riki untuk mengalah. Ia berkata, pulang nanti adalah giliran Riki untuk duduk di dekat jendela.


Malamnya mereka berhenti sebentar untuk menjamak shalat maghrib dengan shalat isya. Mereka juga dipersilahkan beristirahat sejenak membeli makanan dan minuman ringan maupun sejenisnya.


Setelah turun dari bis, Laila merasa sedikit pusing. Suara kendaraan terasa terus berdengung di kepalanya. Tapi ia masih kuat dan tetap ikut ke mesjid. Sebelum kembali ke dalam bis, mereka pergi ke toilet dahulu karena bis tidak akan seenaknya berhenti begitu saja saat ada yang ingin buang air.


Di dalam bis, mereka menyantap bekal yang sudah dibawa dari rumah. Lauknya adalah ayam goreng krispi, Adwi membelinya sore tadi sesaat sebelum mereka berangkat.


Tetapi Laila enggan untuk makan, ia rasa ayamnya itu bau, mungkin karena lama didiamkan dan mendapat udara pengap. Akhirnya Adwi pun membelikan roti untuk Laila.


"Pak, masih jauh ya pantainya?"


Kembali mereka melanjutkan perjalanan. Laila sudah merasa bosan, di malam hari ia tak bisa melihat jelas pemandangan dari jendela.


"Iya, kamu tidur aja dulu. Udah, tutup tirainya, jangan liatin terus ke jendela, nanti kamu malah pusing." Titah Adwi yang juga merasa pusing meskipun ia tidak melihat terus ke arah jendela.


Sudah berjam-jam lamanya mereka di perjalanan. Laila pun mengambil posisi untuk tidur, ia bersandar pada sandaran kursi. Kakinya ia angkat karena terasa dingin. Tidak lupa ia mewaspadai Riki agar tubuhnya tidak bersentuhan dengannya.

__ADS_1


__ADS_2