
"Ila, kamu kenapa?"
Berada di ruang kelas dan pelajaran Akuntansi Bisnis tengah berlangsung. Ibu Eva yang merupakan pengajar sekaligus wali kelas, melihat Laila hanya termenung. Ia tidak bergerak sedikitpun dan tatapannya terlihat kosong.
Mendapat pertanyaan dari Bu Guru, bukannya menjawab, Laila malah meneteskan air matanya. Ia langsung berusaha menyeka air matanya yang sama sekali tidak mau berhenti untuk keluar.
"Ila kok kamu nangis?" Tanya Bu Eva lagi yang kemudian berjalan menghampiri Laila.
"Gak kenapa-napa kok Bu, aku baik-baik aja." Ucap Laila tak mau memperpanjang suasana.
Semua pandangan langsung tertuju kepada Laila, sementara Bu Eva meninta Laila untuk ikut keluar bersamanya. Laila pun ikut, ia duduk di depan kelas berdua dengan Bu Eva.
"Kamu kenapa Ila? Ada masalah apa? Ibu liat makin ke sini nilai kamu makin jelek loh, padahal kamu anaknya pinter, sebelum-sebelumnya juga prestasi kamu bagus, tapi kok sekarang jadi gini?" Tanya Bu Eva menginterogasi anak muridnya.
Laila adalah salah satu murid yang pandai, walau pendiam dan tak banyak aktif, tapi ia adalah murid yang cerdas, dirinya selalu mendapat peringkat kelas. Namun semenjak di kelas 11, prestasi Laila kian menurun, ia juga sering bolos sekolah tanpa keterangan.
"Aku kasian sama Mamah Bu, hiks.. Hiks.. Bapak jarang ngasih nafkah buat keluarga, dia malah main gak jelas, sedangkan adik-adik aku juga banyak." Jelas Laila kepada intinya.
Setelah kejadian malam itu, sampai sekarang sikap Adwi tidak berubah. Ia masih sering berjudi dan membuat keluarganya tertelantarkan. Anjani selalu menganggap setiap hal dengan kata wajar, mungkin karena ia ingin mempertahankan rumah tangganya.
Bukannya Anjani yang tersakiti, Laila yang merasa perih melihat sikap sok tegar ibunya itu. Laila yakin, Anjani pasti ingin hidup bahagia dengan suami yang memiliki sikap tanggung jawab.
"Kalo gitu kamu harus berbisnis biar bisa bantu mamah kamu." Ucap Bu Eva dengan entengnya.
'Kalo aku usaha ntar Bapak yang keenakan dan makin gak sadar diri.' Batin Laila merasa kesal.
Laila tak mau seperti dulu, membiayai biaya sekolahnya sendiri. Dan lagi sekarang, Bu Eva seolah menyuruh Laila menjadi tulang punggung keluarga. Tentu bukan tugas Laila, itu bukanlah kewajibannya.
__ADS_1
"Iya Bu."
Tanpa ada niat berbisnis, Laila mengiyakan agar cepat mengakhiri percakapan ini. Baginya, percakapan ini hanya buang-buang waktu, karena Bu Eva sekalipun tidak mengerti apa yang sebenarnya Laila rasakan.
Waktu ke waktu, tetap tak ada perubahan signifikan yang positif dari Laila, keadaan keluarga membuat Laila semakin pusing. Dan Laila sekarang terlihat lebih banyak melamun.
Bahkan saat Anjani menitipkan anak bungsunya untuk pergi ke warung, Laila malah hanya terduduk diam sambil menangis. Adik bungsunya ditelantarkan dan sejak saat itu Anjani tak mau menitipkan lagi anaknya untuk diasuh Laila.
Hingga 2 tahun pun berlalu dan Laila sudah lulus sekolah kejuruan.
"Mah, aku pengen kerja di sini, daftarnya lewat sekolah, jadi kemungkinan besar aku pasti keterima. Biaya sama ongkosnya 600 ribu."
Laila menunjukkan sebuah lowongan dari PT di layar ponselnya. PT itu merupakan pabrik tekstil dan Laila sangat tertarik dengan hal itu, ia sangat ingin bekerja di sana apalagi di bagian jahit-menjahit.
"Kerja mah gak usah jauh-jauh, tuh di toko Bu Yeyet, dia lagi ngebutuhin pekerja." Ucap Adwi.
Dipikir-pikir lagi, memang tak mungkin orang tuanya akan dengan mudah memodalinya untuk pergi bekerja di PT. Laila pikir, ia harus mengumpulkan uang terlebih dahulu agar bisa berangkat sendiri.
Mendengar perkataan Laila, Anjani dan Adwi merasa tidak percaya. Tapi Laila terus saja bilang iya dan kemudian Adwi menyampaikan hal ini kepada Bu Yeyet. Ia bilang hari esok langsung saja datang ke toko.
Keesokan harinya, Laila pun langsung berangkat ke Toko Bu Yeyet berharap dirinya akan diterima.
"Assalamu'alaikum.." Laila masuk seraya mengucapkan salam, ia melihat suami Bu Yeyet tengah duduk di meja kasir.
"Wa'alaikumsallam warahmatullah." Jawab suami Bu Yeyet, Pak Syafiq namanya.
Laila mengulurkan tangan, menekuk wajahnya di atas punggung tangan Pak Syafiq.
__ADS_1
"Pak, kata Si Bapak di sini lagi ngebutuhin pekerja ya?" Tanya Laila baik-baik.
"Oh iya Neng, Neng putrinya Adwi ya? Langsung aja Neng ke dapur, beres-beres, cuciin piring sama gelas." Titah Pak Syafiq menunjukkan arah dapur.
Laila mengangguk senang, kemudian ia berjalan ke belakang menuju dapur. Ia menggantungkan tas selempang yang ia bawa kemudian langsung membereskan dapur yang berantakan. Tak lama, seorang wanita yang merupakan menantu Pak Syafiq datang ke dapur.
"Loh? Pekerja baru Neng?" Tanya Rini, melihat Laila. Sebenarnya ia juga seorang pekerja di sini.
"Iya Teh." Jawab Laila yang tengah mencuci piring.
"Tadi dateng jam berapa?"
"Jam 6 Teh."
"Besok datengnya harus pagi, jam 5, soalnya masak nasi."
"Ohh, iya Teh, tadi aku sarapan dulu jadi ke sini nya agak siang. Besok sarapannya lebih pagian deh Teh hehe..."
"Bagus kalo gitu."
Rini melenggang pergi. Laila merasa agak canggung saat berbicara dengan Rini tadi. Nada bicara Rini nampak dingin, tapi Laila segera mengenyahkan pikiran buruknya, ini baru kali pertama dirinya mengobrol bersama Rini.
Beres dengan urusan dapur, Laila disuruh mengayak sekam padi. Katanya itu untuk pakan ayam, Laila mengayak sekam setengah karung besar.
"Neng, itu bahan masakan udah ada di dapur, kamu tinggal masak aja. Bisa kan?" Rini datang menghampiri Laila.
"Masak juga Teh? Bisa Teh, tapi takut gak enak." Jawab Laila masih mengayak sekam.
__ADS_1
"Alah, masak mah sama aja kayak gitu. Udah sekarang kamu masak dulu, jam 9 harus udah selesai soalnya."
Laila pun kembali ke dapur ditemani Rini. Sayur-sayuran, ikan tongkol, dan juga telur adalah bahan masakannya. Rini menyuruh Laila memasakkan menu yang dimintanya.