
Minggu pagi, Anjani mengajak Laila pergi ke pasar. Entah dapat rezeki dari mana dirinya mengizinkan Laila untuk membeli apa yang diinginkannya.
Tujuan Laila adalah membeli tas, ia memilih tas kecil berbahan denim, tas itu terlihat sangat cocok dengan tubuhnya yang mungil, untuk tas sekecil itu harganya juga lumayan mahal. Ini sebuah kesempatan, jika Anjani yang memilih, pasti Laila tidak akan suka dengan bahan dan modelnya.
Kemudian Laila berjalan memimpin menuju sebuah toko kerudung bermerek. Ia memilih kerudung putih dan cokelat dengan ukuran yang pas sambil mencobanya di tempat. Dalam hati, Anjani ingin berkata, untuk apa kerudung baru? Padahal yang dulu juga masih besar ukurannya.
Namun karena yang ia pakai adalah uang Laila, ia pun menuruti apa maunya Laila. Harga 1 buah kerudung itu jauh 3x lipat dari kerudung yang sebelumnya Anjani berikan. Selera Laila memang sangatlah tinggi, tak bercermin dengan keadaan ekonomi mereka yang seadanya.
Kehidupan Laila di sekolah menjadi lebih baik. Ia semakin percaya diri dan perlahan lawan jenis juga mulai mendekatinya. Di balik nyamannya Laila yang melanjutkan jenjang sekolah, ada Rika yang sudah 1 tahun ini bekerja di luar kota sebagai seorang asisten rumah tangga.
"Pak, aku pengen dibeliin motor, aku udah bisa bawa motor kok, aku udah belajar pake motor temen."
Awal tahun baru, Rika datang ke rumah Adwi. Sudah 2 bulan ia tidak kembali ke kota, dan dengan lantangnya ia meminta dibelikan sebuah motor. Namun tentu Adwi tidak mengabulkan permintaannya itu, ia berkata baik-baik mencoba membuat Rika mengerti.
"Yahh, uang dari mana sebanyak itu Ika? Motor kan mahal harganya."
Ucapan Adwi tentu membuat Rika kecewa. Rika sadar diri, ia sudah tahu bahwa dirinya adalah anak yang terlahir dari perkawinan yang tidak sah. Dipandangnya seseorang yang tengah Anjani gendong. Anak laki-laki yang baru berusia beberapa bulan, ternyata Anjani sudah mempunyai keturunan lagi.
Keluarga ini sudah bahagia, dan Rika hanyalah apa? Memang tak pantas ia meminta kepada orang yang sudah tenteram bersama keluarganya sendiri. Rika harus berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Bi, aku pengen ngerasain rasanya dimanja sama ayah sendiri.. Hiks.. Hiks.." Dalam perjalanan pulang, Rika menangis tersedu-sedu. Sejak lahir, ia tak pernah mendapatkan apa yang harusnya didapatkan oleh seorang anak.
Usai kedatangannya itu Rika tak nampak muncul kembali. Laila sebentar lagi akan masuk SMK, Adwi meminjam uang ke bank membeli sebuah motor matic untuk Laila, namun Laila menolak karena takut mengendarai motor.
"Buat Riki aja, Riki kan sekolahnya juga jauh, ke SMP." Ucap Anjani.
__ADS_1
Anjani hendak mendaftarkan Riki ke SMP, padahal Laila menyarankan agar Riki masuk ke MTs seperti dirinya. Di MTs banyak diajarkan pelajaran agama, Laila ingin Riki yang tidak pandai agama itu belajar mengenai agama.
Namun Anjani tetap bersikeras mendaftarkan Riki ke SMP, ia kasihan dengan Riki, katanya di MTs terlalu benyak pelajaran dan bisa-bisa nanti Riki kewalahan.
Pada akhirnya, Riki diterima di SMP dan Laila melanjutkan pendidikannya ke SMK. Riki sudah berangkat dengan motornya, setiap hari Riki memang selalu berangkat menggunakan motor.
Sebenarnya Laila khawatir membiarkan Riki yang masih di bawah umur itu membawa motor sendiri, dan dipikir lagi ia akan lebih hemat jika naik angkot saja. Ongkos pulang pergi hanya 2 ribu, dan kalau naik motor harus bermodal bensin juga membayar parkir sebesar 2 ribu.
"Mah, aku mau berangkat." Giliran Laila berangkat, ia menadahkan tangannya untuk pamit sambil meminta uang jajannya.
"Gak ada buat ongkosnya juga, bapak kamu gak ninggalin uang." Ucap Anjani.
"Masa gak ada 2 ribu Mah?"
"Nggak ada, Riki aja bawa uang jajannya pas-pasan."
"Sel, sekarang aku gak sekolah lagi, tolong izinin ya. Izinin apa aja, bilang aku sakit juga gapapa kok. Aku gak ada ongkos soalnya."
Di kamarnya, Laila menangis sambil mengirim pesan kepada Seli, teman sekelasnya. Sudah berapa kali hal ini terjadi, jika saja jarak sekolah dekat, pasti Laila sudah berjalan kaki.
*tring!*
"Kenapa Ila? Ayok sekolah, biar aku ongkosin, kamu tunggu di pinggir jalan ya, aku juga baru mau berangkat."
Seli membalas pesan Laila. Ia sering pulang pergi naik angkot bersama Laila, walau berbeda kampung, arah rumah mereka berada dalam jalur yang sama.
__ADS_1
"Gak usah Sel, aku lagi gak pengen sekolah." Balas Laila lagi.
Sebenarnya Laila berbohong, ia sangat ingin pergi ke sekolah walaupun hanya bermodal ongkos. Ada banyak tawaran dari teman lawan jenisnya yang memakai motor, namun Laila tak sedikitpun menanggapinya.
Laila melepas kembali seragamnya, ia sedikit was-was karena selalu ketinggalan pelajaran. Walau tak mendapatkan ajaran secara langsung, tapi Laila selalu meminjam buku temannya untuk mencatat pelajaran yang tertinggal.
Pukul 1 siang Riki kembali pulang, ia melempar tas dan kaus kaki di sembarang tempat, lalu ia memanggil Anjani yang tengah berada di dalam kamar.
"Mah, tuh ada PR! Besok harus udah dikumpulin!" Ucap Riki dengan entengnya. Lalu ia pergi ke luar setelah mengganti seragamnya.
Anjani yang tengah menyusui anaknya itu langsung menghampiri tas milik Riki. Ia membuka lembaran demi lembaran buku LKS dan catatan Riki. Namun Anjani yang hanya lulusan SD tidak begitu mengerti dengan pelajaran yang Riki punya.
"Ila, ini jawabannya apa? Kamu ngerti gak?" Teriak Anjani membuat Laila keluar dari kamarnya.
"Apa sih Mah? Kalo gak ngerti gak usah dikerjain! Emang siapa yang sekolah? Riki atau Mamah? Kenapa Mamah yang harus ngerjain? Sedangkan Riki? Kemana dia?"
Melihat Anjani yang tengah beradu dengan kumpulan buku membuat Laila merasa geram. Setiap saat selalu saja Riki menyerahkan tugasnya itu kepada Anjani, dan Anjani patuh-patuh saja, ia selalu mengerjakan pekerjaan rumahnya Riki walaupun sibuk mengurus anak.
Laila tentu tak sudi membantu ibunya, sudah berapa kali Laila mencoba menasehati Anjani agar membiarkan Riki mengerjakannya secara mandiri. Jika tak mengerti, lebih baik Riki diajarkan, bukannya Anjani yang mengerjakannya.
Namun Anjani tetap saja melakukan hal itu dan membiarkan anak bungsunya menangis. Laila merasa kasihan dengan adik kecilnya yang diabaikan, namun jika ia mengasuh adiknya itu bisa-bisa Anjani malah keenakan mengerjakan perkerjaan rumah milik Riki.
Semakin hari hal itu terus saja terjadi, Laila tak bisa menahan emosinya dan ia sempat memarahi Riki. Karena tak menuaikan hasil, Laila mencoba menelpon wali kelasnya Riki dan mengadukan perilaku Riki.
"H-halo Bu, Assalamu'alaikum, maaf mengganggu, ini saya kakaknya Riki. Riki di rumahnya gak pernah ngerjain tugas Bu, selalu aja mamahnya yang disuruh ngerjain. Tolong dibantu ya Bu, soalnya kalau di rumah anaknya gak bisa dibilangin."
__ADS_1
Saat menelpon, Laila refleks meneteskan air matanya. Ada rasa sakit di hatinya, sakit melihat Anjani yang terus diperbudak, sakit melihat adik bungsunya yang menangis saat Anjani abaikan, dan sakit melihat Riki yang terlihat tidak bersungguh-sungguh dalam belajar.