Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Nasib Menjadi Kakak


__ADS_3

Celengan bambu yang sudah hampir satu tahun itu kini Laila buka. Celengan itu bentuknya mirip dengan kentongan, ia membukanya karena isinya sudah sesak dan penuh.


Semua isi yang keluar nampak uang pecahan 500. Laila selalu menukarkan uang lembar miliknya menjadi uang receh, ia takut uang lembar akan rusak jika dimasukkan ke dalam celengan bambu apalagi disimpan dalam waktu yang lama.


Setelah hitung-menghitung, ternyata uang yang didapatkan Laila sebesar 300 ribu lebih. Walau tidak terlalu banyak tapi Laila merasa senang, rencananya ia akan menggunakan uang itu untuk membeli tas sekolah baru dan juga celengan plastik besar yang dapat menampung lebih dari ini.


Uang itu ia bungkus dalam tas keresek, kemudian ia berikan kepada Adwi untuk ditukarkan ke pecahan kertas. Namun, Adwi malah bicara ingin meminjam uang yang Laila kumpulkan itu untuk membayar utang kepada orang tuanya.


"Yaudah deh gapapa Pak, pake aja."


Karena Adwi sudah berjanji untuk menggantinya, dengan ikhlas Laila merelakannya. Ia hanya meminta 5 ribu untuk membeli jarum dan benang, strap bahu tasnya yang sudah usang dan sudah beberapa kali copot sekarang ia jahit kembali.


Itu adalah tas bawaannya dari SD, Laila tak membeli tas baru saat ajaran baru. Alasannya tak lain karena uang. Kini buku yang dibawa Laila di tas hitam miliknya itu sudah bisa diterawang dari luar.


Sejak dulu Laila ingin membeli tas baru, yang cantik, dan yang ia inginkan. Bukan tas murah seperti ini, yang gampang rusak seperti perkiraannya.


Naik ke kelas 2, Laila tetap memakai tas hitamnya. Semakin hari, ia menjadi bahan celotehan teman-temannya, termasuk sahabatnya yang satu lagi, Rina.


"La, kamu jangan kasih tau ke siapa-siapa ya, apalagi ke Rina." Ucap Ita pada pesan facebook. Kala itu facebook sedang jamannya, dan nama facebook Laila adalah Laila Thea.


"Iya, ada apa emangnya Ta?" Jawab Laila.


Lalu Ita memberitahu bahwa Rina sering membicarakan Laila di belakang. Ia berbicara hal buruk, ia bilang Laila itu anaknya suka pamer, dan urusan cinta Rina yakin tidak ada seorang pria pun yang pernah mendekatinya, alias tak laku.

__ADS_1


Laila sadar, mungkin ia memang terlalu congkak. Sewaktu kelas 1, hp miliknya adalah yang paling bagus satu kelas. Layar sentuh berlayar lebar, dan merknya juga terkenal, yaitu Samsung.


Laila juga membenarkan perkataan Rina, seumur hidup ia memang tidak pernah mendengar seorang laki-laki mengajaknya untuk berpacaran. Sedangkan Rina, akhir-akhir ini selalu pergi bermain dengan laki-laki yang berbeda. Terkadang ia berangkat dan pulang diantarkan oleh laki-laki yang masih berseragam pula.


Mungkin hal itu terjadi semenjak Rina sudah mempunyai hp, ia sering membawanya ke sekolah secara sembunyi-sembunyi. Padahal, hp itu masih berbagi dengan kakaknya, mereknya juga sama seperti milik Laila, layarnya sentuh tapi masih terpasang keyboard pijat.


Laila sama sekali tidak marah kepada Rina, ia tetap bersahabat seperti Laila tak pernah melihat apa yang dikatakan Ita pada pesannya itu.


"Emang udah wajar bukan kalau seseorang mempunyai pendapat tentang kamu?" Begitu pikir Laila.


***


Tak jauh dari hari itu, Laila kembali menagih uang celengannya.


Ia ingin mengubah penampilan, ia sadar, dirinya yang memakai ransel koyak, dan kerudung gombrang se paha terlihat sangatlah culun. Mungkin ini yang membuat orang-orang tidak tertarik kepadanya.


"Lauk makan aja susah Ila, apalagi buat bayar hutang. Bapak kamu aja dulu sekolah gak pernah pake tas, pakenya kantong keresek. Lagian buat apa lagi beli kerudung banyak-banyak?"


Jawaban Anjani membuat Laila bersedih. Jaman sudah modern, peraturan sudah cukup tegas. Tak ada lagi mirid yang berani memakai pakaian maupun atribut yang tidak sesuai.


Laila hanya masuk ke kamarnya, di dalam sana ia menangis, kini strap bahu tas sebelah kirinya juga ikut sobek. Laila menjahitnya kembali dengan tangannya. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia menggunting-gunting kain tak terpakai dan membuatnya menjadi kerajinan bunga.


Tak berselang lama, Riki yang sudah berada di kelas 6 itu dibelikan sebuah tas baru. Bukan tas dibawah 50 ribuan yang Anjani selalu belikan untuk Laila, tetapi tas yang kualitasnya bagus dan juga awet. Padahal tas yang Riki punya sebelumnya juga masih bagus, hanya saja gagang resleting kantong utamanya copot.

__ADS_1


"Mamah udah punya uang? Kapan punya aku dikembaliin? Aku juga pengen beli tas." Ucap Laila menagih kembali uang miliknya.


"Nggak ada, itu juga maksain karena Riki nangis mulu." Jawab Anjani.


Perlahan mata Laila berkaca-kaca. Sudah berapa kali ia meminta tapi selalu mendapat hasil yang mengecewakan.


"Bapak bohong ya? Gak bakal balikin uang Ila?" Laila merasa telah dibohongi.


"Kamu kenapa sih? Emang selama ini yang ngebiayain kamu dari lahir itu siapa? Kok uang segitu aja dianggap hutang? Bayangin, udah berapa ratus juta Bapak sama Mamah ngeluarin biaya buat kamu dari kecil sampe sekarang. Emang Mamah sama Bapak pernah nagih ke kamu uang yang sudah kami keluarkan? Kamu bakalan sanggup gak kalo disuruh gantiin semuanya?!" Anjani tersulut emosi karena Laila sudah sangat sering menanyakan soal uang celengannya.


Laila yang mendengar itu hanya duduk diam sampai Anjani selesai, "Yaudah Ila ikhlasin." ia berbalik, kemudian air mata yang semula ia tahan tak terbendung lagi. Laila menadahkan kedua tangannya, berupaya supaya air matanya tidak menetes ke lantai sebelum sampai di kamar.


Di dalam kamar, dadanya terasa sangat sesak. Sakit, sakit hati yang dialaminya tidak bisa ia bagi kepada siapa yang ada di sana. Riki pasti sengaja mencopot gagang resleting tasnya, padahal walaupun tanpa gagang, tas itu masih tetap bisa dipakai.


Laila melihat sebuah buku dan menyobek selembar kertas, ia menuliskan isi hatinya di atas kertas diikuti tetesan air mata yang tidak terhentikan.


Tertulis:


Kenapa sih Mamah lebih merhatiin Riki? Apa aku kurang baik? Atau aku jelek? Pantas saja Rina sahabatku juga mencibirku di belakang. Anak seperti aku memang tak layak untuk hidup, tapi kenapa aku dilahirkan? Rasanya aku ingin mati saja, aku ingin mati tapi tak tau bagaimana caranya. Sesekali terpikir diriku untuk bunuh diri, tapi aku tau itu dosa, aku tak ingin berakhir di neraka Ya Allah. Kalau saja aku diberikan suatu penyakit, aku ingin sekali melihat sikap perhatian Mamah kepadaku, tapi kenapa kau tidak pernah menurunkan suatu penyakit pun kepadaku? Sedangkan Riki, setiap ia meminta sesuatu pasti ia selalu sakit jika tidak diturutkan. Aku lelah terus saja membandingkan diriku dengan Riki. Kenapa Riki yang bodoh dan tidak pernah mendapatkan prestasi itu selalu Mamah turuti kemauannya? Padahal ia tidak pernah membantu pekerjaan rumah, ia tidak bisa mengaji, selalu membangkang ketika dinasehati, merengek dan mendesak saat meminta sesuatu. Apa aku pernah seperti itu? Aku selalu diam mendengarkan walau dalam hati diriku kesal. Bahkan Mama repot, aku bantu mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci pakaian, mengepel, dan menjaga Rara. Tapi apa-apa selalu saja Riki yang disayangi, semua yang aku lakukan seperti tak pernah ada harganya di mata mereka.


Riki menangis? Mamah pikir aku juga tidak menangis? Aku juga menangis namun aku tak menunjukannya, aku tak ingin jika tangisanku ini membuat Mamah dan Bapak pusing. Sebenarnya aku juga ingin mendesak seperti Riki, tapi aku mencoba mengerti Mamah dan Bapak, jika memang tak ada, aku tak ingin merepotkan kalian, namun selalu saja kesabaranku ini diretakkan oleh Riki yang selalu dimanjakan.


Kenapa Mamah mengungkit-ngungkit soal biaya yang mereka keluarkan untukku? Bukankah itu sudah kewajiban mereka untuk mengurusku? Jika selama ini mereka tidak sudi membiayaiku, lalu kenapa mereka membuatku terlahir ke dunia ini? Aku saja tidak minta untuk dilahirkan. Jadi siapa yang salah? Apa karena mereka orang dewasa dan aku hanyalah seorang anak kecil jadi aku lah yang tidak mengerti? Aku hanya meminta hak milikku. Memang, uang uang yang ada dalam celengan itu sebagian adalah sisihan dari uang jajan sekolahku yang setiap hari diberikan oleh orang tuaku. Tapi bukankah itu sudah menjadi hak milikku? Kalau diambil kembali dan dianggap bukan hak milikku kenapa selama ini mereka masih saja membiayaiku?

__ADS_1


Curahan hati Laila membuat seisi kertas terlihat penuh. Kertas itu ia simpan di atas lantai, dirinya hanya bisa melamun dan tak lama ia tertidur di samping tulisan yang ia buat.


__ADS_2