
Tengah malam, Laila terbangun dari tidurnya. Suara tangis sesenggukan terdengar lirih, diiringi cerocosan dari orang yang tak asing lagi.
Anjani sedang mendapat cercaan dari Adwi, Laila tak berani mengganggu dan Lantas berusaha untuk kembali tidur walau indera pendengarannya seakan menajam.
Tiba lah pagi yang merekah, namun Laila disajikan dengan suasana yang berbeda. Ayahnya sudah berangkat kerja, sementara Anjani masih terduduk di ruang dapur.
Anjani terlihat sembab dan masih sesenggukan. Entah dari tengah malam keduanya bertengkar atau pertengkaran kembali terulang tadi pagi.
"Mah, kenapa? Mamah ada salah apa sama Bapak?"
Laila langsung menghampiri ibunya yang tak berdaya itu. Ia tahu betul, bagaimana sikap Adwi kalau sudah marah.
"Mamah cuma bales sms temen hiks.. Hiks.. bapak kamu ngungkit-ngungkit mulu, padahal dia sendiri juga sering sms an sama perempuan lain. Tapi Mamah yang baru sekali marahnya sampe segitunya." Ucap Anjani masih dengan mata yang menangis.
__ADS_1
Laila sudah tahu sendiri isi chat antara Sang Ibu dengan mantan kekasihnya. Memang sedikit ada yang berlebihan, mantan ibunya itu memberikan nomor whatsappnya.
"Jangan ambil resiko makannya Mah. Kan Mamah yang tau sendiri gimana sikapnya Bapak. Ila mah gak ikutan karena Mamah yang tahu sendiri Mamah itu harus gimana."
Hanya itu ucapan yang Laila harap bisa membuat ibunya sedikit lebih sadar. Anjani pun Laila suruh untuk segera beristirahat.
Di dapur tak ada makanan, Anjani pasti belum sempat masak apa-apa. Alhasil, Laila turun tangan walau tengah terburu-buru.
Sorenya, Anjani terlihat sudah rada baikan. Ia merawat anak-anaknya seperti biasa. Adwi pulang, dan ia langsung datang ke hadapan Anjani.
Adwi yang tak punya hp itu tiba-tiba membawakan sebuah hp dan menyimpannya tepat di depan Anjani. Kemudian Adwi memanggil Laila, meminta nomor seseorang yang menjadi bahan pertengkarannya.
Laila hanya turut menyimpankan nomor itu di ponsel yamg dibawa Adwi. Sementara Anjani, ia terlihat menangis dengan rasa yang cemas.
__ADS_1
"Nih, mau ngobrol kan?" Adwi kembali menyerahkan ponsel itu namun Anjani tak mau menerimanya.
"Ohh, mau aku telponin ya?" Ucap Adwi kembali dan langsung ia menelpon nomor tujuan.
"A, matiin! Jangan bikin masalah, aku sama dia emang gak ada hubungan apa-apa!" Anjani berusaha meraih ponsel yang dipegang Adwi. Namun, telepon sudah nampak tersambung.
"Hallo, ini mantannya Anjani ya? Iya, ini Anjani katanya mau ngobrol."
Adwi benar-benar menelpon mantannya Anjani. Anjani dapat mendengar sendiri suara dari swberang sana. Adwi terus saja menyerahkan ponselnya kepada Anjani. Namun, Anjani benar-benar tidak mau menerima panggilan teleponnya, ia benar-benar tidak ingin mengobrol apapun dengan mantannya.
"Eh, kamu mah suka malu-malu gitu, tadi minta hp kan? Sekarang aku kasih tapi kamu gak mau." Ucap Adwi masih dengan telepon yang tersambung.
Karena Anjani tak mau mengobrol, akhirnya Adwi berbicara ke arah seberang sana yang sedari tadi sudah menunggu
__ADS_1
"Ini, Anjani, katanya mau balikan sama kamu, tapi kayaknya dia malu ngomongnya." Ucap Adwi yang lantas membuat Anjani dengan paksa merebut ponselnya.
Panggilan diakhiri, Anjani tak menyangka bahwa Adwi akan sampai berbuat sejauh ini. Anjani tak ingin merusak kedamaian keluarga mantannya hanya karena keegoisan Adwi. Adwi begitu sangat berlebihan.