Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Emak Terpeka Deh


__ADS_3

Gambaran tentang kehidupan di sekolah menengah ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Ada banyak siswa siswi yang posturnya masih sepantar dengan dirinya.


Di tsanawiyah itu Laila kini mendapat teman, 2 orang wanita yang perawakannya hampir sama dengan dirinya.


Karena tak ada kendala sama sekali, Laila mulai percaya diri. Ia selalu bersemangat dan datang saat masih sepi. Kelasnya berada di lantai 2, pagi itu ia duduk di atas meja ruangan sambil melihat pemandangan gerbang sekolah di balik jendela kelas.


Senandung lagu ia nyanyikan karena memang kelas saat itu masih kosong. Sampai satu per satu sahabatnya pun terlihat memasuki koridor yang berada tepat di bawah ruang kelasnya. Setelah lengkap, mereka langsung pergi ke warung kecil milik penjaga sekolah ini.


"Emm enak ya bireng Mang Halim, lain dari yang lain, ada kelapa-kelapanya gitu. Hahaha.." Ucap Ita mempraktekkan gaya tokoh pencicip makanan, ia menyantap serabi goreng hangat dengan sedikit saus.


Pagi yang masih berembun dan berkabut itu memang cocok ditemani oleh makanan hangat. Mereka menyantap berbagai macam gorengan di pinggir lapang belakang sembari melihat pemandangan sawah.


Hari itu Laila pulang sekitar pukul 2, ia menceritakan pengalaman barunya di sekolah kepada Anjani. Sepulang sekolah Laila hanya bermain dengan Rara yang usianya kini sudah menginjak 2 tahun. Seharusnya ia pergi mengaji setelah ashar, tapi ia malas dengan alasan lelah.


Laila sudah mempunyai ponsel android sendiri, turunan dari bapaknya. Ia terus asyik mengambil gambar Rara dan memakaikan berbagai aksesoris kepadanya.


Malam pun tiba dan Adwi terlihat pulang menjinjing sebuah kantong berwarna hitam. Ia mengeluarkan isinya dan sebuah laptop Asus dinyalakannya.


"Ini buat kamu sekolah, kalo ada tugas bisa dikerjain di sini. Nanti Bapak beli mesin print nya kalo udah ada uang." Ucap Adwi kepada Laila.


"Bapak dapet dari mana? Beli?" Tanya Laila antusias.


"Ini punya temen Bapak, dia punya utang tapi gak bisa bayar, yaudah Bapak ambil aja laptopnya, biar kamu gak usah ke warnet lagi."


Laila merasa senang, ia yang sering datang ke perpustakaan sekolah ingat bahwa di sana ada sebuah buku panduan pengoperasian laptop. Esoknya ia langsung meminjam buku itu dan praktik di rumah dengan laptopnya.


Karena sudah piawai, Laila mengajak kedua sahabatnya untuk menonton film di laptopnya. Ia mengundang mereka datang ke rumah karena Adwi tidak memperbolehkan Laila untuk membawa laptop ke sekolah. Jangankan laptop, bahkan sekolah melanggar anak muridnya untuk membawa hp.


Jum'at itu Laila dan kedua sahabatnya pulang lebih awal, tak disangka Emak dan Abah sudah berada di dalam rumah.


"Emak? Kapan ke sini?" Ucap Laila antusias, ia langsung mencium tangan emak dan abahnya.


"Tadi pagi, Emak abis ke pasar, mau pulang mampir dulu ke sini. Itu siapa? Temen kamu?" Tanya Emak melirik ke ruang depan.


"Iya Mak, katanya mereka pengen main ke rumah aku."


"Ini bawain cemilan atuh, Emak tadi beli ini."

__ADS_1


"Iya Mak," Laila pun kembali ke ruang depan sambil membawa camilan. Tak lupa ia mengambilkan air minumnya.


Langsung saja mereka menonton sebuah film bersejarah yang Laila temukan pada laptop yang memang bekas itu.


Sekitar pukul 2 temannya Laila sudah pamit untuk pulang. Mereka takut di jalan akan hujan, dan lagi jika kesorean angkot susah untuk ditemukan.


"Teh, kamu kapan mau beresin rumah? Laila itu udah gede, kalo ada yang ngapelin gimana? Malu atuh rumahnya kayak gini."


Keadaan rumah memang masih acak-acakan, dari dulu pengerjaan rumah sama sekali tidak diselesaikan. Dan tembok-tembok di luar akhirnya juga diselimuti lumut. 4 buah jendela di ruang depan juga sama sekali tidak memakai tirai. Benda berharga yang terlihat di sana juga masih hanyalah TV.


Bukan Anjani tak mau, tapi biaya mempengaruhinya. Keadaan ekonomi sampai tahun sekarang sama sekali tidak meningkat. Laila yang tengah berada di dalam kamar dan mendengar percakapan itu langsung menyimak baik-baik.


'Walau aku gak ngomong, tapi Emak tau apa yang aku rasain.'


Laila sebenarnya malu mengajak temannya datang ke rumah, tapi karena temannya terus penasaran ia pun mempersilahkannya.


"Mah, temen-temen sekelas juga ngajak ngeliwet di rumah aku, tapi aku malu, masa dapur sama WC nya kumuh?" Timrung Laila yang baru keluar dari kamar.


Lantai kamar mandi rumah itu terbuat dari semen, lantainya memiliki beberapa noda hitam yang susah untuk dihilangkan. Laila juga sebenarnya merasa jijik, tapi mau bagaimana lagi, keluarganya belum mampu membeli keramik WC.


"Apa ambil aja ya uang yang dipake gadai sawah?" Timbang Anjani.


"Aku seneng kok kalo uang aku dipake buat kebutuhan kita semua. Aku juga pengen rumah ini cepet selesai."


"Tapi jangan diambil semua Teh, nanti biar Abah yang tagih uangnya."


Anjani pun mengambil uang gadaiannya sebesar 7 juta. Sisa 5 juta lagi yang belum ia ambil, jadi penggadaian sawah masih belum berakhir. Laila merasa senang, jika rumah sudah terlihat rapi, ia berjanji akan lebih rajin lagi membantu pekerjaan rumah.


Dan rumah pun kembali dikerjakan namun hanya dengan jasa Adwi, Bapak, dan Abah. Lagipula pekerjaannya mudah, hanya memasang ubin dan mengaci tembok.


"Tumben Mamah beliin aku jajanan juga." Ucap Laila kepada ibunya.


Pagi itu Anjani pulang belanja dari warung. Setiap harinya ia selalu membeli jajanan untuk Riki dan juga Rara. Namun tidak dengan Laila karena Laila sudah besar, toh nanti ia diberi uang jajan untuk sekolah. Begitu tutur Anjani.


Laila tahu Anjani bersikap perhatian kepadanya karena di rumah sedang ada Emak. Kalau tak ada Emak di rumah, suasana akan terasa beda.


"Ila kamu dikasih uang jajan berapa?" Tanya Emak saat Laila hendak pamit untuk berangkat.

__ADS_1


"5 ribu Mak." Jawab Laila.


"5 ribu itu ditambah ongkos 2 ribu. Jadi 7 ribu." Lanjutnya terlihat senang.


Laila senang karena uang jajannya yang sudah menjadi besar dari sebelumnya. Padahal jika ditotal, Riki selalu jajan lebih dari 5 ribu sehari, lebih besar daripada Laila.


"Ini Emak tambahin." Emak memberikan uang sebesar 10 ribu.


"Gak usah Mak, lagian aku udah dikasih sama Mamah." Laila menolak karena merasa tak enak. Emak dan Abah sudah sangat sering memberikannya uang.


"Udah gapapa, simpen-simpen buat celengan kamu."


Akhirnya Laila menerima uang itu dan langsung beralih menghampiri Abah yang ada di luar.


"Bah, aku berangkat dulu." Ucap Laila hendak mencium tangan abahnya.


"Ayo, Abah anterin." Ucap Abah.


Laila mengangguk senang, kalau diantar dengan motor ia pasti akan cepat sampai. Jika menaiki angkot, seringnya ia menunggu lama karena angkot selalu ngetem. Belum lagi jika penumpang sepi ia selalu diturunkan di tengah jalan karena angkot hendak putar haluan. Abah yang mengantarkannya itu memberinya uang jajan tambahan dan membuat Laila tidak bisa menolak sama sekali.


Beberapa hari berlalu, keadaan rumah masih terlihat belum rapi. Ternyata uang 7 juta itu masihlah kurang. Rumah itu tidak memiliki teras dan juga belum dicat, tembok bagian dapur dan luar juga sama sekali belum diaci.


Memang, rumah ini lumayan luas. Jika ditotalkan sudah ratusan juta dikeluarkan untuk membangun rumah besar ini.


"Bikin rumah teh gede-gede amat atuh Teh, kan jadinya gak beres-beres." Ucap Emak kala itu.


"Gak tau, A Adwi yang bikin denahnya juga." Jawab Anjani.


Hari itu, Emak hendak pamit karena tak ada lagi pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun sebelum pulang, ia berkata sesuatu kepada Anjani.


"Teh, Laila itu udah gede, kebutuhannya juga gede, jangan disamain sama anak kecil, apa-apa harus dilebihin, harus sesuai sama porsinya masing-masing." Ucap Emak membuat Anjani menuduh Laila.


'Laila bilang apa lagi ke Emak? Padahal aku udah ngasih dia makan sayur kesukaannya, udah beliin dia jajanan juga.' Batin Anjani kesal.


"Itu juga udah Mak." Jawab Anjani.


Selama di rumah, Emak selalu saja nyerocos dan membuat Anjani semakin kesal. Laila, Laila, Laila. Itu yang terus saja Emak bicarakan. Emak selalu saja memikirkan Laila, namun tidak dengan Riki dan Rara.

__ADS_1


Bahkan saat hendak memanggil Riki ataupun Rara, Emak selalu saja salah sebut dan malah menyebut Ila. Entah karena sudah pikun atau yang ada di otak Emak hanya Laila seorang, Anjani heran, kenapa Emak sampai segitunya kepada Laila.


__ADS_2