
Hari sabtu, Riki pulang sekolah dengan wajah terpancar amarah. Ia menangis sambil membentak Anjani, di sekolah tadi ia sudah merasa dipermalukan. Dirinya dipanggil ke depan oleh wali kelasnya sendiri.
"Mamah bilang apa ke guru aku?! Bikin malu aja! Aku tadi disuruh ke depan diliatin orang-orang!" Bentakan Riki membuat Anjani terkejut.
"Mamah gak bilang apa-apa." Anjani tersentak ketakutan.
"Mangkannya sekolah yang bener, udah dibilangin masih aja keras kepala. Emang buat apa kamu sekolah kalo kelakuan kayak begitu? Percuma bapak ngebiayain kamu, mending kamu putus sekolah aja!" Celetuk Laila yang merupakan tersangka. Ia merasa sangat puas melihat reaksi Riki.
Riki tidak bisa berkutik, ia terus menangis dengan perasaan malu yang sudah ia bawa sejak dari sekolah tadi. Ia juga tak bisa melawan Laila, beranjak dewasa hubungan keduanya kian merenggang, mereka sudah tak lagi bertengkar seperti dulu dan bahkan melihat keduanya mengobrol sangatlah jarang.
"Udah lah Mah ngapain nyekolahin dia? Suruh dia kerja, biar tau gimana pengorbanan orang tua buat nyekolahin dia! Kalo mau belajar, belajar yang bener, Kakak juga mau kok ngajarin kamu kalo kamunya mau belajar!" Laila kembali ke kamarnya.
Dari kejadian itu Riki menahan malu yang teramat-amat. Anjani sendiri terkejut dengan tindakan yang Laila lakukan, tapi perkataan Laila benar, Anjani pun menasehati Riki agar tidak membuat Laila marah lagi.
Laila memang dikenal sebagai orang yang pendiam. Namun sekali menurutnya sudah di luar nalar, garangnya seperti singa yang tengah kelaparan.
Perlahan Riki selalu terlihat memilah lembaran buku sekolahnya. Di sampingnya Anjani selalu mendampingi. Sesekali Laila mengawasi dengan tatapan sinis, memastikan agar Anjani tidak mengambil alih pekerjaan Riki.
Sementara itu, Laila yang masih duduk di kelas 1 SMK mencoba untuk berbisnis. Ia yang masuk ke jurusan akuntansi mendapat bimbingan dari sekolahnya. Kebetulan sekolah yang ia tempati sangat mendukung anak muridnya agar bisa menjadi seorang pengusaha.
Setiap hari Laila selalu bangun pukul 3. Ia sibuk menyiapkan dan membungkus sendiri jajanan yang ia buat. Dalam sebuah wadah, ia menjinjing jajanan itu menuju sekolah.
Pagi hari sudah ada yang berbonyok menyerbu jajanan Laila. Dan tiba istirahat pertama maupun ke 2, Laila selalu berkeliling menjajalkan dagangannya ke setiap kelas dan jurusan.
Rasa malu tak sedikitpun ia gubris, siapa lagi yang akan menjadikannya sukses jika bukan dirinya sendiri? Jurusan otomotif pun bahkan ia jamah walau kebanyakan muridnya tidak membeli tetapi malah menggodanya.
Selain itu Laila juga memanfaatkan hp nya untuk menjalankan bisnis online, ia fokus menjual jam tangan dan juga berbagai produk skincare. Sejak saat itu Laila tak lagi bolos sekolah, ia memakai uangnya sendiri untuk bisa berangkat menimba ilmu.
Di hari libur, Laila tengah sibuk mengerjakan jurnal di buku besar, sebagai murid yang berprestasi ia terpilih mengikuti program LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) untuk bulan depan. Di kesibukannya itu, samar-samar ia mendengar Anjani merintih kesakitan.
"Ada apa Mah? Kenapa?" Laila terkejut melihat ibunya tengah terbaring lemah dengan deraian air mata. Ia memegang erat perutnya dengan cengkeraman, sementara anak bungsunya dibiarkan menangis begitu saja.
__ADS_1
Karena tidak ada siapa-siapa di rumah, Laila segera menggendong adik bungsunya. Kemudian ia memanggil Bu Elah, meminta bantuan kepadanya.
"Bu, tolongin mamah saya! Mamah sakit!"
Anjani pun segera dibawa ke dokter diantar oleh anak laki-laki Bu Elah, ia didiagnosis menderita penyakit lambung. Walaupun sudah diberi obat, tetapi dirinya terus merasakan sakit setiap harinya.
Laila khawatir, tidak ada yang menjaga ibunya dan mengasuh adiknya saat ia sekolah, ia pun meminta bantuan Emak karena tahu kalau neneknya yang berada di sini tak akan ikhlas membantu keluarganya.
Adwi juga sibuk, ia selalu berangkat pagi dan pulang pukul 5. Dengan gaji 2 juta sebulan, ia sekarang bekerja sebagai buruh di sebuah peternakan.
Pulang sekolah Laila mengambil alih adik bungsunya dari Emak. Sementara malamnya ia selalu mengusap punggung dan memijat Anjani yang terus menahan rasa sakitnya.
"Hiks.. Hiks.. Udah gak tahan, kayak mau mati!" Pekik Anjani terus mengalirkan air matanya.
Laila ikut menangis melihat penderitaan bertubi-tubi yang dialami oleh ibunya. Seperti hendak mati, itu yang selalu Anjani katakan. Bahkan saking tak tahannya, ia meminta untuk dicabut nyawa saja.
Laila tak pernah sedikitpun lengah merawat Anjani, ia selalu menyuapi Anjani walau ujungnya makanan itu selalu dimuntahkan lagi.
"Mamah makannya jangan ngelewatin makan, sekarang kan jadi sakit gini." Ucap Laila dengan tangisan.
Sekarang apapun, bahkan daun singkong mentah Laila masukkan ke dalam mulutnya. Yang penting perutnya terisi, tak ada cara untuk memasaknya, ia sudah terlanjur lapar dan di rumah sama sekali tidak ada korek maupun sejenisnya untuk menyalakan api.
Sementara itu, Adwi jarang berada di rumah, setelah turun dari jabatan ia mulai selalu pergi dan pulang larut malam kembali. Mungkin pikirnya ia tak perlu khawatir dengan Anjani, ya karena di rumah sedang ada Emak.
Pukul 9 malam tiba, Emak menyuruh Laila untuk segera tidur. Laila pergi ke kamarnya, ia tak tidur, melainkan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang belum sempat ia kerjakan.
Bisnisnya sekarang sudah tak lagi berjalan, pagi sekali dirinya disibukkan dengan urusan rumah tangga. Mencuci pakaian semua anggota keluarga, menanak nasi, memasak, dan sebagainya.
Tak ada lagi seorangpun yang mandiri selain dirinya, setelah Anjani tak bisa berbuat apa-apa semuanya bergantung kepada Laila. Walaupun Emak selalu menyuruh Laila untuk fokus saja dengan sekolahnya, tetapi ini sudah menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Semakin hari, penyakit Anjani nampak semakin parah, jeritan dan rintihan terus saja keluar dari dalam mulutnya. Sudah berapa kali ia berobat, namun hasilnya sama sekali tidak berubah.
__ADS_1
Pada akhirnya Anjani pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Kala itu Emak baru keluar dari ruang rawat dan ia menghampiri Laila.
"Bapak kamu ke mana?" Tanya Emak kepada Laila.
Laila tidak tahu, sementara yang menjawab adalah Abah yang duduk di sampingnya.
"Lagi di kantin." Jawab Abah.
"Bukannya ditemenin mamah kamu lagi kayak gini, dia malah enak-enakan ngopi!" Emak berdecak kesal.
Kedua orang tua Adwi sama sekali tidak nampak di sana. Bahkan Anjani datang ke sini pun dibawa oleh mobil desa. Setelah pulang dari rumah sakit, Anjani menjadi rada mendingan. Mungkin karena obat mahal yang diberikan pihak rumah sakit memang terbukti kualitasnya, sekarang ia sudah jarang merasakan sakit lagi, hanya sesekali rasa mual dan sedikit nyeri di ulu hati.
Karena Anjani sudah bisa beraktifitas seperti biasanya, Emak akhirnya pulang ke kampung. Namun, sekarang wajah garang Adwi nampak muncul di hadapannya.
"Bikin repot aja! Kapan mau gantiin uangnya? Sakit aja mulu, udah berjuta-juta aku ngeluarin biaya buat pengobatan kamu!" Ucap Adwi di hadapan Anjani.
Anjani yang baru saja merasakan ketenangan itu seketika merasa buyar. Padahal ia adalah istrinya Adwi sendiri, tapi kenapa Adwi menganggap semua yang ia keluarkan adalah sebuah utang?
Anjani menangis, terkena penyakit bukanlah keinginannya sendiri. Adwi yang melihat Anjani menangis merasa semakin risih, ia melenggang pergi pukul 7 malam itu.
Hanya Laila yang bisa Anjani ajak bicara, Laila selalu mengerti setiap kata yang dicurahkan Anjani kepada dirinya.
Walau Adwi sempat mencetuskan sebuah utang, namun ia tak pernah kembali mengungkitnya lagi. Keadaan berjalan normal, hingga akhirnya Adwi selalu diteror oleh penagih utang.
"Kapan mau bayar utang? Bela-belain jual emas buat minjemin kamu, udah 2 taun masa gak dibayar-bayar."
Sebuah pesan WhatsApp datang ke hp milik Adwi. Itu adalah pesan dari Laras, dulu Adwi meminjam uang sebesar 1,2 juta kepadanya.
Anjani yang memang selalu mengecek ponsel Adwi membicarakannya langsung kepada Adwi. Uang memang tak ada, Adwi membiarkan Anjani membalas pesan itu sendiri.
"Nanti kalau ada dianterin, sekarang lagi banyak pengeluaran, banyak anak-anak." Balas Anjani.
__ADS_1
Lalu esoknya sebuah pesan dari Laras kembali muncul. Tidak ada pesan yang sebelumya, sepertinya sudah sengaja dihapus oleh seseorang.
"Udah tidur ya?" Begitu isi pesannya.