Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Pulang


__ADS_3

Ini bukan kali pertama Anjani datang ke rumah ibunya Adwi. Sebelum ia menikah dengan Adwi, ia sudah diperkenalkan terlebih dahulu ke rumah itu. Keadaan rumah terlihat sepi, Adwi baru tahu bahwa adik tirinya yang lainnya sedang pergi ke luar kota.


"Loh, emang mereka gak ngelanjutin sekolah?" Adwi heran, padahal adik-adiknya itu ada yang masih SMP.


"Nggak, tu adik kamu yang bungsu gegabah aja pake pecahin celengan Papih segala. Sekarang biar tau dia gimana susahnya cari uang." Ayah tirinya Adwi menunjuk ke beberapa hiasan berbentuk harimau. Adwi kira itu patung, karena ukurannya besar-besar sekitar 1 meter.


Adwi tidak mengira, ia pikir orang kaya seperti mereka akan menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi agar mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Tapi semua anaknya hanya mereka biayai hingga SMP, dan setelah itu mereka membiarkannya untuk mencari uang sendiri.


"Kamu ke sini mau bawa Laila ya? Padahal biarin aja dia di sini. Iya kan Pih?" Ucap ibunya Adwi melirik ke arah suaminya.


"Iya, di rumah udah gak ada anak kecil, sepi. Bentar lagi adik kamu yang ini juga mau nikah, nanti dia juga bakalan dibawa sama suaminya." Ucap ayah tirinya Adwi.


"Hehe, nanti mamahnya sedih kalo anaknya gak balik lagi." Ucap Adwi kikuk, ia tersenyum kepada Anjani.


"Ila emang mau diajak pulang sama bapak kamu?" Tanya Ibunya Adwi.


"Gak mau, aku mau tinggal di sini." Ucap Laila.


"Tuh kan Wi."


Meskipun baru beberapa hari Laila tinggal di sana, tapi ia sudah merasa sangat nyaman. Memang, dari suasananya pun siapa yang tidak terpikat? Di sana Laila bisa menonton TV LCD dengan layar lebar, bukan TV tabung lagi seperti yang ada di rumahnya. Beberapa toples kue, permen, dan camilan juga tersedia di atas meja.

__ADS_1


"Oh iya, minggu lalu anak kamu dateng ke sini. Tapi cuma sebentar sih, kalo lagi libur dia juga suka nginep di sini sendirian. Masa yang bukan tentu bener cucu sering dateng, tapi yang beneran cucu malah baru pertama kali." Ucap ibunya Adwi menyindir. Yang ia maksud adalah Rika.


"Udah ah Mah, kalo Mamah mau anak lagi bikin dong. Ila, kalo Bibi yang anterin gimana? Ila mau kan?" Bibinya Laila itu juga tidak merasa keberatan jika Laila tetap tinggal di sana. Tapi bagaimanapun juga ia tidak enak karena Laila adalah milik orang tuanya.


"Bibi mau ikut ke rumah aku?" Tanya Laila terlihat antusias. Setiap hari, Laila selalu diajak main dan jalan-jalan oleh bibinya itu. Jadi, pantas saja jika ia sangat luwes dengan bibinya itu.


"Iya, Bibi anter pake motor sekarang ya?"


"Iya aku mau." Karena bibinya yang berbicara, dengan mudahnya Laila berkata iya, padahal sebelumnya ia tidak mau.


"Papih juga ikut, biar Papih yang bawa motornya. Papih khawatir kalo ngebiarin kamu pulang sendirian." Ucap Ayah tirinya Adwi.


Sore itu, mereka pun pergi menuju ke rumahnya Adwi. Laila bersama dengan kakek dan bibi tirinya, sedangkan Adwi bersama dengan Anjani dan Riki. Masih dekat dari daerah itu, Laila menunjukkan sebuah sekolah dasar yang ingin ditempatinya.


Terlihat menyeramkan, pemandangan di sekeliling dan sepanjang jalan hanyalah kebun-kebun yang sangat rimbun. Tapi di pinggir jalan itu berdiri sebuah sekolah yang terpisah jauh dari pemukiman warga. Hal itu akan menjadikan inisiatif untuk nanti menakut-nakuti Laila.


Usai meninggalkan perkampungan yang asri, mereka pun sampai di depan rumahnya Adwi. Memang, di sana juga terlihat asri karena banyak perkebunan, tetapi jika di pinggiran jalan raya, tidak ada pemandangan yang bisa mereka temui seperti di pelosok. Jalanan di sana sudah diisi oleh fasilitas-fasilitas umum dan juga rumah-rumah warga.


"Ila, Bibi sama Apih pulang dulu ya. Nanti kita ke sini lagi jemput Ila." Baru saja sampai, bibinya Laila itu langsung berpamitan.


"Iya Bi, nanti anterin aku ke sekolah ya." Ucap Laila meminta yang aneh-aneh, tapi bibinya itu hanya meng iya kan saja.

__ADS_1


"Ila, ini dari Apih, buat jajan Ila." Ayah tirinya Adwi itu memberikan Laila uang 200 ribu. Ia juga memberi Riki uang 100 ribu. Selain itu, mereka juga membawa banyak makanan dari rumah.


Mereka pun pergi, dan kini Laila terlihat sangat senang. Ia duduk sambil memakan camilan yang ia bahwa dari rumah neneknya. Anjani merasa sedikit sedih melihat barang-barang bagus sudah menepel di tubuhnya Laila. Dirinya yang hanya hidup sederhana merasa sama sekali tidak bisa memanjakan Laila.


"Mah, nanti kita beli kulkas juga ya. Aku mau bikin es pisang, aku suka! Terus nanti ada minuman juga di dalamnya!" Ucap Laila membayangkan bahwa memiliki kulkas itu menyenangkan. Baginya, kulkas itu seperti peti harta karun, di dalam kulkas ia bisa mengambil makanan dan minuman apa saja yang ia mau.


Sedangkan yang dipikirkan Anjani, jika ia membeli kulkas ia akan menaruhnya dimana? Dan lagi untuk apa ia membelinya? Apa yang akan menjadi isinya? Setiap hari ia hanya berbelanja bahan makanan ke warung yang cukup untuk sekali makan saja.


"Nanti ya Ila, kalo rumah kita udah bagus, kayak rumah nenek kamu." Ucap Anjani kepada Laila. Dan Laila pun hanya meng iya kan saja. Biasanya ia merengek, tapi mungkin ini karena suasana hatinya sedang baik.


Di rumah, Laila terus bercerita bahwa dirinya sudah diajak ke tempat wisata dan jajan banyak makanan setiap hari, Anjani sendiri bahkan tidak bisa membayangkannya. Laila juga berkata bahwa ia selalu ikut mengaji di madrasah diantarkan oleh bibinya.


Tidak seperti yang dikira, ternyata keluarga itu memanglah baik. Mereka pikir, seorang keluarga yang tidak memiliki hubungan darah tidak akan tulus dalam memberikan kasih sayangnya. Tapi kelihatannya, mereka sangat menyayangi Laila.


Tinggal menghitung minggu untuk Laila dapat mendaftar di sekolah dasar. Karena sudah banyak ditakut-takuti yang tidak-tidak, akhirnya Laila pun bersedia untuk bersekolah di kampungnya.


Kadang susah, kadang gampang, untuk membuat Laila patuh terhadap perintahnya. Karena ada keberadaan Riki di sampingnya, akhir-akhir ini Laila menjadi sangat rewel, ia suka menangis karena berebut sesuatu dengan adiknya itu.


Suatu hari, Riki sedang duduk dan memegang botol minyak telon. Laila yang baru saja mandi ingin mengoleskan minyak telon itu ke tubuhnya. Ia pun mengambilnya dari Riki, tetapi Riki tidak mau menyerahkannya. Karena Riki masihlah anak kecil yang tidak akan mengerti, jadi Anjani menyuruh Laila untuk mengalah.


Masih banyak kejadian sepele lagi yang harus membuat Laila untuk mengalah. Ia merasa sangat sedih dan merasa ibunya telah memilih kasih. Lucunya, setiap ia menangis, ia selalu berlari ke belakang rumah untuk meratapi kesedihannya.

__ADS_1


__ADS_2