Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Hasil Yang Dicapai


__ADS_3

Fajar sidik menjelang terbit matahari. Usai shalat subuh, Anjani mendatangi rumah tetangganya yang ada di depan untuk mengajaknya melayat bersama. Sedang Anjani pergi melayat, Adwi yang belum pergi bekerja bertugas untuk menjaga Laila.


Menuju rumah keluarga almarhum, Anjani dan tetangganya itu mengobrol sambil berjalan di hari yang masih gelap. Pagi itu, sudah ramai orang yang melayat mengeluarkan suasana duka cita.


Setelah menjenguk keluarga almarhum, Anjani dan tetangganya mampir dulu ke warung untuk berbelanja. Saat memilih-milih sayuran yang berada di atas meja, perasaan Anjani menjadi tidak nyaman ketika tetangganya itu membawa-bawa nama suaminya.


"Neng, emang gak takut apa ditinggal terus tiap malem sama si Adwi? Apalagi di deket rumah kamu ada kuburan baru loh." Ucap Bu Elah di warung yang sedang ramai itu.


"Nggak kok Bu, masa sama yang begituan aku takut." ucap Anjani tak membeberkan kebenarannya. Ia tak mau nama suaminya menjadi jelek di mata orang lain.


Sebenarnya ia takut karena Laila tiba-tiba saja menangis tak henti-henti. Tapi percuma saja memohon-mohon kepada Adwi, Anjani lelah, tak ingin lagi mendapatkan jawaban yang sama dari Adwi.


"Kalo ada bahaya gimana? Si Adwi juga kedengerannya suka pulang tengah malem." Bu Elah tahu dari suara motor Adwi yang bising.


"Masa sih Bu? Si Adwi itu suka nongkrong di pertigaan jalan kan? Neng, emang si Adwi lagi ngapain sampe tengah malem begitu? Tempat itu kan dulu pernah digerebeg sama polisi gara-gara orangnya mabuk-mabukan sama maen judi." Celetuk yang lain yang juga sedang ikut berbelanja.


"Iya tuh Neng, masa kamu gak larang?" Ucap Bu Elah.


"Ah, A Adwi mah nggak gitu kali Bu, kan kata Ibu juga tempatnya udah pernah digerebeg, jadi mereka pasti udah gak ngelakuin itu lagi." Ucap Anjani santai. Padahal ia terkejut karena baru tahu bahwa tempat itu suka dijadikan tempat bermaksiat.


"Neng gak tau sih, tempat itu masih aman-aman aja, orang polisinya juga disogok."


Dari obrolan itu, Anjani tidak banyak bicara. Prasangka buruk tentang suamiya berusaha ia enyahkan dari dalam pikirannya. Mana mungkin Adwi suka berjudi atau mabuk-mabukan. Jika benar itu terjadi, maka sekarang pasti hidup mereka sudah melarat.


Sampai di rumah, Anjani merasa sedikit kesal kepada Bu Elah yang sudah memicu obrolan tidak mengenyenangkan itu. Anjani masuk ke kamar dan melihat Adwi tengah membaca buku catatannya, sedangkan Laila terlihat masih tertidur pulas.

__ADS_1


"A, tadi ada yang bilang, tempat Aa nongkrong itu tempatnya orang mabuk sama judi ya?" Langsung Anjani bertanya baik-baik.


"Iya, tapi aku gak ikutan, aku cuma main kartu sama ngopi." Ucap Adwi menjeda bacaannya.


Adwi tidak pernah menceritakan hal itu kepada Anjani, tapi Anjani tetap percaya kepada suaminya itu. Seluk-beluk ceritaan orang lain terhadap Adwi tak sekalipun membuat Anjani memercikkan api pertengkarannya.


Perlahan, kekesalan Anjani kepada tetangganya pun berlalu. Anjani tahu bahwa tidak baik mengasingkan tetangga sendiri, tetangga adalah keluarga kedua yang ia miliki. Jikalau ada apa-apa, sebelum datangnya keluarga, pasti tetangga dekat lah yang akan pertama kali datang menghampirinya.


"Assalamu'alaikum. Bu, ini aku abis bikin bolu. Masih anget, kali aja mau coba."


Siang hari, Anjani mengantarkan kudapan kepada tetangganya, Bu Elah. Mereka sekeluarga terlihat sedang duduk santai di depan teras. Bersama Laila, Anjani ikut berbaur dengan keluarga itu. Ia sangat akrab dengan Bu Elah karena jarak rumahnya sangat dekat.


"Mmm.. enak Neng. Ini gulanya pake gula merah ya?" Bu Elah menyicip satu potong bolu.


"Iya Bu, kalo masih anget emang enak Bu."


"Ibu juga mau bikin ah, pesen gulanya ya kayak biasa."


Bu Elah dan keluarganya asyik menyantap kudapan itu. Itu adalah bolu pertama yang Anjani buat sendiri, ia membuat bolu sambil menanyakan resepnya kepada Emak lewat telpon. Anjani merasa senang jika bolu buatannya itu disukai oleh banyak orang.


"Iya Bu, nanti besok pagi aku anterin, kalo sekarang belum ada lagi Bu."


"Wahh.. padahal kamu bikin gula suka banyak, tapi kok cepet abisnya? Emang kamu jual kemana?"


"Biasa Bu, sama nenek yang ada di kampung sebelah. Nenek itu suka jual lagi gula yang udah dibeli dari aku. Dan.. ada juga yang bayarin gula yang gagal dicetak, katanya mau dijadiin sirup buat usaha." Jelas Anjani panjang lebar.

__ADS_1


Tetangganya itu terkagum-kagum, mereka hanya seorang petani sekaligus buruh tani yang suka dimintai untuk membantu pekerjaan sawah-sawah orang.


Dibandingkan dengan tetangganya, sumber penghasilan Anjani jauh lebih menguntungkan dan tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga.


***


Satu bulan berlalu, hasil panen yang sudah menjadi hak Anjani oleh sebab perjanjian pegadaian waktu itu sudah ia terima. Belasan karung padi yang sudah kering dan sudah terbebas dari gabah disimpan di dapurnya yang berlantai semen.


Hidup mereka makmur, beras sudah tak perlu lagi mereka beli. Meskipun uang yang Anjani gadaikan belum dikembalikan, tapi ia sengaja tidak menagihnya untuk keperluannya nanti di masa mendatang.


Selama itu, hubungan Adwi dan Anjani berlangsung baik. Tidak ada pertengkaran yang terjadi diantara mereka. Teh Wiwit yang merupakan seorang tukang kredit pun sudah tak lagi keliling kampung bersama Laras, ia menggantikan Laras dengan kerabatnya yang lain.


Hingga suatu waktu, ada hal yang mengharuskan Anjani agar kembali memaksa Adwi untuk tidak bermain terlalu larut.


Malam itu Anjani dikejutkan oleh suara geger yang terdengar dari luar rumahnya. Ia mengintip kawasan yang sepi dan gelap itu dari balik jendela. Cahaya lampu senter yang dibawa oleh para warga menyorot dengan jelas.


Ia pikir ada yang meninggal lagi, dan mereka bergegas untuk menggali kuburan di dekat rumahnya. Tapi Anjani heran, rasanya ia tidak mendengar pengumuman orang meninggal, dan kenapa para warga itu terlihat berlarian?


Anjani penasaran dan keluar dari rumahnya untuk bertanya-tanya. Ternyata, itu adalah para warga yang sedang meronda dan tengah mengejar seorang pencuri yang berlari melewati rumah Anjani.


Dari kejadian itu Anjani semakin takut ditinggal malam hari di rumah, ia mencoba untuk memberitahukannya kepada Adwi ketika Adwi pulang.


"A, semalem ada maling yang lewat ke sini. Aku takut A. Aa jangan main lama-lama." Ucap Anjani baik-baik.


"Iya, aku tau." Adwi baru saja pulang pukul 2 dini hari. Info seperti itu mudah ia dapatkan karena ia bermain di area terbuka bersama orang yang pulang pergi setiap saat.

__ADS_1


"Ya udah, paling malem aku pulang jam 11." Ucap Adwi tanpa emosi.


Perkataannya itu membuat Anjani merasa ragu. Apa Adwi sudah sadar kalau penjahat itu selalu berkeliaran dimana-mana apalagi di tengah kegelapan? Atau ia hanya akan mencekal kata-katanya itu dalam satu malam?


__ADS_2