
"He ee.. Bapak kamu kemana? Mamah udah gak kuat!"
Tiba saatnya Anjani untuk melahirkan. Ia sudah terbaring di atas ranjang bersalin, dengan tangisan yang menderai seluruh wajah. Namun, tindakan apapun belum diberikan kepadanya.
"Bapak sebentar lagi nyusul Mah, udah Mah, ayok kita berangkat sekarang aja, kasian adiknya takut kenapa-napa." Laila menggenggam erat tangan Anjani.
Dokter bilang, Anjani tidak bisa melahirkan secara normal. Janin di perutnya bermasalah, ia harus melakukan proses operasi, dan untuk operasi, Anjani harus pergi ke rumah sakit.
Tapi Anjani tak mau pergi tanpa didampingi oleh suaminya. Ia takut, ini adalah kali pertama dirinya harus dioperasi. Adwi entah di mana dan sekarang yang ia lihat hanyalah Laila dan tetangganya.
Hingga setelah 4 jam keluarga dari 2 belah pihak datang secara bersamaan. Tak lupa, Adwi juga turut di sana. Kala itu, Anjani meminta untuk diberi waktu berdua di dalam ruangan.
"A, kata dokter aku harus dioperasi hiks.. hiks. Aa sanggup gak buat biayanya?"
Masih dengan air mata, Anjani meminta persetujuan Adwi. Sebenarnya ia menunggu karena ini, ia takut Adwi tidak mau menanggung seluruh biaya yang dibebankannya. Salah-salah, jika bertindak sendiri, maka Adwi akan murka seperti dahulu.
"Yaudah, tinggal berangkat apa susahnya?" Tanpa sedikit melihat Anjani, Adwi hanya berdiri angkuh dengan wajah yang jengah.
Raut wajah Anjani langsung terlihat senang. Walau sadar tak pernah nampak sepeserpun uang, tetapi Adwi pasti mengusahakannya. Ia sudah tak tahan, dirinya ingin segera dipindahkan ke rumah sakit.
Bayangan kalut terus muncul di setiap pikiran Anjani. Nasib bagaimana nanti, yang penting Adwi sudah setuju dan Anjani tidak akan merasa bersalah jikalau dirinya atau anaknya tidak selamat.
Tentu sebenarnya Adwi dipusingkan oleh biaya. Ia tak menyangka bahwa kali ini istrinya harus bersalin dengan cara operasi, tapi uang jutaan yang entah dari mana dengan segera sudah diserahkan. Proses bersalin berjalan lancar dan kali ini bayinya laki-laki lagi.
"Adwi, mana ikan gabus sama telurnya? Kok belum juga beli? Kasian istri kamu obatnya juga mau abis." Ucap Emak yang tengah duduk di samping Anjani.
Anjani yang perdana melakukan operasi tengah terbaring bersama anak bayinya. Luka bekas operasinya masih basah, dan sebenarnya Anjani sekalian disteril agar tidak mempunyai anak lagi.
"Iya Mak, lagi pesen dulu sama temen." Jawab Adwi.
__ADS_1
Sudah hampir seminggu namun Adwi tak memberi asupan gizi yang baik untuk Anjani. Bahkan, di sini Emak malah dibebani, ia yang selalu membeli bahan pangan keluarga dengan uangnya sendiri.
Adwi tak punya uang, namun ia berhasil mendapatkan apa yang tadi Emak minta. Ia kesal selalu terus-terusan ditagih oleh Emak hingga akhirnya mengusahakannya.
Sementara itu, Laila kini tengah sibuk mencuci. Walau jijik, tapi ia selalu rajin membersihkan popok dan pakaian adiknya sendiri. Tak pernah mereka membeli popok sekali pakai, yang ada saja sudah bekas turun temurun.
"A, besok Si Adek harus diimunisasi, aku mau minta uangnya."
Satu bulan berlalu dan Anjani sudah bisa beraktifitas. Walau sebenarnya luka operasi itu masih terasa sakit dan mengganjal.
"Hihh.. Boro-boro punya uang, liat aja seharian ini aku gak keluar."
Peternakan yang Adwi tempati mengalami kebangkrutan. Dan sudah satu bulan Adwi hanya mengandalkan hasil kebun dan serabutan. Semenjak itu juga Adwi lebih sering keluar rumah, bukan kerja melainkan nongkrong di pertigaan.
"Dua, empat, tujuh ... Angka apa ya yang keluar? Aku udah mimpi dapet petunjuk dari makam kakek! Harus segera dicek nih!"
"Kek, do'ain aku yang menang. Kakek panggil aku ke sini karena itu kan?"
Sendirian di tengah kegelapan, tak ada rasa takut dan Adwi juga sama sekali tak gentar. Dengan santainya ia kembali lagi menuju rumah.
Lalu, malamnya Adwi menggerutu, pasalnya ia sudah memasang namun bukan ia pemenangnya.
"Sial! Padahal tinggal benerin satu angka! Duuh, kalo aja aku milih yang itu, udah pasti aku menang berjuta-juta! Udah dapet petunjuk dari kakek malah kayak gini!"
Anjani yang mendengar perkataan itu langsung terkejut. Ia memang sudah tahu bahwa Adwi sering bermain judi. Sudah dilarang tapi Adwi tidak mau menuruti. Akhirnya Anjani mengijinkan dengan syarat uang judi dipisahkan dengan uang untuk memberi nafkah.
Tapi petunjuk apa yang Adwi maksud? Anjani segera menanyakannya.
"Maksudnya apa A bawa-bawa Kakek? Kakek yang mana? Kakek kan udah meninggal?"
__ADS_1
"Ya kakek aku lah, semalem aku mimpi didatengin kakek, katanya kalo mau menang aku harus jengukin kakek ke makam. Udah capek-capek ke sana tapi tetep gak menang, padahal tinggal dikit lagi."
"Astagfirullah A, jangan percaya sama yang kayak begituan. Itu musyrik A namanya."
"Alah, lagian aku cuma nyiram makamnya doang."
Hari-hari, Adwi tak pernah berhenti bermain judi. Walau begitu ia tak pernah luput menafkahi keluarganya meski hanya 10 ribu sehari. Karena jikalau ia hanya asyik bermain judi, Anjani mengancam akan melabraknya bersama anak-anak yang tentunya akan membuat Adwi terkepung malu.
Di sela masa yang sulit ini, Laila terus bolak-balik mengucapkan suatu permintaan. Di pahanya terdapat borok yang semakin hari semakin kian membesar.
"Mah, kapan mau beli obat? Ini gatel banget ihh."
"Mintanya sama bapak kamu, jangan sama Mamah."
Anjani tengah repot mengasuh 2 anak. Yang satu tak lepas-lepas menyusu, dan yang satu ingin digendong karena memang dirinya masih kecil.
Setiap hari Anjani repot, anak-anaknya juga tak bisa diam, bahkan bekas operasi yang belum sembuh total sering ditendang oleh si pengais bungsu.
Semenjak ada adik baru ia menjadi rewel dan nakal, mungkin ia iri kepada adiknya itu. Alhasil Anjani yang masih menahan sakit harus menggendong dua orang anak.
Laila enggan kembali mengasuh adiknya. Boroknya kini makin infeksi dan mulai menyebar kemana-mana. Ia tak mau beraktifitas, dirinya takut membuat lukanya kotor.
"Teteh! Anak kamu kenapa dibiarin kayak gini? Kenapa gak diobatin? Badan sebagus-bagus sekarang malah kayak gini lagi."
Tiba saatnya Emak datang berkunjung. Ia melihat Laila yang hanya bisa menangis dengan borok di sekujur tubuh bahkan di seluruh telinganya.
Laila merasa tersiksa, sudah 2 bulan ia bolos PKL dan untuk meminta diperiksa ia sudah menyerah. 2 bulan ini juga dirinya tak bisa tidur, karena kalau tidur secara tak sadar ia akan menggaruk lukanya dan membuatnya basah berdarah.
Anjani maupun Adwi tak pernah tahu bagaimana rasanya Laila menahan kantuk, perih, dan gatal yang menyiksa. Laila selalu mengurung diri di kamar, sedangkan mereka tak pernah sekalipun menengok Laila.
__ADS_1