
Laila pulang tanpa langsung memberikan kabar bahwa dirinya berjualan di kampung Emak. Ia malah langsung bertanya kepada Anjani, dan pertanyaannya membuat Anjani langsung terkejut.
"Kirain Mamah lagi dagang, katanya Mamah jualan donat di sekolah ya? Kok sekarang enggak? Atau lagi libur dulu?" Tanya Laila tersenyum bangga, ternyata ibunya ini memiliki keinginan untuk berbisnis juga Namun, ia melihat wajah Anjani yang nampak gundah.
Anjani berpikir, ternyata kabar dirinya yang berjualan sudah sampai ke kampung Emak. Kenapa bisa begitu? Padahal ini bukan info penting dan Anjani tidak pernah melihat orang kampung Emak membeli dagangannya. Tapi ya mungkin ada orang sini yang memang punya kerabat orang sana dan langsung menyebarkan gosip yang tidak penting ini.
Orang kampung Emak memang comel-comel, selain comel mereka suka jajan, jadi mungkin Laila memanfaatkan peluang saat berada di tempat Emak.
"Gak dibolehin sama Bapak." Ucap Anjani sendu, ia teringat saat dirinya dimarahi oleh Adwi dan memutuskan untuk berhenti jualan saja.
__ADS_1
"Loh? Kenapa? Donatnya aneh ya? Ayo Mah, Ila ajarin, nanti Ila bantu jualannya."
Laila tahu ibunya ini tidak pandai memasak kue-kuean. Berbeda dengan Anjani, Laila hampir bisa memasak segalanya.
"Iya sih donatnya aneh, kadang empuk kadang enggak, tapi Bapak kamu ngelarang Mamah jualan bukan karena itu. Dia ngerasa diejek karena orang-orang ngiranya Mamah jualan karena bapak gak ngebiayain keluarganya." Ucap Anjani jujur.
"Hidup kok dengerin kata orang-orang? Kalo masih ngenafkahin kenapa harus tersinggung? Bagus dong Bapak sadar kalo harga dirinya udah jatuh, tapi kok dia gak berusaha jadi yang lebih baik? Dengan gaji bapak yang saat ini, dan hutang kemana-mana, bukannya bagus kalo Mamah berbisnis juga? Ila bakal modalin Mamah, besok kita jualan lagi, gak perlu peduliin kata-kata Bapak, kita gak bakal bisa sukses kalau bukan kita yang memulainya, percuma ngandelin Bapak."
Pagi sekali Laila terlihat sibuk menggoreng dan juga menghias donat. Adwi yang melihat anaknya sibuk itu terlihat kesal tanpa berani untuk mengatakannya.
__ADS_1
Walau tak dibantu oleh Anjani, Laila merasa yakin dengan donat buatannya ini. Ia tersenyum senang membayangkan donatnya akan laku diserbu banyak anak-anak.
"Ayo Mah kita berangkat." Laila sudah bersiap-siap tinggal menjinjing box besar yang sudah diisi donat.
"Kamu aja ya, Mamah takut digosipin sama orang-orang."
Adwi sudah pergi bekerja, tapi Anjani merasa ragu, jika ia berjualan dengan Laila, pasti orang-orang akan semakin memandang jelek Adwi. Ia tak mau mendapat omelan Adwi lagi.
"Yaelah Mah, masih aja takut sama omongan orang. Ila bosen kalo dagang sendirian, gak ada temen buat ngobrol."
__ADS_1
Terpaksa Anjani pun pergi menemani Laila karena Laila terlihat sangat sudah siap bersama donatnya. Sayang kan kalau tidak dijualkan? Laila memang pemalu kalau di kampungnya, ia jarang keluar rumah dan bahkan ada tetangga yang Laila tidak tahu siapa namanya.
"Neng, abis jualan lagi ya? Itu siapa? Kok perasaan baru liat." Salah seorang tetangga menyapa Anjani dan Laila yang tengah berjalan pulang.