Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Beralih Profesi


__ADS_3

4 tahun sudah berlalu, sekarang Laila sudah berusia 6 tahun dan Anjani juga sudah memiliki keturunan lagi. Anak yang satunya adalah laki-laki. Dari dulu, seorang anak laki-laki memang sangat dinanti-nanti oleh Adwi.


Namanya adalah Riki, sesuai dengan nama yang diusulkan oleh Adwi ketika ia ingin menamai Laila saat masih di dalam kandungan. Kelahiran anak laki-laki itu membuat sebagian warga mengira bahwa ia adalah anak bawaan Anjani dari di luar negeri.


Padahal, ia baru hamil setelah 4 bulan tinggal di kampung. Tapi Anjani tidak memedulikannya, ia tidak merasa kesal dan warga pun juga melupakannya. Memang, hari-hari berlalu terasa cepat, seakan hari itu Anjani memang baru saja pulang.


Tahun ini, Adwi berniat untuk mencalonkan dirinya sebagai kepala desa. Entah apa yang merasuki dirinya, tapi Anjani tidak yakin bahwa Adwi itu memiliki jiwa kepemimpinan. Memimpin rumah tangga saja ia masih tidak becus, apalagi memimpin satu kampung. Pikirnya.


"Kalo udah jadi lurah, Aa gak bakalan main tengah malem lagi dong?" Tanya Anjani kepada suaminya.


"Iya, iya, aku gak bakal main malem-malem lagi. Paling cuma kalo ada urusan aja."


Sebagai seorang lurah, seharusnya Adwi menunjukkan sikap yang baik agar menjadi contoh bagi masyarakatnya. Meskipun ia tidak melakukan hal yang buruk, tapi ia harus berhenti bermain di tempat-tempat yang sudah tercela seperti itu.


Berdekatan dengan hari pencoblosan, Adwi menyebarkan selembaran poster yang menunjukkan foto dirinya. Memakai jas hitam, peci hitam dan dasi merah, seperti foto seorang presiden.


"Ahaha... aku baru kali ini liat Aa pake setelan kayak gini." Ucap Anjani melihat selembaran itu di tangannya.


"Dulu waktu kita nikah kan aku juga pake." Ucap Adwi merasa biasa saja.


"Tapi itu kan beda A. Aahaha..." Anjani terus saja tertawa dan membuat Adwi merasa sedang diejek.


"Tampan gini ya aku?" Adwi sangat merasa percaya diri.


"Kamu do'ain, biar aku nanti menang di hari pencoblosan." Lanjut Adwi meminta do'a istrinya.


"Hmm.. iya A, aku do'ain." Walaupun sedikit ragu, tapi Anjani tetap mendukung suaminya.

__ADS_1


Pria lulusan SMP itu dengan mudah diterima menjadi seorang calon. Untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa, Adwi harus menjadi orang yang dipercaya dan juga ia harus mengeluarkan uang untuk berbagai biaya penyelenggaraan pencoblosannya.


Malam sebelum hari pencoblosan tiba, kerabat-kerabat pada berdatangan ke rumah Anjani termasuk Emak dan Abah. Emak juga membawa ayahnya (Kakek Anjani) datang ke sana.


Emak datang bersama Kakek tak lain karena suatu alasan. Agar bisa memenangkan suara yang paling banyak, Kakek datang untuk membantu mereka. Bisa dibilang ia seperti dukun, ia ahli dalam menerawang dan suka membantu permintaan orang.


"Wi, kamu mau menang gak nanti pas pencoblosan?" Ucap Kakek yang ingin menawarkan jasanya.


"Ya mau Kek." Jawab Adwi.


"Kalo gitu ambilin air di gelas yang bening." Titah Kakek.


Adwi pikir kakek sengaja memerintahnya karena ingin minum. Adwi pun mengambil air di gelas kaca sesuai perintah Kakek. Lalu kakek melepas cincin dari jarinya dan memasukkannya ke dalam air itu.


"Liat, batunya nyala kan?" Kakek yang duduk di atas kursi itu menunjukkan gelasnya kepada semua orang.


"Ini batu mahal loh, langka, kalian gak pernah liat kan yang kayak gini? Kakek beruntung, ini batunya hasil nemu." Ucap Kakek ikut membuat Laila melongo.


'Wahh... kalau batu yang warna merah gitu aku juga suka liat di kebun. Nanti kalau Bapak ke kebun lagi aku ambil ahh...'


Yang dimaksud oleh Laila bukan batu akik, melainkan biji-bijian yang berjatuhan dari pohon kayu. Ia yang suka ikut kemana-mana itu sering ikut juga ke kebun bersama dengan ayahnya. Laila pikir, biji itu juga sama seperti batu yang dimiliki oleh moyangnya.


"Sekarang kalian coba duduk di atas sini." Kakek menyerahkan 2 buah tempurung kelapa.


"Emang buat apa Kek?" Adwi menerimanya, tapi ia merasa keheranan.


"Duduk saja, nanti tempurung ini bakalan muter sendiri." Ucapan Kakek sontak membuat Adwi dan Anjani tidak percaya, begitupun yang lainnya.

__ADS_1


Dengan perasaan ragu, mereka berdua pun duduk di atas tempurung yang ujung runcingnya menempel di lantai. Kakek bilang, tempurung itu akan berputar beberapa putaran, dan jika putaran itu berakhir tanpa ada yang jatuh diantara mereka, maka nasib baik akan menimpa mereka.


Beberapa saat Kakek terlihat fokus, dan setelah itu tiba-tiba tempurung kelapa yang berdiri tidak seimbang itu berputar pelan dengan keseimbangan yang terjaga. Bak sebuah pertunjukkan sulap, tidak ada satu pun tali maupun penggerak yang terlihat sedang menggerakkan tempurung itu.


"Kek, ini kok gerak?" Anjani merasa panik, jantungnya langsung berdetak kencang.


"Kamu diem aja." Ucap Kakek membuat Anjani terdiam.


Semuanya jelas diam dan memperhatikan. Bagaimana bisa tempurung itu berputar dengan menopang beban puluhan kilo? Terasa aneh, tapi akhirnya tempurung itu pun berhenti tanpa ada satu pun yang terjatuh diantara mereka.


"Hahh.. kok bisa begini?" Anjani menarik nafas lega.


"Itu lah, keberuntungan sedang ada di pihak kalian." Ucap Kakek.


"Sekarang kamu Adwi, letakkan dua butir telur ini di depan rumah. Malam ini kamu harus tetap terjaga di luar rumah hingga pukul 12 malam." Lanjut Kakek ternyata ritualnya belum selesai.


"Yaudah Kek, kalo kita udah beruntung jangan dilanjutin lagi, aku takut." Anjani merasa cemas, ia takut tindakan yang sedang mereka lakukan ini dapat menyekutukan tuhannya (musyrik).


"Katanya kamu pengen suami kamu yang menang? Walaupun ada keberuntungan tapi belum tentu besok suami kamu bisa menang atau nggak. Kalo gak menang kan uang yang udah dikeluarin jadinya sia-sia." Ucap Kakek membuat Anjani mempertimbangkannya.


Untuk biaya pencalonan yang Adwi keluarkan ini sekarang sudah habis hingga 4 juta. Uang itu mereka ambil dari rekening tabungan yang sudah dari dulu mereka simpan. Anjani merasa sayang jika uangnya habis tanpa mendapatkan sesuatu yang sudah ditujukan.


(Catatan: Tahun itu sudah mulai modern, uang 4 juta itu masih setara dengan uang 4 juta di zaman sekarang. Hanya bedanya, di tahun itu mmm... bisa dibilang tahunnya permen 500 dapat 3 biji. Kalau sekarang kan permen 500 hanya dapat 2 biji.)


Anjani pun menyetujui untuk melanjutkan kembali ritual itu. Tapi ia merasa sedikit khawatir, "Mmm.. si Aa harus sendirian di luarnya Kek?"


"Ditemani juga boleh, asalkan bukan sama Kakek dan bukan sama perempuan." Ucap Kakek.

__ADS_1


__ADS_2