
Laila bersikeras menyelesaikan pekerjaannya selama 2 minggu lagi. Anjani tidak bisa menahannya, memang agak sama dengan pekerjaan yang sehari-hari Laila kerjakan di dalam rumah, tapi Anjani tahu bahwa dirinya tak kan mampu mengupah Laila jikalau Laila bekerja di dalam rumahnya sendiri.
Andai menjadi orang yang berada, Anjani tak akan tega membiarkan gadis kecilnya bekerja di bawah kuasa orang lain. Ternyata tubuh yang gemetar itu bukan karena belum terbiasa, tapi memang pekerjaannya terlalu berat dan tanpa jeda.
Walau mandi kemalaman dan sakit badan setiap hari, Laila tetap menjalankan pekerjaannya dengan senang hati. Ia semakin bersemangat untuk menunjukkan potensi, karena sebentar lagi dirinya akan keluar dari toko itu.
2 minggu berlalu dan sumber penghasilan itu segera Laila tinggalkan. Sekarang Laila sudah memiliki cukup bekal untuk pergi melamar di PT yang diinginkannya. Laila segera melengkapi persyaratan dan membicarakan hal ini kepada orang tuanya.
"Kamu yakin mau kerja di PT? PT itu beda sama toko, di sana penuh aturan, kamu gak bakal bebas." Tanya Anjani mengkhawatirkan Laila.
"Aku yakin Mah, aku pasti bakalan betah."
Laila amat sangat antusias. Ia yakin dirinya akan bisa, kerja di bawah tekanan ia sudah terbiasa. Namun, Anjani selalu mengatakan sisi buruk jikalau Laila pergi merantau. Ia membujuk Laila untuk tidak pergi dan malah menyuruh Laila kembali bekerja di Toko Bu Yeyet.
Bukan karena apa, Anjani khawatir karena PT yang dituju Laila jauh berada di luar kota. Dan lagi, Laila tak punya teman atau kenalan untuk menemaninya. Walaupun diantarkan oleh pihak sekolah, tapi Anjani khawatir jika membiarkan gadis kecilnya pergi jauh berkelana tanpa ada kenalan.
"Hiks.. hiks.. kenapa gak bilang dari dulu kalo gak mau izinin? Kan aku gak usah bolak-balik sana sini buat nyiapin persyaratannya."
Laila menangis, butuh perjuangan juga untuk Laila melengkapi semua persyaratannya. Saat semuanya sudah siap, orang tuanya tidak mengizinkannya untuk pergi. Tentu Laila merasa sangat kecewa.
__ADS_1
Melihat Laila yang memang sudah mempersiapkan segalanya, akhirnya Anjani dan Adwi mengijinkan. Sekarang Laila merasa senang, ia tengah berkemas untuk esok ia berangkat.
"Semoga dilancarin rezekinya, dipertemukan sama jodohnya di sana." Ucap Emak yang datang menginap sebelum kepergian Laila.
"Apa sih Emak? Ila mah gak mikirin yang kayak gitu. Gak mau ah, amit-amit, Ila mah gak mau dideketin sama cowok." Laila mendelik, ia yang tadinya senang sekarang menjadi kesal.
Sedangkan Emak tak habis pikir, kenapa cucunya yang satu ini sama sekali belum pernah berpacaran. Padahal Emak lihat anak seusia Laila bahkan di bawah Laila sudah pandai bermain cinta.
"Ya kalo ketemu mah terimain aja." Ucap Emak dengan entengnya.
"Gak mau, pokoknya gak mau! Mau bos PT yang ngajak nikah pun Ila tetep gak mau! Ila masih kecil, belum pantes cinta-cintaan!"
Tibalah hari dimana Laila akan pergi berangkat. Subuh hari itu Laila dijemput oleh mobil sedan yang sudah ada guru BK di dalamnya. Laila sudah membawa pakaian, beras, dan hal lain yang ia butuhkan nanti.
Anjani menatap kepergian Laila dengan perasaan iba. Namun Laila yang pergi meninggalkannya terlihat biasa dengan wajah yang sangat ceria. Mungkin Laila senang, ia bisa meninggalkan rumah yang selama ini memang kacau dan selalu dianggap neraka.
Di rumah, Anjani menatap layar ponselnya, berharap Laila akan segera mengabarinya. Ditunggu-tunggu namun tak ada satu kabar yang muncul, dari pagi Laila tidak terlihat aktif di WA nya.
Malam hari Laila baru mengirim kabar, rupanya ia sibuk beberes kamar dan langsung jalan-jalan keliling kompleks bersama teman satu kamarnya. Laila memberi kabar bahwa ia sudah mendapat teman satu kamar, orangnya baik dan Laila juga mengirim foto kedekatannya dengan teman sekamarnya.
__ADS_1
Ditatapnya foto anak gadisnya itu. Laila sangat cantik, pipi dan matanya bulat, rambutnya lurus kemerahan tanpa dicat. Anak-anak Anjani memang sering dikatai bule oleh orang-orang, mereka memiliki kulit yang putih dan rambut yang tidak hitam.
Satu, dua, bulan Laila bekerja masih terus memberi kabar bahwa dirinya baik-baik saja. Anjani yang berada di rumah sering kedatangan sembako yang Laila pesan secara online, Laila sangat mengerti, di rumahnya jarang ada makanan.
Selama Laila bekerja di luar kota, asupan keluarga jadi lebih membaik. Laila tidak pernah mengirim uang, tapi ini saja sudah cukup dan sebenarnya Anjani merasa tak layak mendapat bantuan dari anaknya.
"Bapak udah pulang belum Mah?"
Petang itu Anjani menerima telepon dari Laila. Laila memang sering menelpon jam segini, katanya ia baru pulang kerja dan mungkin tengah memulihkan energinya dengan menelpon keluarganya.
"Udah, tuh bapak kamu lagi diem, kenapa? Kangen?" Tanya Anjani tersenyum ke arah Adwi. Adwi yang merasa tengah dibicarakan pun langsung menoleh dan cengar-cengir.
"Hehe.. Bapak sehat kan? Udah makan belum?" Tanya Laila.
"Sehat kok, tadi juga kerja." Jawab Anjani.
"Bapak, ini kata Laila cepet makan, nanti sakit." Teriak Anjani kepada Adwi.
Entah kenapa Laila jadi lebih sering menanyakan keadaan ayahnya. Padahal dulu jelas betul Laila melontarkan kepada Anjani bahwa dirinya sangat benci kepada ayahnya. Tapi sekarang ia terdengar perhatian tapi justru itu lebih baik.
__ADS_1