Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Berenang


__ADS_3

Dini hari mereka sampai juga di tempat tujuan. Laila dan Riki masih tertidur, bersandar pada sandaran kursi. Adwi pun memutuskan untuk ikut tidur di dalam bis juga.


Hanya sebentar mereka terlelap, dan pukul 4 pun mereka sudah terbangun. Adwi mengajak anak-anaknya untuk pergi ke kedai mie instan, sebelum itu mereka pergi ke toilet untuk membasuh mukanya.


Laila merasa aneh degan pijakannya, berwarna coklat muda dan juga kasar seperti serbuk. Apa ini pasir? Kenapa pasirnya ada di sini? Padahal di sini kan tidak ada laut? Segera Laila menanyakannya kepada ayahnya.


"Pasirnya bukan cuma di laut aja, tapi di daerah sini tanahnya emang berpasir." Jelas Adwi membuat Laila mengerti.


Saat matahari mulai terlihat cerah, mereka pun pergi ke pantai mengikuti rombongannya. Tak butuh waktu lama, pantai sudah terlihat dari kejauhan. Tetapi pandangan Laila teralihkan oleh sebuah bangkai kapal besar yang terdampar di pesisir pantai.


"Ila, jangan ngelamun, liatin jalannya nanti kamu kepisah sama Bapak gimana?" Ucap Adwi risih.


Laila pun melanjutkan perjalannanya, ia sudah tak sabar ingin melihat banyak kelomang yang berjalan di tepi pantai.


Tapi, saat sampai di sana, tak satupun Laila melihat hewan kecil yang tengah berlarian seperti yang ada pada bayangannya. Ia terus bertanya kepada ayahnya di mana letak kelomang itu, tetapi Adwi juga sama sekali tidak tahu.


Memang sedikit aneh, teman-teman Laila berkata bahwa pasir di sana itu berwarna putih, tetapi pantai yang Laila kunjungi saat ini berpasir kuning. Apa mereka salah pantai? Padahal benar, dari namanya, pantai ini lah yang juga dikunjungi oleh teman-temannya.


Laila mengedarkan pandangan dari ujung utara ke ujung selatan, ia tidak melihat adanya pasir putih di sana. Semua warna pasirnya sama, segera ia menanyakannya kepada ayahnya.


"Pak, pantai yang pasirnya putih di mana?" Tanya Laila tetapi Adwi tidak tahu. Tapi ada seseorang yang mendengar pertanyaan Laila kemudian ia menjawabnya.


"Pasir putih di sebelah sana Dek," orang itu menunjuk ke arah yang berlawanan.


Mereka pergi ke pantai sebelah barat, tempat matahari terbit. Sedangkan tempat kelomang adalah pasir putih, yaitu di sebelah timur.


Laila langsung mengajak ayahnya untuk pergi ke sana, tetapi Adwi menolak. Semua rombongan datang ke pantai sebelah barat, ia juga tak tahu dan takut terpisah dari rombongan jika dirinya pergi jauh-jauh.

__ADS_1


Untuk membujuknya, Adwi mempersilahkan Laila untuk membeli aksesoris cantik yang banyak di jual di sana. Laila memilih sebuah gelang, sangat khas dengan nuansa pantai. Ia juga membeli satu gelang lagi yang akan ia berikan kepada Reva.


Lalu Laila meminta lagi sesuatu yang tidak diperbolehkan oleh Adwi. Ia ingin menyewa papan selancar karena temannya juga bilang mereka pernah berselancar.


Namun Adwi menolak, ia tak ingin mengambil resiko. Walau Laila meminta ditemani dan berjanji akan berenang di tepi pantai, tetapi Adwi takut terjadi apa-apa. Ia bukan hanya mengawasi Laila saja, tetapi juga dengan Riki.


Saat mereka masih berdiri di sana, datanglah seorang juru potret. Ia menawarkan jasanya untuk mengambil foto mengabadikan momen-momen liburan yang sangat langka ini.


Adwi langsung setuju, ia membiarkan kedua anaknya dipotret terlebih dahulu. Laila dan Riki berdiri kaku, mereka tidak membuat ekspresi apapun, tetapi...


"Ckrek!"


Fotografer itu langsung saja mengambil gambar mereka. Kemudian Adwi meminta satu foto lagi, ia akan ikut berfoto bersama anak-anaknya.


"Ckrek!"


Cukup dua foto saja, setelah mengambil foto mereka menunggu sejenak untuk foto itu dicetak. Juru foto itu entah pergi ke mana, ia bilang mereka hanya cukup menunggu di sini saja.


Kemudian Adwi melanjutkan perjalanan untuk mendekati air laut. Ada banyak orang yang tengah berenang jauh dari tepi pantai, tapi Adwi hanya mengajak anak-anaknya untuk berenang pada air yang dangkal. Kira-kira airnya itu hanya sampai ke pangkal betis Adwi.


Saat melangkahkan kaki, Laila merasa pusing melihat ombak yang datang lalu pergi. Rasanya laut ini tengah bergoyang, Laila merasa takut dan langsung berjongkok di atas air, ia tak berani berdiri karena takut keseimbangannya roboh.


Saat merasakan hembusan ombak di dalam air, Laila segera menghanyutkan kertas yang sudah ia sakui di dalam kantung celananya. Tiba-tiba ia mendapati sesuatu di tangannya. Cangkang kerang, warnanya putih dan kecil-kecil, ja teringat saat mencari remis di sawahnya.


"Wahh.. ada kerang!" Ucap Laila lalu ia kembali menadahkan tangannya di dalam air laut.


Adwi hanya berdiri, ia tak mau pakaiannya basah. Ia hanya asyik mengambil foto anak-anaknya menggunakan sebuah hp yang kini hp nya sudah berubah menjadi android.

__ADS_1


Tidak seperti yang dipikirkan oleh Anjani, Adwi bahkan tidak membuka pakaiannya. Ia mengenakan jaket kulit dan juga celana jeans panjang, tak ada niatan dirinya untuk memperlihatkan tubuhnya di tepi pantai.


Mereka tak lama tinggal di sana, Adwi merasa bosan karena sedari tadi ia hanya memperhatikan. Adwi pun mengajak anak-anaknya untuk kembali ke parkiran.


Segera Adwi menemani kedua anaknya untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, pakaian Laila begitu penuh dengan pasir. Ia heran, padahal dirinya tidak bermain pasir.


Sementara anak-anaknya membersihkan diri, Adwi menyeruput kopi masih di tempat yang sama. Tempat itu menyediakan makanan dan minuman hangat, juga kamar mandi umum yang menyediakan air hangat juga.


Selesai Laila dan Riki membersihkan diri, Adwi tidak ikut membersihkan dirinya. Ia tak bisa meninggalkan anaknya ataupun menitipkan anak-anaknya kepada orang lain. Adwi hanya mengajak mereka keluar dan melihat-lihat pemandangan sekitar sana.


"Pak, aku mau es krim." Pinta Laila saat melihat orang lain juga membeli es krim.


Laila begitu banyak maunya, sedangkan Riki, ia hanya diam saja dan mengikuti apa yang dikatakan oleh anaknya.


Lalu Laila mengambil sendiri es krim yang ia mau. Agar tidak berebutan, Adwi pun mengambil es krim yang sama untuk Riki. Hanya es krim corong, tapi harganya lumayan mahal, hampir 20 ribuan untuk satunya.


"Pak takut, ada domba!" Ucap Laila saat tengah duduk memakan es krim di samping vila.


"Itu bukan domba, itu rusa. Rusanya gak gigit kok, tuh liat, dia juga lagi makan." Ucap Adwi menenangkan Laila.


Vila itu berada di pinggiran parkiran. Di sana banyak monyet dan rusa yang berkeliaran tanpa penjagaan. Rusa juga terlihat tengah memakan makanan yang ada dalam keranjang sampah.


Laila takut es krim nya akan di makan oleh rusa, ia segera bersembunyi di balik punggung ayahnya. Lalu seseorang dari belakang mencoleknya, menawarkan beberapa buah jeruk kepadanya.


"Ehh Neng Ila, ke sini juga? Sama siapa?" Itu adalah Pak Guru, wali kelas Laila di kelas empat.


Kenapa Pak guru juga ada di sini? Bukankah seharusnya ia berada di sekolah? Laila heran, tapi ia tahu tata krama dan langsung mencium tangan gurunya.

__ADS_1


"Sama Bapak Pak, sama adek juga. Makasih Pak." Ucap Laila tersenyum sambil menerima jeruknya.


Adwi pun menoleh, ia tak tahu kalau guru itu mengajar di sekolah Laila dan kenal juga kepada Laila. Tetapi Adwi tahu dengan guru itu, ia adalah salah satu perangkat desa.


__ADS_2