Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Berakhir


__ADS_3

2 hari beruntun setelah panggilan telepon itu, keduanya masih saling belum terlerai. Tangis sesenggukan dan cercaan yang selalu diulang, diputar, dan masih itu itu saja menjadi makanan bagi anak-anak di dalam rumah.


"Sana pulang kamu ke rumah orang tua kamu! Ngapain di sini mulu? Sampein tuh mantan kamu nanyain kabar Emak, Emak pasti juga masih inget sama mantan kamu yang baik itu."


Walau di hadapan anak-anak, Adwi tetap melakukan pertengkaran dan membentak-bentak Anjani. Anak-anak tengah berkumpul, mereka menangis tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sementara itu Laila tak pernah keluar kamar, ia sudah pusing, ia akan pasrah jika kedua orang tuanya memang akan pisah.


"A, jangan kayak gitu, hiks.. Hiks.. Aku sayang sama Aa, gimana nasib anak-anak kita?"


Anjani berlutut di hadapan suaminya. Dengan tubuh yang sudah sangat gemetar, dilihatnya seluruh anak-anaknya yang masih kecil dan polos. Riki terlihat memeluk lutut, ia juga meneteskan air matanya.


"Iya, udah, anak-anak biar sama aku, sana kamu pulang aja samperin tuh mantan kamu biar kamu bahagia, gak usah mikirin anak-anak. Kan enak, itu kan yang kamu mau?" Adwi berusaha melepaskan Anjani dari kakinya. Ia masuk ke kamar dan pergi menutup pintu.

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim.. Ya Allah.. Gimana ini?! Gimana nasib aku?! Cabut aja nyawaku Ya Allah! Cabut!!"


Anjani berteriak memukul-mukul dirinya sendiri. Laila yang sedari tadi mendengarkan dan menangis diam di dalam kamar akhirnya keluar karena merasa sangat khawatir.


Penampilan Anjani terlihat sangat kacau, ia bersandar di daun pintu. Dengan tubuh yang ikut gemetar, Laila segera menghampiri dan mengusap punggung Anjani.


"Udah Mah, pisah aja sama Bapak. Aku gak tega liat Mamah begini mulu, Mamah bisa kok hidup tanpa Bapak."


Laila berusaha meyakinkan ibunya, ia memang sudah muak, walau tak tahu nanti akan dibiayai oleh siapa, lebih baik ia hidup tanpa seorang ayah.


Anjani menjadikan anak sebagai alasan. Padahal ia memang ingin mempertahankan Adwi. Karena dulu, di hadapan sang wali ia sudah berjanji untuk tetap sehidup semati. Anjani tak kan memandang pria lain selain Adwi.

__ADS_1


Sorot mata Anjani kian menanar, ini sudah tak beres lagi. Laila memandang ibunya sudah terlihat seperti orang gila. Dengan cepat, ia segera bertindak, memanggil ayahnya keluar kamar.


"Pak, keluar! Ini gimana Si Mamah, jangan dibiarin gitu aja!" Teriak Laila walaupun enggan.


Adwi pun membukakan pintu, melihat ke arah bawah yang mana Anjani sudah terlihat kacau dan duduk merutuk bersikap seperti orang gila.


"Udah, udah, makannya jangan suka banyak tingkah kalo udah punya suami, jadi istri yang bener." Adwi berjongkok dan kala itu Anjani yang menyadari keberadaan Adwi langsung menyergap dan memeluk Adwi. Benar-benar, tingkahnya seperti orang gila.


"Aku sayang sama Aa, aku sayang sama anak-anak, jangan pisah, aku sayang banget sama Aa.." ucap Anjani masih dengan pikiran warasnya.


"Iya, iya, udah jangan dipikirin, aku mau keluar dulu nyari angin."

__ADS_1


Adwi langsung pergi dan Anjani pun tidak menahan kepergiannya. Anjani meminta Laila untuk membacakan ayat suci Al-Qur'an, entah apa tapi saat dirinya terpuruk tadi, ia melihat banyak sekelebat yang lari di hadapannya.


Laila sedikit kecewa, ia berharap ayah dan ibunya pisah. Namun itu sepertinya mustahil, melihat tekad Anjnai yang begitu kuat, ia tak mungkin tega merusak hubungan kedua orang tuanya.


__ADS_2