Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Menghadiri Pesta


__ADS_3

Setelah lama tak berjumpa, Laila terlihat sangat berbeda. Sikapnya menjadi periang, ia jadi lebih sering mengobrol dan banyak bercerita kepada Anjani. Anjani ikut senang, dan hari ini ia diajak Laila untuk pergi berbelanja ke pasar.


Sudah sangat lama Anjani tak ke pasar lagi, Laila terlihat sibuk memilih barang untuk dihadiahkan kepada Rika. Ia menunjuk sebuah bed cover berwarna pink muda yang baginya terlihat sangat menarik perhatiannya.


"Mah, yang ini gimana? Bagus gak?" Tanya Laila yang kini tengah melihat langsung barangnya.


"Kenapa gak yang bunga-bunga aja? Yang gambarnya mirip asli." Anjani lebih suka yang seperti itu.


"Iih Mamah mah, anak muda itu pantesnya yang model begini, bukan yang 3D, apalagi bunga-bunga, kayak orang tua, Teh Rika kan belum tua."


"Hmm terus kenapa nanya Mamah atuh, udah kamu pilih sendiri aja bagusan yang mana. Tapi jangan beli itu, beli sprei aja yang murah, jangan bed cover."


Anjani pikir hadiah itu terlalu mahal dan berlebihan jika diberikan kepada Rika yang bukan siapa-siapanya sama sekali.


"Masa sama keluarga cuma ngado sprei Mah?"


Walau sudah tahu Rika bukan siapa-siapa, tapi Laila selalu saja menganggap Rika sebagau keluarga. Apalagi saat Laila menyebut nama Rika dengan tambahan Teteh di depannya, membuat Anjani ingin meludah.

__ADS_1


Anjani tetap membujuk Laila untuk membeli barang yang murah saja, mengingat uang yang dipakai adalah hasil jerih payah Laila dan lebih baik dipakai untuk Laila sendiri.


Laila pun menuruti perkataan ibunya, ia memilih model pink tadi namun kini versi sprei nya.


Dari sana Laila beralih ke tukang sandal, kemudian ia beralih lagi membeli daging ayam dan berkeliling di sekitarnya. Laila sibuk membeli sembako dan perabotan, tapi kenapa Laila membeli itu? Bukankah uang ini adalah uangnya? Laila malah menggunakannya untuk keperluan rumah tangga.


"Beliin baju kamu aja, jangan beli yang beginian." Ucap Anjani kala Laila sudah membeli sebagian.


"Aku gak pengen beli baju, lagian jarang kemana-mana. Beli ini aja, di rumah kan gak ada."


Anjani pun menuruti apa kata Laila. Mereka berbelanja kebutuhan rumah tangga dan pulang dengan membawa banyak barang.


Laila langsung sibuk ke dapur meninggalkan adik-adiknya di ruang tengah. Laila terlihat duduk berhadapan dengan tepung-tepung dan sebuah ponsel di tangannya. Jika ada bahan, anak itu hobinya memasak, Laila suka bereksperimen mencoba hal yang belum pernah ia coba.


Anjani membiarkannya, ia mungkin tidak ingin diganggu, Anjani hanya memperhatikan sembari menyusui anak bungsunya. Laila terlihat gigih, dan masakan apapun yang dibuat Laila pasti rasanya selalu enak. Laila sudah bisa memasak, ia bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, anak perawannya ini sudah pantas menikah juga.


Tapi tidak, Anjani tahu betul Laila tidak pernah memikirkan hal itu. Hanya saja memang banyak laki-laki yang sudah mendekati Laila, dan Anjani rasa Laila memang pantas mendapat cinta.

__ADS_1


***


"Duit dari mana buat biaya nikah, kenapa juga nikahnya pas lagi susah gini."


Adwi mengeluh atas pernikahan Rika. Sebagai seorang yang dianggap bapak, tentu Adwi harus ikut membiayai biaya pernikahan Rika karena kala itu kakeknya Rika datang ke rumah mendiskusikan soal pernikahan bersama Adwi.


Sebenarnya Adwi disuruh datang ke rumah Rika untuk bertemu keluarga mempelai pria. Tapi Adwi malas, ia tak peduli meski tak tahu siapa calon suami Rika.


Laila menjadi semakin iba kepada Rika. Bahkan, di saat hendak menikahpun Rika tak mendapat perhatian dari ayahnya. Tapi setidaknya Adwi menyumbang 3 juta walau itu pun dititipkan dan sebenarnya uang itu ia pinjam dari Laila.


Tiba juga hari di mana pernikahan itu digelar. Pukul 6 Adwi sudah berada di rumah Rika, rumah yang dulu menjadi saksi bisu pernikahan singkatnya dengan ibunya Rika. Begitu sangat bernostalgia, dan kini Adwi tengah mengganti pakaiannya.


Anjani juga ikut datang, walau sebelumnya ia menolak pergi. Sekarang ia berada di ruangan lain, Mamih, dan kerabat Adwi yang lainnya berkumpul di sana disambut ibunya Rika.


Anjani dan ibunya Rika duduk berdampingan, wanita itu nampak banyak bicara.


"Ini teh Bibi kan? Sekarang Mah kata Rika Bibi udah punya toko ya? Dari dulu masih cantik aja Bi, gak pernah berubah."

__ADS_1


Wanita itu bercakap dengan bibinya Adwi yang dulu memang pernah bertemu dan membantunya. Ia juga terlihat asyik mengobrol bersama Mamih, dirinya begitu fasih berbicara seolah membuat hangat suasana.


Anjani yang duduk di sampingnya sama sekali tidak diajak mengobrol, dan Anjani hanya diam seribu bahasa tak tahu harus bicara apa.


__ADS_2