Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Terpendam


__ADS_3

"A, kalo kamu mau main malem jangan lama-lama, aku takut kalo ditinggal berdua sama Laila."


"Alahh.. lagian gak bakalan ada apa-apa."


Dari dulu Adwi sama sekali tidak mau mendengarkan Anjani. Sikap keras kepalanya tetap melekat di dalam dirinya. Terkadang, Anjani menerima sikapnya itu, tetapi ia tidak sepenuhnya begitu. Tetap saja dirinya tidak bisa membohongi isi hatinya.


"Emang Aa ngapain aja sih di luar?! Padahal siang Aa juga suka main, terus malem Aa juga main lagi, sampe berlarut-larut, gak pulang-pulang. Kalo ada orang jahat yang mau nyelakain aku sama Laila emang Aa gak peduli?!"


Niat tak ingin bertengkar lagi, Anjani malah tidak bisa menahannya.


"Ohh.. apa jangan-jangan Aa main sama cewek ya?! Aa pasti main sama cewek yang pernah dijodohin sama bapaknya itu kan?!" Pikiran-pikiran tidak jelasnya mulai ia lontarkan.


"Mana ada aku main ke rumah cewek." Adwi tidak merasa.


"Dulu Aa bilang kalo Aa pernah dijodohin sama bapaknya cewek yang Aa kenal!"


"Kamu ngomong apa sih? Orang aku gak pernah bilang kayak gitu. Dari dulu kan udah aku bilang, aku cuma main kartu sama temen-temen." Adwi mengelak tentang ceritaannya yang waktu itu.


"Aa emang gak bosen dari dulu main kartu aja? Siang main kartu, malem main kartu, gitu?!"


Anjani merasa heran, apa asyiknya bermain kartu? Yang ia bayangkan, bermain kartu berjam-jam itu suatu hal yang membosankan.


"Ya nggak lah gak bosen. Lagian aku gak ngelakuin apa-apa. Aku main kartunya juga gak taruhan, kok kamu ribut-ribut gitu?"


Adwi merasa hal yang ia sukai telah dilarang oleh istrinya sendiri. Jadi ia tidak terima, Adwi pikir, Anjani hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan kesenangan Adwi.


Tidak mendapatkan hasil yang jelas, kembali Anjani tidak mempermasalahkan masalah itu lebih panjang. Jika Adwi tidak ingin menjaga keluarganya di rumah, maka Anjani sendiri lah yang harus menjaga dirinya bersama Laila.


Tidak ada satu pun perselisihan yang terjadi. Mereka kembali berdamai seakan melupakan kejadian itu lagi. Akhir-akhir ini Adwi juga selalu pulang membawa makanan untuk keluarganya. Kadang Adwi membeli bakso atau martabak dan membawanya pulang. Meskipun asyik bermain dengan teman-temannya, tapi ia masih teringat dengan keluarga yang dicintainya.


Saat Adwi pulang tengah malam, Anjani juga suka terbangun dari tidurnya. Suasana harmonis ikut bersama, Anjani tetap terjaga dan menemani Adwi mengobrol sampai Adwi tertidur pula.

__ADS_1


"Anjani, kamu gak malu gitu kalo kita tinggal di rumah yang seperti ini?" Hari itu Adwi baru saja pulang pukul 1 dini hari.


"Nggak A, tapi aku takut kalo ada orang jahat yang masuk. Dinding rumah ini kan terbuat dari bilik, pasti mudah buat dirusak." Selama ini, itu lah yang Anjani khawatirkan.


"Iya, aku juga pengen ngebangun rumah yang lebih layak buat kamu. Sebelumnya kamu bilang pengen bikin rumah yang bagus kan?" Ucap Adwi membuat Anjani merasa tidak enak.


"Iya A,"


"Gimana kalo kita cicil bahan-bahannya dari sekarang? Aku bakalan ngumpulin uangnya sendiri."


Meski hanya seorang penghasil gula aren, tapi dari sana Adwi dapat meraup untung yang lumayan. Ia tak perlu mengeluarkan modal yang banyak karena pohon-pohon aren banyak tumbuh di kebun milik neneknya.


Setiap pagi dan sore, Anjani selalu membantu Adwi mengolah gula jika Laila sedang anteng. Tidak hanya bentuk jadi yang mereka jual, terkadang banyak juga orang yang memesan air nira yang baru disadap.


Rasa air nira itu manis keasam-asaman, seperti mengandung soda dan terasa segar saat diminum. Air nira itu sendiri juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Orang-orang sering meminumnya langsung atau menghangatkannya terlebih dahulu untuk dijadikan wedang.


"A, uang hasil kerja aku juga masih sisa, mending langsung kita beliin aja. Dulu kan kita udah janji buat bikin rumah itu dari hasil kerja keras kita berdua."


"Makasih ya, kamu udah mau bantu."


Sebagian besar uang 25 juta itu Anjani gunakan untuk menggadai sawah dan juga membeli kebun. Anjani juga hendak membayar kontan tanah yang saat ini ia tempati. Tapi neneknya Adwi menolak, ia berkata bahwa tanah itu akan ia serahkan kepemilikannya kepada Adwi.


Neneknya Adwi memang memiliki tanah yang luas dimana-mana. Kekayaan bapaknya Adwi juga tak lain adalah hasil dari pemberian ibunya, yang saat ini telah menjadi neneknya Adwi. Tanah yang saat ini mereka tempati, juga masih membentang luas ke sebelah kanan.


Kebun-kebun yang terlihat di ujung sana juga masih merupakan kebun neneknya Adwi. Di sana, Adwi mengurus kebun itu karena neneknya memang tidak pernah pergi ke kebun. Ia hanya diam di rumah dan menyuruh seseorang jika ada pohon di kebunnya yang harus dipanen.


Dini hari itu, Anjani asyik mengobrol dengan Adwi. Tak terasa obrolannya itu serasa cepat berakhir. Adzan subuh sudah mulai terdengar, mereka bangkit dan langsung pergi mengambil air wudhu.


"A, kamu mau solat di rumah?" Tanya Anjani melihat Adwi juga menghamparkan sajadah.


"Iya, tapi aku gak bisa jadi imam kamu."

__ADS_1


"A, kamu masih belum hafal bacaannya?"


Setahun yang lalu, Anjani memang jarang melihat Adwi menunaikan ibadah shalat. Ia berkata bahwa dirinya agak lupa dengan bacaan shalat.


Subuh itu, meskipun Adwi tidak hafal benar bacaannya, tapi ia tetap menunaikannya. Mencium tangan sang suami setelah selesai shalat, Anjani meminta Adwi untuk menyempurnakan bacaan shalatnya.


Usai shalat, Adwi menggunakan kesempatan ini untuk tidur. Dirinya harus bangun setelah matahari mulai cerah karena harus pergi menyadap nira. Membiarkan Adwi tertidur nyenyak bersama Laila, Anjani pergi membawa cucian kotor dan mencucinya di kamar mandi.


Selesai dengan pekerjaan rumah, Anjani melihat Adwi masih tertidur. Adwi memang belum tidur semalaman karena bermain di luar dan juga asyik mengobrol bersama Anjani.


"A, bangun, ayo kita makan."


Mentari sudah mulai terlihat, lantas Anjani segera membangunkan suaminya. Mereka berdua makan bersama, sedangkan Laila masih tertidur di kasurnya. Selesai makan, Adwi hendak berangkat menyadap, tapi ia terlihat membawa sebuah buku catatan beserta pulpennya.


"Buku itu buat apa A?" Tanya Anjani merasa heran.


"Aku mau nulis bacaan solat. Nanti selesai nyadap aku mau ke rumah bapak dulu."


Sesuai dengan permintaan Anjani tadi subuh, Adwi berniat untuk menghafal kembali bacaan shalat. Ia akan meminta diajarkan kepada bapaknya yang merupakan seorang guru ngaji.


Seketika Anjani merasa tersentuh, dirinya yang sudah tidak memperbesar suatu masalah berhasil membuat sisi baik Adwi kembali muncul. Beserta do'a yang dipanjatkan Anjani, Adwi berangkat menuju ke kebun.


Sudah pukul 8, dan Laila yang tidur semalaman akhirnya terbangun juga. Anjani mengajaknya makan, tapi ia tidak ingin makan, ia terus saja meminta jajan kepada Anjani.


Anjani dan Laila pun langsung pergi ke warung. Di sana Laila mencari-cari susu botol yang dari dulu sudah menjadi langganannya. Tapi warung itu sama sekali tidak menyediakan susu botol itu. Laila pun tidak mau jajan dan hanya bermain bersama anak-anak lain.


Seperti biasa, banyak ibu-ibu yang tengah berbelanja di sana. Sebagian dari mereka juga membawa anak-anaknya, mulai dari bayi hingga balita.


"Anjani, si Adwi kok suka main ke rumahnya Laras? Laras itu kan mantannya Adwi." Ucap salah seorang ibu-ibu yang berbelanja di sana.


"Laras? Aku gak tau Bu, A Adwi gak pernah cerita soal mantannya." Anjani keheranan.

__ADS_1


"Masa sih? Laras itu kan suaminya lagi kerja di kota, kamu harus curiga, jangan-jangan Adwi ada main di belakang."


Satu wanita lagi yang tidak Anjani ketahui, dan ia memiliki hubungan dekat dengan Adwi. Anjani mulai khawatir kembali, tapi Adwi sudah mulai terlihat baik, ia tak mau membuat pertengkaran dan membuat Adwi benci kepadanya.


__ADS_2