Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Bertahap


__ADS_3

Adwi memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai kuli. Ia membantu berjualan donat dengan motornya. Sekarang ia juga menanami kebun miliknya yang berada di kampung lain dengan tanaman singkong.


Awal Laila berjualan keripik singkong karena di kebun samping rumahnya terdapat tanaman singkong, dan sekarang Adwi memperbanyak lagi tanaman singkongnya agar Laila tak perlu mengeluarkan banyak modal.


"Nih Ila, hasil jualan Bapak. Tapi gak abis sih donatnya, tinggal 2 lagi." Adwi pulang di sore hari, ia menyerahkan uang hasil kelilingnya kepada Laila.


Laila pun menghitungnya, mencatatnya dengan teliti agar terlihat laba dan rugi. Anak akuntansi seperti Laila tentu sudah pandai mengatur urusan keuangan dalam berbisnis, tak sia Laila memasuki jurusan akuntansi.


Usaha keripik singkong Laila masih dijalankan secara mandiri. Singkong di samping rumah sudah habis, Laila tak mau mengeluarkan banyak modal, tapi ia juga tak mau memberhentikan usaha singkongnya untuk menunggu singkong yang baru ditanam berbuah. Ia pun membeli kepada kakeknya yang merupakan bapaknya Adwi, tentunya dengan harga yang lebih murah.


"Pak, kalo kita buka pabrik gimana? Banyak temen yang nawarin buat jajalin keripik singkong kita ke warung-warung. Nanti juga pasti banyak yang pengen bantu bungkusin keripik singkongnya."


Laila jadi membayangkan jika dirinya mempunyai pabrik seperti pabrik kerupuk yang ada di kampungnya. Selama ini Laila hanya menjajalkan keripik singkongnya ke beberapa warung dekat rumahnya. Jika niat, ia akan menjajalkannya ke seluruh warung, tapi malah rezeki yang mendatanginya sendiri.

__ADS_1


"Modal dari mana? Emang kamu punya?" Tanya Adwi.


"Ihh Bapak, bukan pabrik yang gede-gede gitu. Kayak saung aja, yang penting bisa dipake buat goreng keripik."


"Goreng keripik mah di rumah aja. Itu, kita kan punya dapur 2."


"Hmm.. Bapak.."


Laila pun memperbanyak produksi keripiknya setelah dipastikan siapa saja yang akan menjajalkannya. Laila membuat label sendiri, ia punya laptop dan juga mesin print. Untuk sekarang, Laila dan adik-adiknya yang membungkus keripik, sambil memasukkan satu per satu labelnya dan merekatkannya secara manual dengan panas api lilin.


Capek juga ternyata. Satu bal, dua bal, dan seterusnya hingga akhirnya siap untuk dijajalkan. Ali, temannya Laila sewaktu SD yang memang berpengalaman menjajalkan barang ke warung-warung, datang untuk mengambil keripik Laila.


"Wah, yang kayak gini mah pasti abis nih." Ucap Ali melihat keripik Laila. Keripiknya itu bukan diiris tipis-tipis dan bulat, tapi panjang-panjang seperti kentang mustofa. Laila memang menyukai keripik yang seperti itu.

__ADS_1


"Haha, aamiin Li, makasih ya udah mau bantuin, semoga abis, biar kamu ke sini lagi." Ucap Laila tersenyum, ia berharap dagangannya laku.


"Ekhem. Jadi pengen ketemu aku lagi nih?" Ali salah pengertian.


"Ihh bukan itu maksudnya, biar kamu jualin keripik buatan aku lagi." Laila memperjelas.


"Iya sama aja kamu pengen aku ke sini lagi." Ali tak mau kalah.


"Tau ah, Ali nyebelin!"


Laila malas meladeni Ali, ia langsung kembali masuk ke rumahnya. Bukan hanya Ali saja yang menjajalkan jualan Laila. Teman Ali yang masih satu kampung dan lebih tua darinya juga ikut menjajalkan. Jadi ada 2 orang untuk sementara ini.


Melihat Ali, laila jadi teringat, sewaktu SD buku tabungannya masuk ke gorong-gorong selokan dan Ali turun untuk mengambilnya. Padahal selokan itu lumayan dalam, Laila juga tak mengharapkan buku tabungannya kembali, ia merasa jijik dan bisa membeli lagi.

__ADS_1


__ADS_2