
Sekarang adalah hari Rabu, pengeras suara telah mengumumkan kepada semua ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita untuk segera datang ke posyandu.
Sekarang, Anjani dan anak-anaknya sudah siap untuk berangkat. Jaraknya lumayan jauh, apalagi jalanannya menanjak, dan lagi ia harus berjalan kaki karena Adwi sedang pergi ke desa untuk mengurus beberapa urusan.
Riki yang sudah berusia 4 tahun itu Anjani gendong. Meski ia sudah bisa berjalan, tapi ia tidak mau turun dari pangkuan Anjani. Sedangkan Laila, ia gandeng karena mereka sedang berjalan di pinggiran jalan raya.
Sampai di posyandu, ibu-ibu kader sudah berada di sana dan langsung mempertanyakan kenapa Anjani datangnya siang. Anjani merasa heran, ia biasanya selalu datang pada jam ini, tapi tidak pernah dipertanyakan.
"Neng, kamu kan udah jadi Bu Lurah, harusnya kamu juga dateng awal."
"Ohh.. gitu ya Bu? Aku gak tau soalnya."
Anjani kira, urusan ini hanya diurus oleh kader posyandu saja. Ibu Lurah yang dulu memang jarang terlihat ke posyandu, ia tidak terlalu wajib datang karena bukan termasuk ibu hamil maupun ibu yang mempunyai balita. Sedangkan Anjani yang mempunyai balita, diharuskan agar datang lebih awal untuk ikut memantau pelaksanaan posyandu itu.
Riki pun dilihat dan dicatat perkembangannya, ia diberi beberapa camilan sehat serta 1 butir minyak ikan. Tak lupa Anjani juga ikut melihat perkembangan Laila yang sudah melewati masa balita.
'Hmm.. dulu Ila gak sekecil ini, kok berat badannya makin turun terus ya? Tinggi badannya juga masih kurang buat anak kelas 1 SD.'
Anjani merasa sedikit khawatir, dahulu Laila itu gemuk, bahkan kulitnya sampai berlipat-lipat. Tapi memang, sekarang Laila susah sekali untuk diajak makan.
"Bu Lurah, nanti buat minggu depan bakalan ada biskuit buat ibu hamil sama anak balita. Nanti bakalan ada yang nganterin ke rumah ibu, minggu depan bawa masing-masing 2 dus ya Bu." Ucap Ibu Bidan, ia sudah mengetahui bahwa sekarang suami Anjani adalah seorang lurah.
"Hehe.. iya Bu Bidan." Anjani tersenyum malu, ia merasa tidak nyaman dan belum terbiasa dengan panggilan itu.
Sehabis dari posyandu, mereka pun pulang. Sekarang jalanan yang dilewati menurun, tapi sebelum pulang, mereka mampir dulu ke rumah Bapak dan Mamih karena jaraknya lumayan dekat.
"Neng, tadi ada anaknya Adwi ke sini, kalian udah ketemu? Mamih udah kasih tau jalan ke rumah. Mamih bilang kalo gak tau coba tanya-tanya aja sama orang kampung, soalnya Mamih lagi sibuk, gak bisa nganterin."
'Anak si Aa? Maksudnya anak dari perempuan itu?' Anjani terkejut mendengar perkataan Mamih.
"Belum Mih, aku baru pulang dari posyandu. Mamih mau kemana? Kok udah rapih?" Anjani melihat Mamih sedang sibuk bersolek.
"Ini, mau ke pasar, beli seragam SMK buat Yunas."
__ADS_1
Yunas adalah adik tirinya Adwi, tahun ajaran baru memang sudah dekat. Mendengar kisah masa lalu suaminya, sepertinya Mamih sangat menyayangi anak kandungnya itu daripada Adwi.
Meski begitu, setelah Anjani berpisah rumah dengan mertua, Mamih terlihat baik dan akrab kembali dengan Anjani. Ia juga terlihat biasa saja kepada Laila, mungkin karena penyakit Laila yang sudah sembuh.
"Kalo gitu aku pulang ya Mih, takut nungguin."
"Ehh, baru aja nyampe. Gak makan dulu? Ila makan dulu Sayang."
"Udah makan kok Mih di rumah. Yuk Ila, di rumah udah ada yang nungguin."
"Ada Bapak?" Tanya Laila.
"Iya ada, kalo gitu aku pulang ya Mih, Assalamu'alaikum."
"Wa'alikumsallam."
Anjani pun segera pulang karena ia takut anak itu datang bersama dengan Ibunya. Tapi tiba-tiba Laila berhenti dan menarik-narik tangan Anjani.
"Kamu yakin mau sekolah? Kamu kan masih 6 tahun. Nanti aja tahun depan ya Sayang."
"Nggak mau, aku pengen sekolah sekarang!" Laila sangat tertarik dengan keramaian itu.
"Iya, nanti kalo Bapak kamu udah pulang ya, kita minta uangnya ke Bapak buat beli seragam sama peralatannya." Anjani pikir tidak apa jika Laila sudah menginginkannya.
"Tapi Ila mau sekarang!"
"Coba kamu liat, semuanya kan juga pada pake baju seragam. Kamu kan gak punya, kalo gak pake seragam nanti kamu gak dibolehin masuk. Yuk, kita beli dulu seragamnya." Anjani membujuk Laila untuk segera pulang.
"Yee! Besok aku sekolah ya Mah!" Laila terlihat sangat antusias.
Padahal tidak mungkin jika besok Laila sudah bisa sekolah, tapi Anjani meng iya kan saja. Mereka pun melanjutkan perjalanan dan sampai di depan rumah.
"Punten Neng, mau ketemu siapa ya?" Anjani melihat satu orang anak perempuan beserta dengan wanita yang usianya sepertinya seumuran dengan Anjani.
__ADS_1
"Ini Teh, mau ketemu bapaknya." Ucap wanita itu menunjukkan anak perempuan yang dibawanya.
"Ohh, si Aa nya lagi ke desa, saya istrinya. Ayo masuk dulu."
Kunci pintu dibuka, meski ada kursi, tapi mereka hanya duduk di lantai bambu yang sudah dilapisi karpet. Mungkin karena letak kursi lumayan jauh sebelah kiri dari arah pintu.
'Wanita itu siapa ya? Apa itu istrinya A Adwi?'
"Duduknya di kursi atuh, jangan di sini." Anjani membawakan dua gelas air putih untuk mereka.
"Gak papa Teh, di sini aja."
"Ayo Rika, salam dulu sama mamah kamu." Ucap wanita itu menyuruh anak di sebelahnya.
Anak yang dipanggilnya Rika itu pun mengulurkan tangannya. Anjani mempersilahkan tanggannya dicium tapi hatinya tidak menerima jika anak itu dianggap juga anaknya.
"Kalau Teteh ini siapanya ya?" Anjani langsung bertanya karena penasaran.
"Saya bibinya Teh."
"Ohh, maaf ya tadi saya abis dari posyandu dulu." Mendengar itu, Anjani merasa lega.
"Gak papa kok Teh, saya juga baru aja sampai. Si Aa nya masih lama Teh? Ada nomor hp nya?"
"Ada,"
Anjani pun menyebutkan nomor hp suaminya. Karena Adwi sudah menjadi orang penting di kampung ini, ia harus mudah untuk dihubungi. Maka dari itu ia memakai hp Anjani terlebih dahulu.
Beberapa saat, wanita itu menelpon Adwi dan menjelaskan bahwa anaknya saat ini sedang berada di rumah dan ingin bertemu dengan dirinya.
Anjani menebak anak perempuan itu pastinya sudah berumur tujuh tahun, karena ia memang selisih satu tahun dengan Laila. Anak itu terlihat cantik, matanya agak sipit dan pipinya juga tirus. Rambutnya lurus dan panjang seperti di rebonding. Warna rambutnya terlihat berwarna cokelat gelap, sepertinya rambutnya itu dicat.
Berbeda dengan Laila, ia memiliki pipi yang tembam, agak mirip seperti ayahnya. Rambutnya cokelat menyala, lurus, namun halus. Ia sangat mewarisi gen ayahnya. Sedangkan Riki, ia memiliki pipi yang tirus dan rambut hitam yang bergelombang seperti ibunya.
__ADS_1