Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Kembali Bertemu


__ADS_3

Sampai juga di penghujung waktu, selang satu hari setelah gajinya diterima, Anjani membulatkan tekad untuk kembali berbicara kepada nyonya majikannya.


"Nyonya, sudah lima belas bulan saya bekerja di sini, keluarga saya pasti khawatir. Saya minta izin untuk pulang Nyonya."


Usai mengerjakan pekerjaan rumah, Anjani menghampiri nyonya majikannya yang pulang lebih awal di hari jum'at.


"Tapi kamu akan kembali lagi ke sini kan?"


Nyonya Majikan khawatir Anjani tak akan kembali. Baru kali ini ia mendapatkan seorang pembantu yang setia di rumahnya.


"Iya Nyonya, saya akan kembali." Ucap Anjani berbohong.


'Memangnya aku harus mengabdikan seluruh hidupku untuk keluarga ini?'


Mana sudi Anjani kembali ke tempat itu lagi. Ia juga memiliki keluarga sendiri di kampung. Tidak mudah juga untuk bekerja di sana, andai sikap keluarga itu baik padanya, pasti Anjani akan merasa lebih betah.


Uang dapat terkumpul dengan banyak dan Anjani tak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya hidupnya. Ia kira uang tabungannya sudah cukup untuk membangun sebuah rumah.


Nyonya Majikan yang galak itu ternyata juga memiliki hati, ia mengizinkan Anjani untuk pulang ke tanah air. Sebelum pulang, Nyonya Majikan menyarankan Anjani untuk pergi berbelanja membeli oleh-oleh untuk keluarganya di kampung.


Nyonya Majikan terlihat baik, ia menemani Anjani untuk berbelanja ke pusat perbelanjaan. Sikap baiknya itu membuat Anjani merasa kasihan karena telah membohonginya.


Ditemani Sang Majikan, Anjani merasa tidak santai saat berbelanja. Hubungan antar majikan dan pembantu membuat Anjani merasa tidak terbebas untuk pergi ke sana sini dan berlama-lama.


Menuju ke tempat pakaian anak-anak, Anjani membelikan beberapa setel pakaian untuk Laila. Semua pakaian terlihat cantik, membuat Anjani ingin memborongnya. Anjani tak tahu sekarang Laila sudah sebesar apa, jadi ia memilih ukuran yang besar agar pakaiannya itu tidak terbuang.


Tidak perlu berlama-lama memilah, Anjani selesai dan pergi membeli boneka barbie ukuran besar. Berbagai aksesoris cantik juga ia beli, semua barang yang dibeli hanya ia khususkan untuk Laila.


Masih banyak yang ingin Anjani beli di sana, oleh-oleh untuk Adwi, dan kerabat yang lainnya. Terutama makanan khas negara itu, Anjani ingin sekali membelinya. Namun, Anjani takut Nyonya Majikan akan marah karena dirinya terlalu lama.


"Nyonya, saya sudah selesai belanjanya." Anjani tak enak karena Nyonya Majikan hanya diam dan menemaninya.

__ADS_1


"Kamu belum beli koper, ayo ikut saya untuk membelinya." Nyonya Majikan langsung berjalan dan meminta Anjani untuk mengikutinya.


Anjani rasa ia tidak membutuhkan koper, ia sudah punya tas jinjing cadangan yang ia simpan di kamarnya. Tapi Anjani hanya ikut saja karena Nyonya Majikan sudah berjalan di depan.


Koper berwarna hijau army ukuran sedang Anjani pilih. Ia lekas memasukkan barang belanjaannya ke dalam koper itu agar tidak terlihat rempong. Setelah selesai, mereka pun kembali pulang.


Di kamarnya, Anjani membuka koper itu. Barang belanjaannya ia keluarkan untuk kembali ditata ulang. Semua barang muat di dalam satu koper itu termasuk pakaian Anjani sendiri.


Tak perlu menunggu hari esok, Anjani segera berangkat ke bandara hari itu juga. Ternyata dengan koper itu, barang bawaannya terasa lebih ringan karena ia hanya tinggal menariknya saja.


Di bandara, Anjani membutuhkan waktu beberapa jam untuk berangkat. Saat check in dilakukan, kopernya ia tinggalkan untuk disimpan di bagasi.


Rasa gugup saat menaiki pesawat masih terulang kembali. Dengan berdo'a sepanjang perjalanan, akhirnya Anjani bisa sampai ke tempat tujuannya dengan selamat.


Sampai di Bandara Jakarta, Anjani segera mencari-cari tempat untuk menelpon, ia ingin menanyakan apakah Adwi ada di kampungnya atau tidak.


"Assalamu'alaikum Bu," ucap Anjani yang sedang menelpon Bu Yeyet.


"Nggak kok Bu,"


Anjani berniat untuk tidak memberitahukan kepulangannya kepada Adwi karena ingin memberikan sebuah kejutan. Adwi pasti merasa sangat senang saat melihat Anjani pulang.


"Ahh.. bohong, iya ah kamu lagi di bandara, Ibu bilangin ah sama Adwi."


Bu Yeyet tidak percaya, suasana yang terjadi di bandara terdengar sampai ke dalam telepon dan membuat rencana Anjani menjadi bocor.


"Ihh Bu, jangan," Anjani tidak dapat berkutik lagi.


"Gak mau, Ibu bakal bilangin. Kamu lagi dimana sekarang?" Bu Yeyet sama sekali tidak bisa diajak kompromi.


"Hahh.. ini aku masih di Jakarta Bu, aku bakalan langsung berangkat ke sana." Terpaksa Anjani harus jujur karena Bu Yeyet sudah tahu.

__ADS_1


Telepon diakhiri dan Anjani mendapat kabar bahwa Adwi memang sedang berada di kampungnya. Anjani sengaja datang pada awal bulan, ia tahu bahwa Adwi sudah bekerja di luar kota dan sering pulang ke kampung pada awal bulan.


Tak perlu menunggu apa-apa lagi, Anjani langsung mencari kendaraan untuk pulang ke kampungnya. Agar tidak capek naik turun kendaraan umum, Anjani pulang dengan jasa mobil pribadi.


Melihat keramaian orang-orang yang berlalu lalang, membuat kepala Anjani menjadi pusing. Dalam perjalanan pun ia tak bisa terhindar dari rasa pusing itu, bandara memanglah bukan suatu tempat yang sepi pengunjung.


Anjani hanya beristirahat di dalam mobil, perasaan tak nyaman saat berada di dalam mobil juga menghampiri. Tapi Anjani terus melanjutkan perjalanannya karena ingin segera pulang.


5 jam lebih mobil itu berkendara, dan akhirnya Anjani sampai di depan rumahnya Adwi. Pagi hari itu terlihat seseorang yang sedang duduk sendirian di depan rumah. Ketika Anjani turun, nampak orang itu adalah Adwi.


"Aa!" Anjani segera berjalan dengan kopernya dan menghampiri Adwi.


"A, aku kangen sama Aa. Aa sehat kan?"


Anjani langsung memeluk Adwi dengan erat, ia merasa sangat senang bisa melihat kembali wajah suaminya.


"Aku sehat kok, kamu sendiri sehat kan?"


Rupanya Adwi yang sudah mendapatkan kabar dari Bu Yeyet itu tengah menanti-nanti kepulangan Anjani di depan rumahnya.


"Alhamdulillah A, aku sehat,"


Anjani melepas pelukannya dan menatap Adwi dengan senyuman. Namun, senyuman itu dihiasi oleh tetesan air mata.


"Kamu kenapa? Kok nangis? Kenapa kamu lama di sana? Aku di sini selalu khawatir." Adwi juga mulai meneteskan air matanya.


"Aku seneng bisa ketemu lagi sama Aa. Aku di sana kan kerja buat kita bikin rumah." Anjani menangis karena dirinya merasa sangat senang.


"Sebenernya aku udah bikin rumah, tapi rumahnya sederhana." Ucap Adwi mengejutkan Anjani.


Rupanya Adwi sudah duluan membangun rumah saat Anjani masih berada di luar negeri. Rumah itu sudah lama jadi dan ia ingin segera menunjukkannya kepada Anjani.

__ADS_1


Langsung saja mereka dan keluarga Adwi pergi menuju ke rumah baru itu. Mereka berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh menuju ujung kampung.


__ADS_2