
Malam yang sunyi kembali Anjani lalui tanpa seorang suami. Dan sekarang, ia sedang mencuci pakaian sementara Adwi tengah menonton TV. Meski Adwi sering pulang tengah malam, tapi ia selalu bangun di subuh hari.
Seperti biasa, Adwi pergi ke kebun ketika langit sudah terlihat mulai cerah. Hasil sadapan air nira nya sedang bagus, ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini untuk segera menuai pundi-pundi rupiah.
Sekitar pukul 11 siang, hasil sadapan nira yang diambil pagi tadi sudah selesai mereka cetak. Hari ini, Adwi dan Anjani, begitu juga dengan Laila, akan pergi ke rumah Emak dan Abah untuk menyerahkan hp yang kemarin sudah mereka beli.
Mereka sudah terlihat rapi dan juga siap untuk berangkat. Semua tetangga sudah terbiasa dengan pulang perginya keluarga itu bersama dengan motornya.
Layaknya pengantin baru, keduanya terlihat begitu harmonis dan mesra. Meskipun Adwi suka keluyuran kesana-kemari, tapi Anjani tidak sekalipun mempermasalahkannya. Begitu pikir mereka.
Memasuki jalur tujuan, mereka melihat pemandangan-pemandangan yang begitu asri dan hijau. Sinar matahari yang terik itu terlindungi oleh pohon-pohon rindang sehingga tidak dapat menembus kulit mereka.
Sampailah mereka di kampung Anjani, semua orang yang mereka lewati langsung tersenyum dan menyapa. Lama sekali mereka tidak bertemu dengan gadis cantik yang berasal dari kampungnya itu.
Adwi yang tengah berkendara juga ikut tersenyum dan menyapa mereka. Karena Adwi sering berkunjung ke rumah Emak, beberapa orang sudah melupakan aib buruk tentang dirinya.
Mereka pikir, Adwi itu memang orang yang baik, dan melihat wajah riang Anjani saat ini, mereka semakin percaya bahwa Anjani memang sudah bahagia hidup bersama dengan Adwi.
Setelah menyapa dan menyahut sapaan para warga, akhirnya motor Adwi pun terparkir di depan rumah Emak. Adwi berjalan di depan dan membukakan pintu sekaligus mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum," langsung saja Adwi masuk ke dalam rumah.
Keadaan rumah terlihat sepi, tidak ada sahutan apapun yang menjawab salamnya tadi. Sementara Anjani duduk, Adwi menuju ke dapur dan mencari-cari orang rumah sambil terus memanggil-manggil.
"Ada A?" Tanya Anjani melihat Adwi kembali dari pintu dapur.
"Nggak ada. Pada kemana ya?" Adwi ikut duduk di kursi.
"Paling Emak lagi ke warung sebentar A, kita tunggu dulu aja." Anjani merasa yakin, karena rumah itu ditinggalkan dalam keadaan tidak terkunci.
Sambil menunggu, Adwi menyalakan TV agar semuanya tidak merasa bosan. TV di rumah Anjani juga sama-sama TV tabung, hanya bedanya, TV miliknya sudah memunculkan warna dan tabungnya tidak setebal TV di rumah Abah.
Tak lama mereka menunggu, suara motor tiba-tiba terdengar dari arah luar. Anjani mengintip dari jendela dan melihat sosok Abah yang baru saja memarkirkan motor. Segera Anjani membukakan pintu dan memanggil abahnya.
"Abah? Kok Abah udah bisa naik motor? Itu motor punya Abah?" Anjani merasa terkejut, baru pertama kali ia melihat abahnya mengendarai motor.
"Iya Teh, Abah belum lama beli." Ucap Abah lalu menghampiri Anjani.
Langsung Anjani mengulurkan tangannya dan mencium tangan abahnya. Begitupun Adwi, ia bangkit dari duduknya dan segera mencium tangan abah mertuanya.
__ADS_1
"Abah abis dari mana? Terus, Emak sama Indri kemana? Kok pintunya gak dikunci?" Tanya Anjani setelah semuanya duduk.
"Abah abis nganterin Emak ke peraji." Ucap Abah.
*Peraji yaitu orang yang pekerjaannya membantu atau menolong ibu yang sedang hamil ataupun yang mau melahirkan. Selain peraji, biasa juga disebut dukun bayi. Di Jawa sendiri, dukun bayi biasa panggil dengan sebutan paraji atau indung beurang)*
"Lah? Emang Emak kenapa Bah?"
Anjani merasa sedikit khawatir. Terkadang, yang datang ke peraji itu bukan hanya ibu hamil saja, tapi juga orang-orang yang sakit.
"Tadi Abah ketemu Emak di warung, terus Emak katanya minta dianterin ke peraji. Kayaknya Emak lagi hamil, ini Abah juga balik lagi karena Emak lupa gak ngunci rumah." Ucap Abah.
"Semoga aja ya Bah. Eh, Abah kok udah bisa naik motor tapi gak pernah dateng ngunjungin Anjani?" Jarak yang jauh, membuat Anjani rindu dan ingin selalu melihat keluarganya.
Anjani merasa senang mengetahui emaknya akan mempunyai anak lagi. Memang, saat ini usia Emak masih terbilang muda, dulu Emak menikah di usianya yang masih berumur 14 tahun. Pernikahan dini memang lumrah diadakan di zaman dahulu.
"Aamiin... iya Teh, Abah juga sebenernya mau, tapi Abah masih takut kalo bawa motor ke jalan yang ramai." Ucap Abah.
"Abah pokoknya harus hati-hati kalo naik motor." Anjani khawatir, mengingat jalan di pelosok desa tidak begitu baik.
"Iya Teh, Abah pasti hati-hati kok."
Sekarang Abah sudah mempunyai motor sendiri. Harga motor itu pastinya tidaklah murah, Anjani ikut bahagia mengetahui keadaan ekonomi keluarganya baik-baik saja.
Sebuah dus berisi hp pijat berwarna hitam, lengkap bersama casan dan earphone nya telah Anjani berikan.
"Wahh.. kayak punya temen Abah ini, tapi kayaknya bagusan ini."
Abah langsung menerimanya, ia mengotak-atiknya tanpa kebingungan. Ia sudah sedikit terbiasa karena suka melihat hp milik teman-temannya.
"Hp Abah udah Teteh isiin pulsa, nanti malem Teteh mau telpon ya Bah."
"Iya Teh, makasih ya, gak papa ini buat Abah?"
"Gak papa, Teteh sengaja beliin Abah hp biar bisa telponan."
Abah mencoba menelpon nomor Anjani untuk memastikan telponnya berjalan baik atau tidak. Kembali lagi ke obrolan, kali ini Adwi yang mengajak Abah berbicara.
"Pak, di sini sawah-sawah udah pada gimana?" Tanya Adwi.
__ADS_1
"Padinya udah mau berbuah, kayaknya satu bulanan lagi padinya bisa dipanen." Jawab Abah.
Sebelumnya uang milik Anjani diserahkan kepada Emak dan Abah untuk dipakai menggadaikan sawah yang ada di kampung. Mereka tidak perlu repot mencari sawah yang mau digadaikan karena Abah yang sudah mengurusnya.
Meski uang mereka cukup untuk membeli sawah, tapi mereka lebih memilih untuk menggadaikannya. Dengan menggadai, mereka bisa mendapatkan padi dan uang mereka juga utuh kembali.
Lama berbincang-bincang dan mengobrol beberapa topik bersama Abah, Adwi dan Anjani berpamitan untuk pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 2. Pukul 3 nanti Adwi harus pergi ke kebun untuk kembali menyadap nira.
"Abah, Teteh sama si Aa mau pulang ya. Nanti malem Teteh bakalan telpon Abah sama Emak." Ucap Anjani seraya mencium tangan Abah kembali.
"Iya, nanti Abah kasih tau Emak. Laila nya gak mau ditinggal di sini aja?" Tanya Abah melihat Laila sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Abah. Mungkin saat ini Laila sudah lupa dengan wajah abahnya itu.
"Teteh masih kangen sama Laila." Anjani mencium pipi Laila.
Adwi pun ikut berpamitan kepada Abah, mereka pergi duluan sementara Abah sibuk mengunci pintu-pintu rumah. Sepertinya Emak dan Indri belum juga pulang karena sedang menunggu jemputan. Lantas Abah pun pergi untuk menjemput mereka.
***
Lepas menunaikan ibadah shalat ashar, Anjani menelpon keluarganya di kampung. Ia tak jadi menelpon malam hari karena ia ingat bahwa Adwi tidak akan ada di rumah saat malam tiba. Anjani tidak ingin keluarganya tahu dan membuat mereka merasa khawatir.
"Assalamu'alaikum," ucap Anjani saat telponnya diangkat.
"Waalaikumsallam," terdengar suara jawaban dari Abah.
"Abah lagi jawab salam dari mana? Mana Bah? Katanya si Teteh telpon?" Terdengar suara Emak juga di dalam telpon.
"Ya.. ini lagi telpon Mak, ini dengerin ya Abah kerasin."
Anjani hanya mendengarkan percakapan kedua orang tuanya sambil tersenyum. Ia senang karena sekarang ia bisa menelpon keluarga di kampung sesuka hatinya.
"Teh, katanya mau telpon malem, kok malah sekarang? Emang teteh gak lagi sibuk?" Tanya Abah.
"Soalnya Teteh gak sabar pengen cepet-cepet telpon Abah sama Emak." Ucap Anjani.
"Ehh?! Kok ada suara si teteh dari dalem sana?" Terdengar suara Emak yang terkejut.
"Iya lah Mak, kan namanya juga lagi telpon. Emak ini ngerti gak telpon itu apa?" Kembali Abah mengobrol bersama Emak.
"Hihihi.. Mak, tadi kata Abah, Emak abis dari peraji ya? Gimana katanya?" Anjani sedikit lucu mendengar suara emaknya yang gaptek.
__ADS_1
"Ayo ngomong Mak, ini si Teteh nanya loh." Titah Abah.
"Mmm.. Emak lagi hamil." Ucap Emak.