Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Pemungutan Suara


__ADS_3

Melanjutkan ritual itu Adwi pun berdiam di bangku panjang depan pintu rumahnya. Ia meletakkan dua butir telur di tanah dan duduk ditemani oleh Abah. Mereka diperbolehkan mengobrol ataupun makan asalkan tetap duduk berada di sana.


Jika hanya diam berjam-jam rasanya memang bosan, apalagi mereka tidak boleh mengalihkan perhatian kepada pemandangan sekitar. Adwi pun menyalakan rokoknya dan memberi Abah satu bungkus juga. Dari dulu Abah memang seorang perokok, karena itu Anjani tidak mempermasalahkan jika Adwi merokok juga.


Masih terdengar bunyi TV dan suara obrolan di dalam rumah. Suasana terasa hangat, mereka tidak terlalu kesepian maupun ketakutan. Melihat jam di hp, rasanya berjalan lambat. Ternyata masih beberapa jam lagi, Adwi merasa tidak enak membawa Abah ikut begadang bersamanya.


Menuju tengah malam, tiba-tiba Adwi melihat sesuatu berwarna putih dalam jarak yang cukup dekat melayang di hadapannya. Sontak Adwi terkejut sekaligus panik, benda apa yang baru saja lewat? Lantas ia langsung berbicara kepada Abah.


"Pak, tadi itu di depan ada benda putih yang terbang lewat!"


"Mana ah? Bapak gak liat." Abah mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia tidak melihat benda itu maupun jejaknya. Padahal saat itu ia juga siaga melirik ke sana ke mari.


'Ahh.. mungkin itu cuma halusinasiku aja.' Pikir Adwi.


Sambil merokok dan mengobrol santai, Adwi dan Abah pun akhirnya sudah sampai pada pukul 12 malam. Adwi pun mengambil 2 butir telur itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Semua orang di rumah terlihat sudah tertidur termasuk kakek. Lantas Adwi pun menyimpan 2 telur itu dan beranjak untuk pergi beristirahat.


Subuh sekali, orang-orang sudah ramai datang ke rumah. Mereka adalah ibu-ibu ahli memasak jasa catering yang berasal dari kampung itu sendiri. Pagi itu mereka sibuk memasak dibantu oleh kerabat serta tetangga-tetangga yang lainnya.


Seperti di acara pernikahan, jika Adwi menang pencoblosan nanti, maka Adwi harus menjamu warga kampungnya dengan hidangan prasmanan.


"Wi, gimana tadi malem? Telurnya mana?" Tanya Kakek di pagi itu.


"Ini Kek. Mmm.. semalam rasanya ada yang lewat, kayak kain putih gitu." Adwi pikir itu berhubungan dengan ritualnya.


"Nah, bagus kalo kamu udah liat. Itu tandanya kamu pasti bakalan menang. Ayo makan telur itu sama istrimu."

__ADS_1


Ternyata yang dilihat Adwi semalam itu memanglah benar. Tapi Kakek tidak menjelaskan benda apa yang terbang pada malam itu, ia hanya menuruti perintah Kakek dan memakan telur rebus itu bersama Anjani.


Sudah terlihat rapi dan mapan, Adwi pun berangkat ke tempat pencoblosan yang diadakan di depan lapangan sebuah sekolah dasar.


Ada dua paslon di tempat itu, dan Adwi adalah paslon urutan nomor 2. Adwi merasa sangat gugup, memikirkan bagaimana nanti ia harus berbicara di depan semua orang. Sedangkan paslon nomor 1, ia terlihat sangat angkuh seperti menunjukkan sikap percaya bahwa dirinya yang akan menang.


Di sisi lain:


Laila yang sudah dewasa pergi sendirian ke kebun untuk memungut cengkeh-cengkeh yang berjatuhan dari pohonnya. Bulan itu memang sedang musim cengkeh, kebun yang ia datangi masih berada di kawasan rumah-rumah warga dan jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumahnya.


"Hey, Laila! Bapak kamu tuh lagi jadi calon kok kamu malah di sini?"


Ketika Laila sedang asyik memasukkan satu per satu butiran cengkeh ke dalam wadahnya, tiba-tiba seorang anak laki-laki seusianya berteriak dari kejauhan. Laila yang melihatnya langsung lari ke rumah tanpa menghiraukan perkataan anak laki-laki itu.


"Bandoku?" Sampai di rumah, Laila tersadar bahwa ia sudah kehilangan bando yang sebelumnya ia pakai.


"Ada apa? Nyari ini kan?" Ucap anak laki-laki yang sebelumnya berteriak kepada Laila.


"Iya, sini, itu punyaku." Laila mencoba meraih bando itu tapi anak itu tidak membiarkannya begitu saja.


"Hmm.. kalau kau ingin ini kembali, bayar dulu. Aku kan sudah membantumu menemukannya." Ucap anak itu masih memegang bando milik Laila.


"Berapa?" Laila langsung menerimanya tanpa melawan.


"Dua ribu."


"Aku akan pulang dulu untuk mengambil uangnya."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggu di sini."


Laila pun bergegas menuju ke rumahnya. Di rumah, ia mencungkil isi celengannya dan mengambil uang sebesar dua ribu rupiah sesuai dengan yang anak itu inginkan.


Laila pun kembali ke tempat tadi namun ia tidak menemukan anak laki-laki itu. Laila tidak tahu siapa nama anak itu, ia belum pernah bermain bersama sebelumnya. Tapi ia tahu tempat tinggal anak itu karena ia selalu melihat anak itu di warung yang sering ia kunjungi.


Lalu ia mencoba pergi ke warung itu, dan benar saja, anak itu sedang berada di sana. Warung itu menyatu dengan sebuah rumah, dan di depan rumah, anak itu terlihat sedang duduk bersama satu orang teman laki-lakinya.


"Ini." Laila menyerahkan uang itu dengan perasaan malu. Ia pun mendapatkan kembali bando miliknya dan segera beranjak pulang.


Siangnya, pemilihan kepala desa sudah selesai dan sudah diumumkan siapa pemenangnya. Tiba-tiba Laila dikejutkan oleh keramaian orang yang datang berbondong-bondong menuju ke rumahnya.


Ia sedang bermain di luar, bermain pasir di lahan luas tempat dahulu Adwi menyimpan bahan bangunannya. Laila melihat anak laki-laki yang ia temui tadi juga datang bersama teman-temannya yang lainnya. Ia pun bersembunyi, bermain dibalik gunungan pasir agar tidak terlihat oleh orang-orang.


Di rumah yang kecil dan sederhana itu, mereka memakan hidangan prasmanan yang begitu nikmat. Ternyata, hasil pemungutan suara itu telah dimenangkan oleh Adwi. Dan sekarang, Adwi resmi menjadi seorang kepala desa (lurah).


Sekeluarga tidak percaya, tapi memang benar itu nyatanya. Bahkan, selisih suara antara dua paslon itu sangat jauh berbeda. Dari ratusan warga kampung, pasangan calon nomor 1 hanya mendapat puluhan suara. Dan sisanya, tentu didapatkan oleh paslon nomor 2 yaitu Adwi.


"Bapak gak ngerti, tadi pas pencoblosan Bapak kok malah nyoblos nomor urut satu?"


Bapaknya Adwi heran, padahal ia hendak memilih dan mencoblos anaknya, tapi terlanjur tangannya bergerak mencoblos nomor urut satu. Meski begitu, tetap saja, satu suara dari Bapak tidak akan merubah siapa yang menang.


"Ah, Bapak mah emang pengen nyoblos nomor satu kali." ucap Emak bergurau.


"Kok si Aa bisa menang ya? Apa ini karena yang semalem?" Anjani merasa aneh kenapa warga-warga memilih suaminya yang suka keluyuran itu untuk dijadikan seorang lurah.


"Ahh, mungkin mereka emang gak suka sama Pak Karim, dia kan udah tua, udah beruban." Ucap salah seorang kerabat.

__ADS_1


"Biasanya orang-orang itu pengennya pemimpin yang masih muda, tuh kayak Adwi, yang masih seger." Lanjutnya.


__ADS_2