
Baru saja kemarin, saat mentari hangat sedang bersinar di ujung tombak. Dua hati yang lama terpisahkan saling bertemu dan melepas rindu yang sudah tidak terbendungi. Tapi kebahagiaan itu hilang dan hancur seketika saat Anjani mulai menyulut pembicaraan.
"Jangan pura-pura gak tau A! Jelas-jelas surat ini ada di halaman belakang rumah kita! Kalau bukan dari siapa-siapa, terus dari mana?! Setan?!"
Anjani pikir, Adwi mencoba untuk membakar surat itu agar tidak diketahui oleh dirinya. Tapi, entah kenapa surat itu masih tersisa secarik beserta nama jelas pengirimnya.
"Udah lah, kamu ngapain bahas-bahas hal yang gak jelas begituan? Udah kesiangan ini, aku mau nyadap." Adwi menanggung empat lodong bambu dan pergi menghiraukan Anjani.
Sekarang, Adwi hanyalah seorang penyadap nira. Ia hanya bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari hasil menjual gula aren. Sesekali, Adwi juga pergi ke kebun di kampung sebelah untuk menanam bibit pohon kayu.
Hina mulianya Adwi masih belum dapat dipastikan. Tapi Anjani yakin bahwa Adwi memang seperti yang ia pikirkan. Sikap Adwi yang selalu berubah setelah mereka resmi menandatangani akta pernikahan membuat Anjani juga ikut merubah pandang pikirnya.
Banyak sekali sikap Adwi yang selalu membuatnya sakit. Masa-masa saat mereka berpacaran sangat begitu indah. Anjani pikir, dengan menjadi istri dan lebih dekat dengan dirinya, Anjani akan meraih sebuah kebahagiaan.
Tapi Anjani salah, dirinya sama sekali belum mengenal sikap Adwi yang sebenarnya. Jarak dan waktu membuat sikap buruk Adwi tidak bisa terpandang jelas oleh Anjani.
Perdebatan yang terjadi pagi hari itu sudah terhentikan. Sudah pukul 8, sepasang suami istri itu harus menjalankan tugasnya masing-masing. Adwi pergi ke kebun untuk bisa menghasilkan rupiah, dan Anjani juga harus mengulang kembali acara masaknya.
Makanan siap dihidangkan, adab seorang istri di rumah harus menunggu kepulangan suaminya sebelum mulai makan. Karena Anjani tahu Adwi tidak akan pergi lama, ia hanya menonton tv sambil menunggu kepulangan Adwi.
Laila bangun tanpa terdengar tangisannya, ia tertarik dengan mainan boneka barbie dan aksesoris miliknya. Mengingat Laila, Anjani tahu bahwa ia tidak boleh bertengkar di hadapannya. Walau masih belum percaya dengan Adwi, tapi ia akan mencoba untuk tidak mempermasalahkan hal itu lagi.
Sepulangnya Adwi, tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha untuk meminta maaf. Mereka beraktifitas seperti biasa layaknya pagi tadi tidak terjadi apa-apa.
Setelah nira yang dipanaskan oleh Adwi sudah menggelegak, Anjani meminta Adwi untuk diantarkannya ke pasar. Anjani lupa bahwa Indri yang semalam sudah ia ajak ke pasar ternyata malah akan pulang.
__ADS_1
Menggunakan uang hasil jerih payahnya sendiri, Anjani beserta anak dan suaminya pergi ke sebuah pasar. Anjani berbelanja banyak, pakaian, sandal, dan bahan-bahan yang ia butuhkan di dapur.
Suaminya sendiri juga ia belanjai, tidak ada kata uang suami milik istri dan uang istri hanya milik istri. Anjani juga sama sekali tidak menghiraukannya, ia merasa bahagia bisa membelikan Adwi pakaian bagus.
1 hari itu Laila terlihat sangat senang, ia sama sekali tidak menangis dan juga tidak menanyakan Emak, Abah, maupun Indri yang sudah lama merawatnya.
"Ini jaket siapa A? Aa emang suka pake jaket begini ya?"
Sore hari, Anjani yang selesai melipat kain jemuran hendak menyimpannya ke dalam lemari Adwi. Ia melihat sebuah jaket besar yang tergantung, jaket itu berwarna hitam legam berbulu tebal.
Anjani heran, kenapa Adwi membeli jaket dengan model seperti ini, karena biasanya Adwi hanya memakai jaket dan pakaian yang sederhana.
"Itu dari temen aku Lilis, dia sekarang udah tinggal di kota, jadi dia ngasih aku kenang-kenangan." Ucap Adwi dengan polosnya.
'Jadi jaket ini pemberian dari orang yang ngirim surat itu?'
Lilis adalah seorang wanita yang tinggal satu kampung dengan Adwi. Dia mempunyai wajah yang cantik dan tubuh yang semampai. Selain itu, dirinya juga berbakat, ia mengubah jalan hidupnya dalam dunia per aktingan.
Wanita yang berasal dari kampung itu sekarang sudah sukses menjadi artis. Adwi bilang, Lilis juga sering muncul di TV dan mendapat peran dalam sebuah film.
Sudah lama Lilis tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Entah hanya dengan Adwi saja ia ingat, tapi ia memberikan sebuah jaket yang harganya pasti tidaklah murah.
Anjani hanya mendengar dan bertanya dengan sopan. Bukan Anjani tidak menghiraukannya, justru Anjani ingin tahu lebih. Jika disikapi seperti ini, Adwi merasa nyaman bercerita panjang lebar, ia sama sekali tidak tahu bahwa ceritaannya itu tengah membuat hati Anjani teriris.
Hari ke hari, Anjani terus bersama dengan sikapnya itu. Tak dipinta pun, Adwi selalu bercerita tentang kesehariannya selama di kampung.
__ADS_1
"Dulu waktu kamu di luar negeri, ada wanita yang sama persis baiknya kayak kamu." Ucap Adwi memulai pembicaraan.
"Bapak dia mau ngejodohin aku sama dia, tapi aku gak mau, aku bilang kalo aku udah punya istri sama anak." Lanjutnya.
Masih mendengarkan dan diam. Perkataannya itu semakin membuat Anjani berpikiran yang tidak jelas. Tapi di luar, Anjani tetap merespons curhatan Adwi itu dengan sangat baik.
Laila masih belum teringat kepada Emak. Anjani hendak mengirimkan hadiah untuk Indri, tapi ia tidak mau jika Laila tidak ingin pulang kembali saat ia dibawa ke sana. Lalu Anjani menyerahkannya kepada Adwi, ia meminta Adwi untuk mengantarkannya sedang dirinya dan Laila tidak akan ikut.
Ternyata Laila masihlah polos, kemarin dulu dirinya menangis saat melihat kembali ibunya untuk pertama kali. Sekarang ia begitu anteng, dengan mudahnya Laila dapat berpindah asuhan. Sudah beberapa hari lamanya Laila tinggal bersama dengan Adwi dan Anjani.
Mungkin Laila memang betah dan tidak pernah bosan. Setiap hari, Anjani tak pernah acuh mengajak Laila bermain. Mereka bertiga juga suka jalan-jalan ke suatu tempat. Dan hari ini mereka tengah pergi ke pasar malam.
Betapa takjubnya Laila, melihat pemandangan lampu yang bersinar warna-warni di malam itu. Banyak sekali pedagang yang menjual berbagai jenis barang.
Saat diasuh oleh Emak, sebelumnya Laila tidak pernah diajak kemana-mana. Paling, Emak mengajak Laila ke acara pengajian, dan acara itu pun masih diadakan di dalam kampung.
"Laila, kamu mau naik itu?" Adwi menunjuk ke arah kincir yang tengah berputar. Lampu warna warni juga menghiasi setiap sisinya.
Mereka mendekat dan hendak memesan tiket, tapi Laila terlihat ketakutan saat melihat benda besar yang bergerak itu dari jarak dekat. Lalu mereka berlalu dan pergi menjauhi wahana-wahana di sana, berbelanja dan membeli beberapa makanan hangat.
Laila pulang dengan sebuah plastik gembung yang berisi kembang gula di tangannya. Mereka sangat bahagia seakan melupakan kejadian pertengkaran yang sudah berlalu selama 2 minggu.
Dalam lubuk hati, Anjani masih merasa sakit mengingat kejadian itu. Melihat Adwi yang sudah 2 minggu ini terlihat baik, Anjani pikir sikap baiknya itu tetap ada karena dirinya tidak menyulut lagi sebuah pertengkaran. Mungkin seharusnya memang Anjani tidak perlu mempermasalahkan masalah itu.
Berniat untuk tidak membuat perselisihan, sekarang Adwi sudah mulai keluar malam dan pulang kembali saat dini hari. Ia meninggalkan Anjani dan Laila di rumah tanpa khawatir akan ada bahaya yang mengincarnya.
__ADS_1
Sama seperti saat mereka menjadi pengantin baru, Anjani mulai menyulut lagi pertengkaran. Ia memang masih tidak bisa menerima jika Adwi selalu pergi malam dan pulang pagi buta.