
Dirga berjalan mondar mandir didepan ruang kamarnya,perasaannya berkecamuk tidak karuan,terlintas dalam benaknya wajah pucat pasi alea membuat hati terdalam dirga sedikit merasa err...entahlah sedikit sulit untuk dijelaskan.
Bukankah ini yang dirga mau,membuat alea tersiksa jiwa dan raganya,tapi mengapa justru yang terjadi saat ini dirga seperti orang yang kacau.
Dirga mengusap rambutnya kasar,
Arrghhh,,
"Sialan,kenapa lama sekali"
perasaannya kalut,seakan jarum jam berjalan dengan lambat,namun sesaat itu terdengar suara derap langkah mendekati pintu kamar,
Cekrekk,,
Dirga langsung mendekati dokter yang menangani alea,
"Bagaimana keadaannya dok?" raut wajah dirga terlihat sangat khawatir serta takut.
"Nona nindi hanya kelelahan karena itu hal lumrah,biasa terjadi pada trimester pertama kehamilan tuan"
Pupil dirga melebar,dia tidak tuli dengan penjelasan dokter barusan,
"Hamil dok?" dirga sengaja mengulang perkataan dokter untuk memastikannya lagi,
"Iya tuan,selamat ya anda akan jadi ayah,oh ya tuan tolong kalau berhubungan jangan terlalu kasar karena bisa membahayakan janin didalam kandungan ibu nya,ini vitamin untuk..." perkataan dokter tersebut terpotong karena dirga menyela pembicaraannya,
"Berikan aku obat penggugur kandungan paling ampuh sekarang juga" ucapan dirga membuat sang dokter kebingungan,bagaimana bisa seorang ayah malah tidak mengharapkan anaknya lahir?sungguh dia manusia keji.
"Ta...tapi tuan itu melanggar sumpah saya sebagai dokter"
Dirga mencengkeram leher dokter kuat,
"Persetan itu,saya butuh sekarang juga,cepat berikan" kilatan amarah dirga membuat tubuh sang dokter ketakutan,
__ADS_1
"Ba..baik tuan segera saya siapkan"
10menit obat itu harus sudah sampai disini dan ingat jangan sampai ada yang tau akan hal ini,kalau tidak saya tidak segan-segan akan mengulitimu hidup-hidup,paham!"
Nafas sang dokter tercekat,begitu sialnya dia hari ini menangani keluarga pasien psikopat seperti lelaki didepannya itu.
"Ba..baik tuan,saya permisi" langkah dokter itu semakin dipercepat seiring dengan degup jantungnya yang seakan mau copot,
'Tuhan,apa salahku hingga kau pertemukanku dengan iblis tampan berbentuk manusia' tukasnya dalam hati.
Sementara dirga segera masuk keruangan yang menjadi tempat siksaan bagi wanitanya,tunggu, sepertinya sematan kata 'Wanitanya' tidak lagi berlaku untuknya sekarang karena hadirnya bayi sialan itu.
Dirga duduk disofa samping ranjang dengan menatap lurus wanita yang masih tidak sadarkan diri itu dengan pandangan kosong,tangannya menarik sebuah bungkus rokok disaku lalu menghisapnya dalam,dan dikeluarkannya melalui sela hidung dan sela bibir.Terus seperti itu sampai tak terhitung lagi jumlah dari sisa batang rokok yang dia hisap.
Gejolak dihati dirga bergemuruh hebat,dia tidak habis pikir apa yang kurang dari dirinya hingga alea berani berkhianat dibelakangnya.Sesaat dia berpikir akan membuang alea kelaut atau hutan belantara agar dia merasakan hidup segan,matipun tak mau.Namun akal sehatnya berkata dia masih sangat menyukai wanitanya.
Lamunan dirga memudar seiring dengan suara ketukan pintu,
Tok tok tok...
"Permisi tuan,ini obat yang dokter tadi bawa" kata pengawal tersebut.
"Baik..kau boleh pergi dan tetap berjaga diluar" tukasnya lantang.
"Siap tuan" pengawal mengangguk patuh lalu pergi meninggalkan dirga dan alea diruangan itu.
Dirga menyesap rokoknya lagi karena pikirannya saat ini tengah berkecamuk tidak karuan.Disela kegiatannya,mata dirga terseret dengan pergerakan alea di wajahnya.
Alea mengerjapkan matanya lemah,diedarkannya pandangan didepannya tidak nampak dirga,sejenak alea menarik nafasnya dalam,namun suara bariton berat membuat alea menengok kesamping,
"Anak siapa didalam perutmu"
Deg,,
__ADS_1
"Dia sudah tau aku hamil" batinnya dalam hati.
Dia memberanikan diri melihat dirga tengah terduduk dengan rokok yang masih mengepul dimulutnya,melihat tatapan tajam dirga membuat dirinya meremang,tangan alea bergetar hebat.dia mengedarkan pandangannya kearah lain untuk menormalkan debar jantungnya yang seakan segera terlepas saat itu juga.
Terdengar suara langkah mendekat kearahnya,alea meremas sprei erat dengan tangannya lantaran ketakutan.
"Berhenti berpura-pura tuli dan bisu huh..kau bisa mendengar saya bertanya,anak siapa itu,JAWAB!" dirga mencengkeram leher alea keras,tangannya mencengkeram kuat sampai alea terasa sulit untuk bernafas,lalu dihempaskannya wajah alea ke ranjang,
Uhuk uhuk,,,
Alea memegangi lehernya yang terasa sakit karena cengkeraman kuat dirga,
Lagi,air matanya mengalir karena perbuatan bengis dirga.
Alea melihat pergerakan dirga yang mengambil botol kecil dan dibawa kearahnya,
"Cepat minum" alea dipaksa membuka mulutnya untuk meminum entah obat apa itu.
"Saya bilang cepat minum agar bayi milik rashad itu segera hancur" seringainya muncul lagi,pupil alea melebar mendengar perkataan dirga yang akan membunuh calon anaknya sendiri.
"Ini bukan milik rashad tapi ini milik..."
belum sempat alea menyelesaikan perkataannya,mulutnya dipaksa dibuka dan obat itu langsung masuk seluruhnya kedalam mulut alea,membuat manik hitam kecokelatan alea terasa mau copot.
Mulutnya dibekap keras oleh tangan dirga sehingga alea tidak bisa memuntahkan obat tersebut.
Setelah memastikan semuanya tertelan,dirga melepaskan tangannya dari mulut alea.
"Aku tidak suka wanitaku mengandung bayi orang lain,jangan harap kau bisa lari dariku,selamanya kau akan ada dalam kungkunganku,camkan itu!" rambut alea ditarik oleh dirga untuk dipaksa mendongak melihat wajah dirga,tanpa diduga dirga mengusap air matanya lembut,namun yang dirasa alea justru sentuhan dirga membuatnya jijik hingga dia memberanikan diri menggigit keras tangan dirga dengan sisa tenaganya,
"Kau berengsek,kau bajingan,aku membencimu,tidak taukah kau anak ini.." belum sempat selesai bicara,mulut alea dibungkam oleh mulut dirga,kali ini terasa sedikit lembut,namun alea yang sudah benci mendarah daging tidak sudi bibirnya dicium oleh dirga,dia gigit kembali bibir dirga menggunakan giginya.
"Auww" terlihat dirga sedikit meringis dan ujung sudut bibirnya terdapat darah sedikit.
__ADS_1
"Jadilah patuh,aku ada urusan pekerjaan dalam beberapa hari" dirga melangkah keluar hingga punggungnya tidak terlihat lagi.