BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 10


__ADS_3

Lelaki yang kulihat di parkiran pasar ternyata Alvin suaminya Ayu, tapi siapa wanita yang di antar Alvin ke pasar dan anak lelaki itu juga siapa? Begitu banyak tanya dalam benakku.


Apa jangan-jangan itu istri barunya Alvin atau selingkuhannya, Alvin dan mantan suami ku kan berteman baik, tidak menutup kemungkinan kalau mereka berbuat hal yang sama pada wanita.


Sungguh benar-benar aku tak menyangka jika Alvin berbuat hal yang sama dengan Mas Amar, apa mungkin Aku dan Ayu mengalami nasib yang sama. 


Sama-sama dikhianati, aku jadi ingin segera bertemu Ayu sahabatku. 


Kemana Ayu selama ini, sejak aku melahirkan dia menghilang begitu saja tanpa jejak, bagai di telan bumi.


Rumah yang dulu ia tempati sekarang sudah kosong, tetangga sekitar pun tidak tahu kemana mereka pindah, kemana aku harus mencari Ayu.


Ayu sahabat baikku lebih dari saudara bagiku, sejak lama kami berteman namun tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak hingga saat ini.


****


Sampai dirumah kami turun dan membawa semua belanjaan dari pasar, kuberikan barang belanjaan kepada Bik Ijah yang masih sibuk memasak di dapur.


Tapi tak kulihat Lani disana, kemana anak itu.


"Bik, Lani dimana?" Tanyaku pada Bik Ijah yang sibuk mengeluarkan barang belanjaan.


"Ada Non, mungkin main di taman belakang karena sejak tadi dia menemani bibi mungkin bosan jadi bibi suruh main ke taman belakang," jawab Bik Ijah.


Aku berjalan menuju taman belakang, benar saja ada Lani disana sedang bermain sendirian.


"Lani, kamu ngapain disana?" Tanyaku pada Lani yang masih sibuk melihat bunga di taman belakang.


"Lani hanya melihat bunga saja tante, abisanya Lani bosan gak tau mau ngapain tante," jawabnya dengan polos. 


"Kamu bosan dirumah? Apa kamu mau kesekolah seperti Tegar?" Tanyaku pada Lani.


"Mau tante, Lani mau sekolah seperti Tegar," jawabnya dengan gembira.


Terlihat senyum mengembang di wajahnya saat aku mengatakan jika dia akan bersekolah, mudah-mudahan Lani bisa segera bersekolah. 


Secepatnya aku akan mengurus surat-surat untuk Lani.


Meski aku tidak mengenal asal usulnya dari mana, yang penting aku sudah punya niat baik untuk memberikan kehidupan yang layak untuk Lani.


Semoga suatu saat nanti Lani bisa berkumpul bersama keluarganya lagi. 


****

__ADS_1


Aku sudah menelpon temanku Reno dia seorang notaris dan juga pengacara, dia bisa membantu mengurus semua yang aku butuhkan untuk Lani.


Dia berjanji akan secepatnya mengurus surat-surat untuk Lani.


Aku ingin pergi ke Toko namun lelah rasanya. Begitu banyak hal yang menyita waktu dan perhatianku akhir-akhir ini.


Untung ada wirda yang selalu memberikan laporan tiap hari padaku. Wirda orang kepercayaanku dialah yang selama ini membantuku mengurus semua pekerjaan di Toko baju jadi aku tidak perlu repot-repot harus datang ke Toko setiap harinya.


Semua bisa aku pantau dari cctv dan laporan harian dari wirda itu sudah cukup. Mereka semua bisa aku percaya karena kami merintis semua dari nol.


Mereka yang menguatkan aku di saat aku terpuruk. 


Mereka sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri.


****


Aku masih sibuk mengecek semua laporan dari wirda sudah Hampir satu bulan ini aku abaikan. 


Ternyata pendapatan Toko mengalami kenaikan cukup signifikan.


Tidak sia-sia aku memberi kepercayaan kepada wirda untuk mengelolah semuanya. 


Tok!


Tok!


Bik Ijah dan anak-anak pun sepertinya tidak mendengar jika ada yang mengetuk pintu, aku masih sibuk mengurus pekerjaan ku biar saja, siapa tahu nanti Bik Ijah atau anak-anak mendengar dan membukakan pintu.


Tok!


Tok!


Ketukan pintu masih saja terdengar, kemana orang dirumah ini, aku bernjak dari kamar untuk melihat siapa si tamu yang datang, mengganggu saja. Gumamku.


Dengan malas aku berjalan keluar kamar, ternyata suasana rumah tampak sepi sekali, kemana mereka. 


Mungjin mereka sedang beristirahat jadi tidak mendengar suara ketukan pintu.


Tok!


Tok!


"Permisi."

__ADS_1


"Iya, tunggu sebentar sedang dalam perjalan menuju pintu," jawabku sambil senyum-senyum sendiri.


Kret … kret


Pintu kubuka dan ternyata hanya kurir yang datang, tapi untuk apa! perasaan aku tidak pernah memesan barang apapun tapi kenapa ada yang mengantarkan barang.


"Maaf mengganggu apa benar ini rumahnya Ibu Mila?" Tanya kurir dengan ramah.


"Iya dengan saya sendiri, ada apa ya pak?" Tanyaku balik pada pak kurir.


"Begini Bu, saya mau mengantarkan pesanan Bu Mila jika benar ini alamat rumah Ibu Mila," ucap pak kurir.


"Benar pak ini alamat dan rumah saya, tapi ini barang apa Pak?" Tanyaku lagi.


"Saya juga tidak tahu Bu, karena tugas saya hanya mengantarkan saja," jawabnya sambil tersenyum ramah.


"Bagaimana saya bisa menerimanya Pak jika saya saja tidak tahu apa isi dari paket ini," ucapku dengan perasaan bingung.


"Ibu terima saja karena tugas saya hanya mengantarkannya Bu," pinta pak kurir.


Paket apalagi ini, ada-ada saja. Bagaimana bisa saya menerima barang yang dikirimkan ke rumah saya tapi saya tidak tau nama pengirimnya dan saya tidak merasa memesan barang.gumamku yang penuh tanda tanya.


"Tapi Pak, maaf saya tidak bisa menerimanya," ucapku memberi pengertian pada kurir.


"Jadi gimana ini Bu, saya hanya mengantarkan saja Bu, sebaiknya Ibu terima dan tanda tangan disini," ucapnya sedikit memaksa.


"Sekali lagi saja jelaskan Pak, ini barang bukan pesanan saya, jika pun ada yang mengirimkan ini kerumah saya harusnya ada nama pengirimnya dong," ucapku yang mulai emosi.


"Ini namanya pemaksaan."


"Maaf Bu sekali lagi saja hanya menjalankan tugas untuk mengantarkan ini, saya harap ibu mengerti posisi saya sebagai seorang kurir," ucapnya memelas.


"Tidak bisa Pak, Bapak juga harus mengerti saya dong, apa Bapak bisa jelaskan ini isinya apa?" Tanyaku sedikit sengit.


Benar-benar bikin emosi orang ini, maksa sekali aku harus menerima barang yang aku sama sekali tidak tahu apa isinya. 


Kutarik nafas perlahan.


"Lebih baik Bapak bawah kembali barang ini Karena saya tidak bisa terima dan tidak akan menerimanya," ucapku penuh penegasan.


"Bapak silahkan pulang," usirku pada kurir itu.


"Tolong la Bu, ibu terima barangnya, karena jika saja membawa kembali barang ini ke loket, saya akan dimarahi Bu," ungkapnya dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Hem …."


"Maaf pak, tapi saya ...


__ADS_2