
Bagaimana Amar menjelaskan pada ketiga anaknya jika mereka berbeda Ibu namun satu ayah.
Amar bingung harus memulai semuanya dari mana tapi mereka harus tahu jika tidak semua masalh ini tak ada ada habisnya.
"Kenapa Ayah diam saja, katakan Yah, kenapa kami bisa bersaudara?" Tanya Tegar sambil menarik baju Amar dan menggoyangkan tubuh Ayahnya.
"Kalian duduk disini dulu, Ayah akan menceritakan semuanya."
Mereka bertiga yang masih berdiri kini sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Awalnya Ayah menikah dengan Mila dan lahir lah kamu Tegar tapi Ayah dan Bunda berpisah setelah itu menikah dengan Lastri dan lahirlah Hani dan Lani," ucap Amar dengan suara yang begitu pelan.
"Sekarang kalian mengertikan maksud Ayah."
"Iya kami mengerti," jawab mereka serentak.
Sungguh anak-anak yang baik, aku sempat takut jika mereka tidak bisa menerima kenyataan ini, usia mereka masih sangat la kecil untuk mengetahui semua masalah orang dewasa.
"Ayah harap kalian bisa hidup akur dan berdampingan, maafkan Ayah Nak." Mereka pun saling merangkul satu sama lain.
Begitu pemandangan yang indah, semoga setelah ini tidak akan ada lagi masalah di masa lalu dan kami bisa memulai hidup dengan damai.
Aku dan Tegar pamit untuk segera pulang tak ingin berlama-lama di rumah Ibu mantan suamiku.
****
"Lastri maafkan semua kesalahanku, maafkan aku Las." Amar memohon maaf pada Lastri.
Mila dan Tegar sudah pulang kini tinggal la mereka yang ada di rumah. Amar menyesali semua perbuatannya dan ingin memperbaikinya.
"Aku sudah memaafkanmu Mas! Aku juga sudah melupakan semua tentang kita di masa lalu."
"Biarkan aku hidup tenang dengan anak-anakku, aku harap kau tak mengganggu kami lagi."
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian Lastri, tapi izinkan aku menemui anak-anakku Las."
"Jika kau ingin mengunjungi mereka silakan saja, mereka berhak atas Ayahnya," ujar Lastri.
Lastri dan keduanya anaknya pun telah pulang, kini hanya .amar dan Ibunya di rumah. Mereka hanya duduk dalam diam tanpa kata.
__ADS_1
Amar sudah menyadari semua kesalahannya, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk merubah hidupnya lebih baik lagi.
Kini ia berpikir untuk bisa kembali pada Mila istri pertamanya. Ia ingin mewujudkan keinginan Ibunya. Namun apakah Mila akan menerimanya kembali itu yang sedang ia pikirkan.
Hari-hari berlalu, Amar belum menemukan cara yang pas untuk bisa mendekati Mila kembali.
Bingung apa yang harus dilakukan, ia takut. Amar tak punya nyali untuk sekedar bertamu kerumah Mila Pun seakan kakinya kaku untuk melangkah.
"Gimana Mar! Kamu sudah bilang sama Mila jika kamu ingin rujuk?" Tanya Ibu Amar.
"Belum Bu, Amar takut jika Mila menolak," ujarnya.
"Belum juga dicoba sudah ciut nyali kamu, gimana sih!"
Bu Wati beranjak dari tempat duduknya, ia mereka kesal melihat kelakuan anak lelakinya itu.
Bu Wati.jadi berpikir jika dia yang bilang pada Mila mungkin Mila mau mendengarkan dan mau kembali menjadi menantunya.
Sudah ia putuskan jika besok akan kerumah Mila untuk mengutarakan maksudnya, semoga saja Mila mau pikirnya.
****
Siang hari Bu Wati sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Mila, sengaja ia tidak memberitahu Amar takut jika nanti Amar akan marah jika tahu dia mengunjungi Mila.
"Mau Arisan."
"Ibu pergi dulu, nanti kunci saja rumah jika kamu mau pergi," ujar Bu Wati tergesa-gesa.
"Iya"
Bu Wati naik Taxi online menuju rumah Mila, berharap Mila ada dirumah. Saat ia samapi nanti.
Setelah sampai rumah Mila nampak rumah itu sepi seperti tak berpenghuni.
Berkali-kali Bu wati memanggil dan mengetuk pintu namun tak kunjung dibuka.
Kemana Mila? kenapa tidak ada orang dirumah ini, halaman pun nampak penuh dedaunan kering berserakan dimana-mana. Seperti rumah tinggal saja.
Lama Bu Wati menunggu di teras rumah yang sudah berdebu dan juga kotor.
__ADS_1
"Maaf Bu RT numpang tanya kemana Mila yah kok rumahnya nampak sepi dan kotor?" Tanya Bi Wati pada Bu RT yang kebetulan lewat.
"Mila sudah pindsh keluar kota Bu, sudah satu minggu yang lalu dan dengar-dengar rumah ini juga sudah di jual."
"Keluar kota, baiklah terima kasih Bu RT informasinya."
Bu Wati pulang dengan rasa kecewa pupus sudah semua harapannya. Kemana ia akan mencari Mila, nomor teleponnya pun sudah tidak aktif.
Sepanjang perjalanan pulang Bu Wati berpikir kemana Mila membawa cucu lelakinya, kenapa Mila tidak bilang padanya jika ingin pindah dan menjual rumah yang selama ini ditempatinya
Sampai dirumah Bu Wati terduduk lemas tak berdaya, raut wajahnya dipenuhi rasa kecewa. Di hari tuanya dia harus beepisah dari cucu-cucunya.
"Ibu kenapa? Cepat sekali sudah pulang arisannya?" Tanya Amar.
Bu Wati masih diam membisu meratapi nasibnya dan juga anak lelakinya.
"Bu, Ibu kenapa menangis? Apa yang terjadi katakan pada Amar," ujar Amar.
"Ibu, bicara bu, jangan diam saja, Amar bertanya pada Ibu," ucap Amar yang masih bingung dengan sikap Ibunya.
"Tegar Mar, Tegar_
"Kenapa dengan Tegar Bu, kenapa?"
"Tegar pergi Mar."
"Pergi kemana Bu?"
"Jawab Bu."
"Ibu juga tidak tahu mereka pergi kemana Mar," ucap Bu Wati dengan suara serak.
"Cari mereka Mar, cepat cari mereka," teriak Ibu pada Amar.
"Tapi harus cari kemana Bu?"
"Jika Ibu tahu, ibu tidak akan menyiruh kamu Mar."
"Cepetan cari mereka," bentak Bu wati lagi.
__ADS_1
Amar pun pergi untuk mencari Tegar dan juga Mila, bingung harus kemana ia mencari Anak dan mantan istrinya .
Seharian sudah ia berkeliling mencari keberadaan Mila namun belum membuahkan hasil. Kemana lagi ia harus mencari.