BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 38


__ADS_3

"Itu Bun, disana, di ujung jalan itu ada Ayah," ucap Tegar sambil menunjuk ke arah ujung jalan.


"Ayah kamu?" 


"Iya Bun."


"Ngapain lagi laki-laki itu datang ke sekolahan kamu, pasti ia pikir kamu akan pulang sama Mang Leman makanya dia datang, dasar tidak tahu malu," ucap Dani sambil memukul setir mobil.


"Sudahlah Mas, lebih baik kita pulang saja," ajak Mila yang tak ingin ada keributan lagi.


"Ya sudah kalau itu mau kamu, kita pulang saja."


Dani melajukan mobil mereka melewati Amar yang duduk di tepi jalan.


****


Amar masih tidak habis akal untuk merebut Tegar dari Mila mantan istrinya.


Kali ini ia berencana untuk menemui Tegar di sekolahnya, ia sengaja menunggu Tegar di ujung jalan.


Ia tahu jika setiap hari Mang Leman yang mengantar jemput putranya di sekolah. Namun ia tidak tahu jika hari ini Tegar di jemput Mila serta Dani sang ayah sambung.


Amar berniat untuk menculik Tegar di saat ia pulang dengan Leman, ia bisa membujuk rayu Tegar agar pulang dengannya dan saat itulah Amar akan membawa Tegar jauh dari Mila.


Tiga puluh menit sudah berlalu namun Amar tak melihat batang hidung Leman, semua anak-anak sudah dijemput oleh para orang tua.


Amar makin curiga kenapa Tegar belum juga melewatinya di pinggir jalan. Membuat Amar penasaran dan langsung menghampiri pak satpam yang sedang berjaga di depan pintu gerbang.


"Pak, apa Bapak tahu dengan anak yang bernama Tegar? Apakah dia sudah keluar kelas atau belum? Karena sejak tadi saya menunggunya tapi belum kelihatan?" Tanya Amar pada pak satpam.


"Tegar yang mana pak? Kelas berapa? Karena disini banyak anak yang bernama Tegar," ujarnya.


"Aduh saya lupa kelas berapa anak saya itu," jawab Amar sambil senyum melihatkan deretan giginya.


"Pak ini bagaimana? Anak sendiri tidak tau kelas berapa? Jangan-jangan Bapak penculik? Tanya pak satpam balik.


"Enak saja bilang saya penculik."


"Kalau bukan penculik lalu apa, hah!"


Amar langsung pergi meninggalkan pak satpam yang masih berjaga di depan pintu gerbang, ia benar-benar merasa malu karena dituduh penculik walaupun sebenarnya memang dia berniat menculik Tegar.


"Bagaimana ini, kenapa Tegar belum kelihatan atau dia sudah pulang," gumam Amar.

__ADS_1


Kenapa semua yang sudah ia rencanakan selalu saja gagal, ia menendang botol bekas air mineral yang ada di dekat kakinya. 


Dengan emosi ia juga memukul pohon yang ada di pinggir jalan. Emosinya sudah benar-benar tak terbendung lagi, tangannya berdarah saat ia memukul pohon beringin.


Amar langsung tancap gas untuk pulang kerumah tak di hiraukannya darah yang keluar, ia juga tak merasakan sakit meski lukanya cukup besar.


Sepeda motor yang ia kendarai melaju dengan kecepatan tinggi, dengan penuh emosi ia mengendarai sepeda motornya. 


****


Dani masih merasa geram dengan kelakuan mantan suami Mila.


"Kalau dia macam-macam, aku akan seret dia ke dalam sel," ucap Dani dengan geram. Membuat terkejut akan keputusan suaminya.


"Tapi …."


"Tidak ada tapi-tapian dia sudah sangat meresahkan dan tidak bisa diajak bicara baik-baik," seru Dani.


"Terserah kamu saja Mas," jawab Mila pelan. 


Meski ia sangat membenci terhadap mantan suaminya namun ia juga tidak tega jika ayah dari anaknya akan tinggal di balik jeruji besi. 


Tapi jika tidak diberi pelajaran Amar akan bersikap sesuka hatinya. 


"Mas …. Aduh sakit Mas!" Teriak Mila sambil memegang perutnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Dani.


"Sakit sekali perutku Mas, sepertinya mau melahirkan," teriak Mila yang makin menjerit kesakitan. 


"Kamu tenang dulu, kita akan kerumah sakit."


Dani memutar mobilnya ke arah rumah sakit terdekat dan melakukan nya dengan kecepatan sedang. 


Sampai di rumah sakit Mila segera dilarikan ke IGD, Dani berlari di iringi oleh Tegar yang ikut panik melihat kondisi Bundanya. 


"Tolong istri saya Sus," ucap Dani pada Suster jaga. 


"Baik Pak, sepertinya istri Bapak mau melahirkan."


"Melahirkan!"


"Tapi …perkiraan dokter istri saya melahirkan bulan depan, kenapa cepat sekali?"

__ADS_1


"Sebaiknya Bapak tunggu di luar dulu karena kami akan memeriksa kondisi Ibunya dulu."


Dani panik sambil duduk di ruang tunggu, ia pun segera mengabari semua keluarga terutama Ibunya. 


Ini pengalaman pertama bagi Dani, sambil memeluk Tegar ia menarik nafas panjang. 


Dani memilih untuk menunggu di luar karena ia takut melihat istrinya yang kesakitan, ia tak tega melihat Mila berjuang untuk melahirkan bayinya. 


Sambil menunggu keluarganya datang Amar terus berdoa demi keselamatan istri dan anaknya.


Ia sangat khawatir dengan keadaan istrinya, Dani terus mondar mandir berjalan kesana kemari.


Saat dokter keluar ia langsung datang menghampiri dan bertanya kondisi sang istri. 


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Dani panik saat dokter baru keluar dari  ruangan. 


"Kondisi istri Bapak sangat lemah kita harus menyelamatkan bayi dalam kandungannya, kami harus melakukan operasi," ucap Pak dokter yang membuat Dani terkejut. 


"Operasi !!"


"Lakukan yang terbaik menurut dokter."


" Baiklah kalau begitu, sebaiknya Bapak urus administrasinya dan kami akan mempersiapkan operasinya sekarang."


Dani hanya mengangguk kan kepala dna berjalan menuju resepsionis untuk mengurus semua biaya-biaya dan menandatangani surat persetujuan. 


Tak lama kemudian orang tua Dani datang tapi tidak dengan orang tua Mila, Ayah Mila sedang jatuh sakit jadi Ibunya tidak bisa datang karena harus merawat suaminya. 


Mereka segera menghampiri Dani yang masih berdiri di depan resepsionis. 


"Bagaimana keadaan Mila?" Tanya Ibu Dani.


"Mila harus segera dioperasi Bu," lirih Dani pada Ibunya dengan mata berkaca-kaca. 


"Ya sudah, kamu tenang, biasa kok jika wanita hamil di operasi," ucap Ibu Dani sambil mengelus punggung sang putra. 


Ia tahu jika ini pengalaman pertama bagi sang putra, wajar jika Dani panik dan ketakutan.


Suster keluar dan memanggil Dani agar bisa menemani istrinya. Dengan rasa takut ia berjalan masuk ke dalam ruang operasi. 


Dani melihat Mila yang masih belum sadarkan diri karena saat dibawa kerumah sakit Mila pingsan. 


Air matanya jatuh saat melihat sang istri tak berdaya, ia berdoa di dalam hati untuk keselamatan anak dan istrinya. 

__ADS_1


Dokter segera melakukan operasi untuk menyelamatkan bayi yang ada di kandungan Mila, semua peralatan operasi telah berbaris rapi begitupun dengan tim medis. Melihat semua itu Dani merasa takut meski ia seorang polisi.


__ADS_2