
Amar terkejut saat melihat pak Dani yang menepuk pundaknya.
"Pak Amar sedang apa disini, kenapa tidak hadir di acara bahagia saya kemarin, padahal saya ingin mengenalkan bapak pada istri saya."
Amar hanya diam membisu mendengarkan ucapan Dani, Amar bingung harus berkata apa, ingin rasanya memberitahu pada Pak Dani wanita yang dinikahi Dani adalah Ibu dari anaknya.
"Kenapa diam saja Pak?"
Dani bertanya namun Amar yang masih diam membisu seperti patung manekin.
"Tidak Pak, maaf saya lupa kalau hari minggu kemarin acara pernikahan Bapak, maaf tidak bisa hadir."
"Saya hanya kebetulan lewat dan teringat jika ada undangan dari Bapak," ucap Amar pada Dani.
"Baiklah tidak apa-apa, lain kali akan saya kenalkan Pak Amar pada istri saya. Saya permisi dulu," ujar Dani berlalu pergi meninggalkan Amar yang masih berdiri bak patung manekin.
Amar ingin sekali mengatakan jika mereka mencintai wanita yang sama namun sulit untuk mengatakannya.
Tapi Amar tak habis akal, ia masih akan tetap berusaha merebut Mila kembali dari tangan Dani.
Baginya sekarang Mila dan Tegar adalah tujuan hidupnya meski sulit mendapatkan Mila kembali.
****
Dani dan Mila akan berangkat bulan madu, mereka pergi hanya berdua tanpa Tegar.
Tegar harus sekolah jadi tidak bisa ikut, ini pertama kali Mila berpisah dari Tegar.
Meski ada Bik Ijah dan semua keluarga yang akan menjaga dan mengurus Tegar namun Mila sedikit takut untuk meninggalkan Tegar.
"Apa tidak bisa kita ajak saja Tegar Sayang," ucapnya pada lelaki yang sudah halal.
"Kenapa, kamu takut jika Tegar tidak ada yang urus."
"Bukan begitu Mas, tapi ini untuk pertama kalinya aku berpisah dengan anakku."
"Sudah lah, disini banyak orang yang akan menjaga Tegar. Lagipula dia sudah besar, disinikan ada nenek dan kakeknya."
"Baiklah Mas."
"Ya sudah kamu siap-siap, nanti sore kita berangkat."
__ADS_1
Meski sulit untuk meninggalkan Tegar Mika tetap berkemas untuk keberangkatannya nanti sore.
Semua baju dan keperluan lain nya sudah tertata rapi di dalam koper berwarna hitam.
Sore hari kami sudah siap untuk berangkat ke bandara tinggal menunggu Taxi yang sudah di pesan oleh Dani.
Dani dan Mila sudah siap berangkat menuju bandara sedangkan Keluarga yang lain akan kembali ke rumah. Kami berpisah di Hotel.
Taxi sudah datang, Dani dan Mila pun langsung menuju bandara mereka akan pergi berbulan madu selama satu minggu.
Dani berencana berbulan madu selama dua minggu namun Mila menolak karena tidak ingin meninggalkan Tegar sendirian terlalu lama.
Akhirnya mereka sepakat satu minggu saja.
Sepanjang perjalanan menuju bandara mereka bercanda dan tertawa di dalam mobil, tiba di lampu merah mobil yang mereka tumpangi berhenti saat mobil berhenti Mika melihat Amar di seberang jalan.
Mila tampak terkejut kenapa Amar bisa ada di kota ini, apa yang sedang dilakukan Amar. Mata Mila tertuju pada Mantan suaminya itu hingga mobil melaju.
"Mas … Mas, lihat itu Mas ada …."
"Ada siapa?"
"Kamu melihat siapa? Kenapa kamu kelihatan kaget Sayang?" Bertubi pertanyaan dilontarkan Dani pada istrinya.
Tangan Mila menunjuk ke arah seseorang, namun Dani tak sempat melihat orang yang dimaksud karena mobil yang mereka tumpangi melaju dengan cepat.
"Mana kok Mas gak lihat?"
"Siapa yang kamu maksud itu?"
"Itu Mas! Mantan suami aku, ayah Tegar Mas."
"Mantan suami kamu mana sih? Mas kan gak tau yang mana mantan kamu itu. Kamu kan tidak pernah kasih lihat fotonya sama Mas."
"Iya sih, bagaiman Mila mau kasih lihat sama Mas, foto-fotonya dan semua tentang dia sudah Mila buang Mas, itu masa lalu yang menyakitkan tidak pantas untuk diingat apalagi dikenang," lirih Mila pada suaminya.
"Ya sudah biar saja, lagian untuk apa kamu mikirin dia, siapa tau dia sedang ada pekerjaan disini."
Dani memberi pengertian pada istrinya.
"Kita kan mau bulan madu, ngapain mikirin orang gak penting sih," ujar Dani.
__ADS_1
Sampai di bandara mereka langsung cek in dan menuju ruang tunggu. Mila masih nampak memikirkan mantan suaminya tadi. Di dalam benaknya masih penuh tanda tanya. Namun Mila berusaha menutupinya tidak ingin mengecewakan sang suami karena ini momen bahagia mereka.
****
Amar sedang memikirkan cara untuk mendapatkan Mila kembali meski dia tahu jika saat ini Mila sudah menikah lagi.
Apapun akan ia lakukan demi mendapatkan cinta Mila kembali, meski dengan cara yang tidak baik.
Amar akan mencari tahu tentang keluarga Mila yang baru dan alamat rumahnya.
Amar kembali ke hotel dimana acara pernikahan Mila digelar, Amar ingin mengorek informasi dari sana siapa tahu ada petunjuk.
Sore hari sepulang dari bekerja Amar langsung mampir ke Hotel ternyata semua sudah selesai dibersihkan. Amar bingung kemana ia harus mencari tahu tentang Mila.
Lebih baik ia bertanya ke resepsionis, pura-pura untuk mengantarkan kado.
"Selamat sore mbak, saya mau mengantarkan paket untuk Bapak Dani yang baru menikah dua hari yang lalu di hotel ini."
"Sebentar saya cek dulu ya Pak."
"Maaf Pak, Bu Mila dan Bapak Dani sudah cek out kemarin sore, mohon maaf."
"Waduh jadi gimana ya Bu! Kemana saya akan mengantarkan paket ini, saya hanya seorang kurir jika saya bawa kembali paket ini kembali, saya akan dimarahi." Amar mencoba berbohong demi mendapatkan alamat rumah Mila.
"Bagaimana jika saya antarkan ke rumah saja? Bisakah Ibu memberikan alamatnya?"
"Sebentar pak saya tanya pada atasan saya dulu."
"Baik Bu."
Amar berjalan kesana kemari rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan Mila.
"Ini Pak alamatnya."
"Terimakasih Bu, permisi," ucap Amar pada resepsionis.
Senyum penuh kemenangan terlihat di wajahnya, ini awal yang baik menurut Amar.
Alamat rumah Mila sudah di tangan, ia langsung melajukan sepeda motornya ke rumah Mila sesuai alamat yang diberikan resepsionis tadi.
Sepanjang jalan Amar terus tersenyum, seakan mendapatkan udara segar. Dengan semangat yang menggebu ia melaju menyusuri jalan.
__ADS_1
Di depan gerbang perumahan ada security yang sedang berjaga, Amar bertanya alamat rumah Mila dengan alasan mengantarkan paket.
Security pun memberikan izin pada Amar untuk mengantarkan paket. Sampai di depan rumah Mila, Amar merasa kecewa karena