
"Kamu …."
"Kamu Lastri i kan?" Tanya Amar.
"Iya, kenapa! Kamu terkejut melihatku Mas," ujar Lastri.
Lastri datang dan membuat kami semua terkejut, betapa tidak! Sekarang penampilannya jauh berbeda dari sebelumnya.
Lastri semakin cantik, penampilannya semakin menarik. Dengan pakaian yang ia kenakan.
Memang dari dulu pun Lastri cantik, tak salah jika banyak lelaki yang menyukainya termasuk mantan suamiku.
"Kamu kemana saja selama ini Mas? Kenapa kamu mencariku dan anak kita?" Tanya Lastri dengan sorot mata penuh kebencian.
"Maafkan aku Lastri, aku khilaf," lirih Amar pada Lastri yang masih berdiri di depan pintu.
"Sebaiknya kalian semua pergi dari sini dan jangan ganggu kami lagi, biarkan kami hidup tenang tanpa bayang masa lalu," ucap Lastri dengan lantang.
"Maaf jika kedatangan kami mengganggu kamu, tapi kami hanya ingin tahu yang sebenarnya terjadi Las."
"Buat kamu mbak Mila, aku minta maaf karena telah menghancurkan rumah tanggamu dan merebut suamimu," ucap Lastri yang membuat aku tak berdaya.
" Aku tahu ini tidaklah benar, tapi semua sudah terjadi, suamimu juga sudah kembali bukan!"
"Apa yang kau katakan, Aku dan mas Amar tidak lah bersama Lastri, luka yang kalian torehkan tak mampu sembuh begitu saja."
"Aku datang kesini hanya ingin tahu siapa yang telah menusukku dari belakang! Ternyata kalian yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri tega menyakitiku," ucapku.
Tangisku Pun pecah, hati ini terasa bagai disambar petir, sungguh sangat menyakitkan. Pengkhianatan yang mereka lakukan padaku.
Segera ku hapus air mata yang tumpah membasahi pipi, tak perlu aku menangisi penghianat seperti mereka.
Kutarik nafas panjang, sungguh terasa sesak di dadaku ini. Sebaiknya aku pergi saja tak perlu berlama-lama disini, semua sudah jelas.
Mas Amar, Ayu dan juga Lastri. Mereka semua penghianat. Mulai sekarang aku akan melupakan semua masalah ini.
Akan ku buka lembar hidupku yang baru, melupakan semua kenangan bersama mereka. Biarkan aku hidup bahagia bersama Tegar dan Lani yang sebentar lagi akan menjadi anak angkatku.
"Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas, aku permisi," ucapku pada mereka semua.
Kutinggalkan rumah Ayu dan kembali ke penginapan untuk mengemasi barang-barangku. Aku akan pulang sekarang juga tak perlu menunggu mereka lagi.
Sampai di penginapan, aku bergegas membereskan semua barang-barangku dan pergi dari sini.
Dalam perjalanan pulang aku membeli sedikit oleh-oleh untuk Tegar dan Lani, mereka akan senang jika aku pulang membawa oleh-oleh.
****
Hari demi hari aku lalui tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, satu tahun sudah sejak kejadian itu, kini hidupku sudah jauh lebih baik.
Semuanya sudah aku lupakan kini aku sudah membuka lembaran hidup yang baru. Sekarang aku sedang menjalin hubungan dengan Dani. Pertemuan waktu itu membuat kami semakin sering berkomunikasi dan menjalin hubungan.
__ADS_1
Dani lelaki yang baik juga santun dia juga menyayangi Tegar dan Lani.
****
Tin!
Tin!
Dani membunyikan klakson mobilnya, jika dia sedang libur bertugas pasti mampir ke rumah untuk sekedar bertemu anak-anak.
Kami memutuskan untuk menikah namun sebelum menikah Dani ingin bisa lebih dekat lagi dengan anak-anak apalagi Tegar, karena Tegar masih belum bisa menerima jika aku menikah dengan Dani.
Mendengar deru suara mobil Dani, aku langsung keluar menyambut kedatangannya.
Sudah satu bulan kami tidak bertemu karena Dani sedang ada tugas di luar kota.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Mari masuk," ajak ku dengan senyum mengembang.
"Kok, senyum-senyum gitu didatangi pacarnya," ucap Dani meledekku membuat aku tersipu malu.
"Anak-anak dimana?" Tanya Dani karena sejak datang belum melihat anak-anak.
"Mereka sedang bermain di taman sama Bik Ijah, bentar lagi juga pulang," jawabku.
"Gimana Tegar Mil? Apakah dia sudah bisa menerimaku untuk menggantikan posisi ayahnya?" Tanya Dani. Membuat aku diam sejenak.
"Entahlah Dan! Aku bingung!"
"Kenapa, apa kamu meragukanku Mila? Apa kamu tidak percaya dengan ketulusan cintaku sama kamu dan juga Tegar."
"Aku menyayangi kalian Mil," ucap Dani dengan tegas.
Kuhela nafas panjang, mencoba untuk tetap tenang.
"Nanti kita tanyakan pada Tegar ya," jawabku pelan.
"Baiklah"
****
"Bu, minggu depan Amar akan menikah dengan Mirna," ucap Amar pada Ibunya.
"Mirna siapa lagi Mar, berapa banyak wanita yang ingin kau nikahi Mar? sampai kapan kamu begini Mar," ucap Ibu.
"Aku ini butuh pendamping hidup Bu!"
"Tapi sampai kapan Mar? Coba kalau kamu balikan sama Mila pasti sudah hidup bahagia sekarang bersama anak kalian."
__ADS_1
"Mila tidak mencintai Amar lagi Bu." Amar menjelaskan.
"Kamu cari cara dong biar bisa meluluhkan hatinya Mila lagi."
"Lebih baik kamu pikirkan dan cari cara agar bisa mendekati Mila kembali," ucap Ibu memberi penegasan.
Benar juga apa yang dikatakan Ibu, sebaiknya aku cari cara biar bisa dekat lagi sama Mila dan Tegar.
Amar sibuk mencari cara agar bisa kembali dengan Mila, namun bingung ingin mulai dari mana.
Sudah satu tahun terakhir ini mereka tidak pernah berkomunikasi lagi.
Sebaiknya Aku buat alasan agar bisa bertemu mereka? Amar berpikir sejenak, rencana apa yang akan dia lakukan!.
Semalaman Amar mencari cara yang tepat.
***
"Ibu gimana kalau besok kita datang kerumah Mila?"
"Ide bagus Mar"
"Kalau begitu Ibu akan berbelanja dulu untuk oleh-oleh cucu Ibu," ucap Ibu dengan gembira.
"Ibu mau aku temani?" Tanya Amar.
"Boleh, ayo kita berangkat sekarang."
Mereka pun berangkat ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa oleh-oleh buat Tegar. Kebahagian tampak di wajah Ibu saat tahu besok mereka akan kerumah Mila dan bertemu Tegar.
Ibu memang menyayangi Tegar karena Tegar adalah cucu lelakinya.
Saat sedang asyik memilih mainan di toko mainan mereka melihat seseorang yang juga sedang memilih mainan disana.
"Bu … ibu lihat itu disana," ucap Amar menujuk kearah seseorang.
"Apa sih Mar, kamu ini."
"Ibu lihat dulu itu …."
"Bukannya itu_
"Iya Bu, ayo kita samperin," ajak Amar sambil menyeret tangan Ibunya.
"Tunggu Mar, pelan-pelan dikit kenapa, ibu bisa jatuh gara-gara kamu," gerutu Ibu sambil terus berjalan mengiringi Amar dari belakang.
"Makanya Ibu cepetan jalannya nanti mereka keburu pergi Bu!"
"Iya … iya"
"Hai, kamu ...
__ADS_1