BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 42


__ADS_3

Keluarga Mila sibuk untuk mempersiapkan acara aqiqah anak keduanya, bagi Mila ini anak kedua namun bagi Dani ini anak pertama.


Acara aqiqah akan digelar beberapa hari lagi, semua anggota keluarga sibuk mendekor ruangan untuk acara aqiqah.


Saat Mila dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga tiba-tiba mantan mertua Mila datang dengan wajah memelas.


"Mil," sapanya dari luar yang langsung saja masuk tanpa permisi.


Mila yang sedang menggendong bayinya kaget saat menoleh ke sumber suara.


"Ibu!"


"Ada perlu apa Ibu datang kesini, apa belum puas kalian mengganggu hidupku?" Mila langsung berteriak tanpa mempersilahkan wanita tua itu untuk duduk.


"Kamu kok marah-marah begitu Mil sama Ibu!" Ibu Amar seakan memelas, membuat Mila muak melihat nya.


"Lalu apa tujuan Ibu datang kerumah Mila? Apa mau Ibu?" Tanya Mila penuh penekanan.


"Ibu kesini …."


"Ibu ingin kalian mencabut laporan terhadap Amar Mil, kasian dia disana Mil, apa kalian tidak merasa kasihan pada Tegar."


"Jika dia tahu ayahnya sekarang sedang berada dibalik jeruji besi apa yang akan terjadi?"


"Biar saja Tegar tahu jika ayahnya memang bukan orang yang baik, siapa suruh ia mengganggu hidupku."


"Mila rasa, Ibu masih ingat kejadian beberapa tahun lalu, dimana anak lelaki Ibu meninggalkan Mila dan cucu Ibu demi wanita lain."


"Sekarang dia kembali mau menghancurkan Mila."


"Apa belum cukup dia menghancurkan Mila Bu," teriak Mila sambil berurai air mata.


"Ibu ingat dulu Mila berjuang sendirian saat Tegar masih begitu kecil, sekarang saat dia sudah tumbuh besar kalian mau merebutnya dari Mila."


"Ingat kan Ibu kejadian itu apa perlu Mila mengingatkan kembali Bu! Selama ini Mila selalu menghormati Ibu, Mila sudah menganggap Ibu seperti Ibu Mila sendiri tapi kenapa sekarang Ibu seakan tidak suka melihat Mila bahagia? Kenapa Bu?" Tanya Mila pada mantan Ibu mertuanya yang langsung tertunduk diam tanpa kata,


Mila yang sudah tak tahan melihat perlakuan mantan suami dan Ibu mertuanya menangis tersedu, Dani yang mengelus punggungnya mencoba untuk menenangkan sang istri.


Ibu Dani seakan tak mau ikut campur urusan menantunya dengan mantan Mertuanya pergi meninggalkan perdebatan mereka sambil membawa sang cucu dari pangkuan Mila.


"Maafkan Ibu Mil, ibu benar-benar minta maaf, ibu hanya tidak rela jika kalian pergi meninggalkan Ibu," lirih Ibu Amar yang meneteskan air mata sambil berdiri karena sejak ia tak tak ada tawaran untuk duduk.


"Ibu hanya ingin kamu dan Amar hidup bersama lagi seperti dulu, hanya itu saja."


"Ibu tahu kan jika itu tidak mungkin apalagi sekarang Mila sudah hidup bahagia dengan keluarga Mila yang baru."


"Sekarang Mila sudah mempunyai anak."


"Harusnya Ibu tahu perasaan Mila bagaimana, sudah cukup Bu, Mila mohon ijinkan Mila hidup tenang dan jangan ganggu Mila lagi."


"Masalah anak lelaki Ibu yang ditahan saat ini biarlah itu menjadi urusan yang berwajib dan bukan urusan Mila."


"Maaf Mila harus istirahat," ucap Mila seraya berlalu meninggalkan mantan mertuanya.


Mila beranjak dari tempat duduknya, ia memilih untuk mengakhiri perdebatan walau bagaimanapun ia masih menghormati wanita tua yang pernah menjadi Ibu mertuanya.


Dulu saat Mila menjadi menantunya tak sekalipun ibu mertuanya itu jahat seperti kata orang, ia seorang mertua idaman semua para menantu.

__ADS_1


****


Ibu Amar masih berdiri saat Mila sudah beranjak pergi meninggalkannya, ia bingung apalagi yang harus ia lakukan agar Mila mau mencabut laporannya atas Amar.


Susah paya ia berakting memelas namun Mila tak jua luluh, Ibu Amar seakan ingin marah namun ia urungkan niatnya.


Ia pergi meninggalkan rumah Mila dan langsung menuju tempat dimana putranya ditahan.


Dengan menggunakan ojek Ibu Amar mengunjungi Amar serta membawa sedikit makanan.


***


"Bagaimana Bu? Apa Ibu berhasil membujuk Mila untuk mencabut laporan untuk ku?" Tanya Amar pada Ibunya.


"Tidak Nak, Ibu tidak bisa membujuk mantan istrimu itu," jawab Ibu Amar dengan wajah sedih.


Amar mengusap wajahnya sambil menarik nafas panjang.


"Lalu bagaimana nasib Amar Bu? Ibu tidak kasihan sama Amar Bu!"


"Ibu akan pulang dulu, Ibu akan menjual rumah kita di kampung, nanti setelah Ibu punya uang Ibu datang kesini lagi."


"Semua bisa diatur jika kita punya banyak uang Nak."


"Kamu yang sabar, sampai Ibu kembali."


"Baiklah Bu, ibu cepat kembali, karena Amar tidak betah tinggal disini Bu!" Rengek Amar pada Ibunya.


"Ya sudah, Ibu pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik disini."


Ibu Amar pulang dengan wajah sedih, ia merasa begitu kasihan pada anak lelakinya, kenapa nasibnya begitu malang, apa ini karma yang harus ia terima karena telah menyia-nyiakan istri dan anaknya dulu.


Semoga saja rumahnya bisa cepat terjual, meski berat namun demi membebaskan sang putra ia rela kehilangan harta satu-satunya yang ia miliki.


****


Dikamar Mila masih masih menangis ditemani Dani sang suami, Dani berusaha menenangkan istrinya yang masih bersedih.


"Sudahlah, tidak usah bersedih lagi."


"Tapi Mas, kenapa mereka tidak bisa melihat Aku bahagia, kenapa mereka selalu mengganggu kebahagiaanku," lirih Mila.


"Dulu ia meninggalkan Mila tapi sekarang disaat Mila sudah hidup bahagia ia seakan tak rela, apa salah Mila Mas," ucap Mila dengan suara serak sambil bersandar di pundak lelaki halalnya.


"Sudah, bukannya sekarang mereka tidak akan mengganggu kita lagi, lelaki itu sudah berada di dalam jeruji besi untuk waktu yang lama." Tutur Dani.


"Setelah urusannya selesai, kita akan pindah dari kota ini dan memulai hidup yang baru dimana tak ada orang kita kenal."


"Sekarang kamu istirahat dulu, Mas mau lihat Aldo dulu sudah bangun atau masih tidur."


"Baik Mas."


"Terimakasih Mas, kamu sudah mau menemaniku dan menerimaku apa adanya, terimakasih untuk semuanya Mas," ucap Mila seraya memegang tangan suaminya.


"Iya Sayang, Mas akan lakukan apapun demi kebahagian kamu dan keluarga kecil kita."


"Ya sudah, kamu istirahat ya."

__ADS_1


Dani meninggalkan Mila di kamar agar ia bisa lebih tenang.


***


Ibu Amar meninggalkan kontrakan dan pulang ke kampung halamannya untuk menjual rumah mereka.


Sepanjang perjalanan pulang ia masih memikirkan sang putra yang berada di dalam tahanan.


Bus yang di tumpangi Ibu Amar melaju dengan kecepatan tinggi, Namun ia tak menyadari jika Bus yang ditumpangi melaju dengan cepat.


Karena ia masih termenung memikirkan Amar.


Seketika Bus yang di tumpangi Ibu Amar oleng karena sopir mengantuk, semua penumpang menjerit histeris saat Bus menabrak pembatas jalan.


Brak!


Brak!


Siiittt!


Bus menabrak pembatas jalan dan terbalik, kecelakaan pun tak terelakan.


Semua penumpang dilarikan ke rumah sakit terdekat, belum diketahui kondisi semua penumpang. Termasuk Ibu Amar yang berada di dalam Bus, ia duduk di bagian tengah Bus.


Saat identifikasi ternyata Ibu Amar mengalami luka parah, ia koma dan belum sadarkan diri, petugas rumah sakit kebingungan untuk menghubungi keluarganya.


Karena saat ditemukan tak ada nomor yang bisa di hubungi, di dalam tas hanya ditemukan kartu identitas saja dan sejumlah uang.


Terpaksa petugas rumah sakit yang merawat Ibu Amar yang masih mengalami koma dan luka dikejar tubuhnya yang tua rentah.


Pihak dari angkutan bus yang ditumpanginya pun sudah berusaha untuk mencari keluarga Ibu Amar namun nihil.


Petugas dari rumah sakit sudah mendatangi rumah sesuai alamat yang tertera di kartu identitasnya namun tak membuahkan hasil.


Petugas bertanya kepada para tetangga namun tak ada yang bisa memberikan informasi.


Yang mereka tahu anak dari wanita tua itu pergi merantau ke kota dan ia hanya tinggal seorang diri.


Para tetangga pun tak tahu alamat anak sang Ibu karena Ibu Amar tak pernah memberitahu dimana anaknya pergi merantau.


****


Amar merasa gelisah karena Ibunya tak kunjung datang, sedangkan sidang tak lama lagi akan digelar.


Nomor ponsel Ibunya pun tak bisa dihubungi, Amar merasa begitu khawatir, apa yang terjadi pada Ibunya, ia jika tidak tahu harus bertanya pada siapa, begitu banyak tanya dalam benaknya.


Siapa yang bisa membantunya, apa mungkin jika ia meminta bantuan Dani, Dani akan membantu untuk mencari tahu keberadaan Ibunya.


Hanya Dani harapan satu-satunya,semoga saja Dani mau membantu.


Saat Dani sedang bertugas, Amar meminta bantuan petugas yang sedang berjaga untuk menyampaikan pada Dani jika ia ingin berbicara sebentar saja.


Dani pun datang untuk menemui Amar yang berada dibalik jeruji besi.


"Ada perlu apa?" Tanya Dani pada Amar.


"Aku ingin meminta bantuanmu, aku yakin kamu pasti mau membantuku."

__ADS_1


"Percaya diri sekali kamu, kalau aku mau membantumu.


"Kamu orang baik, aku tahu itu, pasti kamu mau membantuku kan?"


__ADS_2