BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 32


__ADS_3

Aku berhak untuk bahagia 32


"Istri anda sedang hamil, usia kandungannya baru dua minggu, kondisi istri anda sekarang sedang lemah, butuh banyak istirahat."


"Apa Dok? Istri saya sedang hamil."


"Beneran Dok? Istri saya hamil, Alhamdulillah," ucap Dani dengan rasa syukur karena sudah diberi kepercayaan untuk memiliki anak.


"Iya, sebaiknya anda temani istri anda, saya permisi," ucap sang Dokter yang bernama Rizal.


Dengan mata berkaca-kaca Dani memeluk Ibunya, tak banyak yang bisa dilakukan kecuali bersyukur.


Mereka semua masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Mila yang sudah mulai sadarkan diri.


Saat siuman Mila merasa aneh, kenapa tiba-tiba ia sudah berada di rumah sakit, perasaan tadi ia sedang ingin membuatkan suaminya kopi hanya itu yang bisa diingat oleh Mila.


"Kamu sudah bangun Sayang," ucap Dani dengan memberi kecupan pada dahi Mila.


"Iya Mas, kenapa Aku ada sini Mas! Bukannya tadi aku ada di dapur terus kenapa sekarang ada disini?" Mila bertanya pada suaminya yang dari tadi hanya senyum-senyum saja.


Mila ingin bangkit dari tempat tidurnya namun dilarang oleh suaminya.


"Kamu tiduran saja Sayang, kata Dokter kamu harus banyak istirahat."


"Aku tidak apa-apa kok Mas, aku mau pulang."


"Iya nanti kita pulang, tapi sekarang kamu istirahat saja dulu disini," titah suaminya.


"Tapi Mas"


"Mil, selamat ya! Sebentar lagi kami akan menjadi nenek," ucap mertua Mila yang membuat Mila bingung.


"Maksud Ibu apa?"


"Maksud Ibu sebentar lagi Tegar akan punya adik bayi," Dani memberi penjelasan sambil menggenggam tangan Mila.


"Horee … Tegar mau punya adik Pa."


"Iya Nak, bentar lagi kita punya dedek bayi."


Mila terkejut, ia tak percaya akan diberikan kepercayaan secepat ini, pantas saja sejak pagi ia merasa tidak enak badan ternyata sedang ada cabang bayi dalam tubuhnya.


Mereka semua bahagia mendengar kabar kehamilan Mila, sudah begitu banyak keinginan untuk sang buah hati yang belum hadir kedunia.


****


Sejak kehamilan Mila, semua orang sangat begitu memperhatikannya. Dani tidak ingin calon anaknya kenapa-kenapa, semua anggota keluarga berbagi tugas termasuk kedua orang tua Dani yang tiap harinya datang untuk melihat kondisi sang menantu.

__ADS_1


Mila merasa kebahagiannya semakin bertambah dengan kehadiran calon anaknya yang masih di dalam kandungan.


Mempunyai Mertua yang begitu baik dan perhatian kepadanya  pada Tegar cucu sambung mereka.


Mila merasa beruntung memiliki mertua sebaik ini, apalagi mendengar ia sedang mengandung, semua mau bersusah payah menjaga kesehatan Mila.


Semua keinginan Mila akan segera dituruti belum ada satupun yang tak terpenuhi.


****


Dani mulai mendekor kamar buat calon bayinya nanti padahal usia kandungan Mila baru tiga bulan.


Seakan tidak sabar menanti kelahiran anak pertamanya.


Jika hari libur Dani dan Tegar akan mendekor kamar bayi, semua keperluan bayinya hampir semua sudah ia persiapkan.


Meski Mila sudah melarang jika anaknya masih lama lahir ke dunia, seakan Dani tak peduli ucapan istrinya.


****


Sejak Mila hamil Tegar tidak pernah lagi pergi dengan Ayahnya, ia selalu menolak jika diajak oleh Amar.


Dengan alasan ingin menjaga sang Bunda yang sedang mengandung calon adik bayinya.


Amar merasa terabaikan, padahal ia sudah mulai bisa mendekati Tegar namun seakan sia-sia.


Berbagai cara dilakukan Amar untuk membujuk Tegar biar mau pergi dengannya, namun ditolak dengan alasan yang sama, ingin menjaga Bunda.


Karena bagi Amar jika anak itu lahir maka semakin sulit Mika kembali padanya.


Amar begitu terobsesi dengan Mila sekarang padahal dulunya sama sekali tak peduli dengan Mila bahkan saat Mila membutuhkannya ia malah pergi dengan wanita lain. 


Amar semakin hari semakin pusing bagaimana cara menyingkirkan calon anak Mila yang akan menjadi penghalang baginya.


****


Disisi lain keluarga Mila yang semakin hari semakin bahagia, perut Mila sudah mulai membesar.


"Mas, aku gendutan sekarang ya Mas?" Mila bertanya pada suaminya.


"Kamu itu gak gendut tapi seksi," ujar Dabi sambil tertawa meledek istrinya.


"Kamu Mas, kok bilang gitu sih," ucap Mila melirik ke arah suaminya yang sedang asik menertawakannya. 


"Abis kamu ada-ada saja pertanyaan, kamu itu tetap cantik kok Sayang, Aku makin cinta sama kamu." Dani memeluk Mila dengan penuh cinta sambil mengecup keningnya.


"Mas, nanti kamu mau anak kita laki-laki atau perempuan?" Tanya Mila yang masih berada dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"Apa saja yang penting sehat dan tidak kurang satu apapun."


"Tegar mau adik laki-laki Bun," ucap Tegar yang tiba-tiba masuk kedalam kamar.


"Tegar mau adik laki-laki? Emangnya kenapa harus laki-laki? kan sama saja laki-laki maupun perempuan?" Mila bertanya pada putranya yang begitu bersemangat ingin punya adik laki-laki.


"Nanti kalau adiknya laki-laki bisa main bareng sama Tegar, kan bisa Tegar ajak main bola tapi kalau perempuan pasti mainan boneka, Tegar kan gak mau Bun," ucap Tegar dengan polos.


Dani dan Mila hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengarkan celotehan sang putra.


"Apapun nanti adiknya yang lahir kita harus terima dengan ikhlas, kan semuanya rezeki dari Allah, kita harus bersyukur," ucap Dani memberi penjelasan pada anak sambungnya.


"Baik Pa"


"Gitu dong, itu baru anak Papa."


"Nanti kita cek dedek bayinya laki-laki atau perempuan biar kita bisa tahu calon dedek bayi yang ada di perut Bunda laki-laki atau perempuan, biar nanti kita bisa cari nama buat dedek bayi, bagaimana setuju."


"Setuju dong Yah."


Melihat kekompakan anak dan suaminya membuat Mila tambah bahagia. Mila berharap jika nanti anak yang ia kandung lahir tidak membuat kasih sayang suaminya berkurang pada Tegar.


Terkadang ada rasa takut dalam diri Mila jika nanti semua keluarga Dani akan lebih menyayangi darah daging mereka ketimbang Tegar namun semua itu langsung ditepis oleh Mila, ia tidak mau pikiran itu merusak suasana hatinya saat ini.


"Jadi kapan kita akan antar Bunda ke Dokter untuk periksa dedek bayinya Pa?"


"Bagaimana kalau hari minggu," ucap Dani pada Tegar.


"Oke … siap," jawab Tegar sambil mengacungkan jempolnya tanda setuju.


"Kalian dari tadi asyik aja berdua? Bundanya di anggurin, emang Bunda patung," ujar Mika yang kesal karena di cuekin oleh dua lelaki hebatnya.


"Bunda sensi ni … ye, hahahaha," ucap Tegar mengejek Ibunya sambil tertawa riang.


"Inikan obrolan laki-laki Bun, cewek gak boleh ikut, ya kan Pa."


"Ya udah kalau gitu dedek bayinya nanti cewek aja gak usah cowok, biar Bunda ada temennya, ya kan."


"Kok curang sih Bun," rengek Tegar


"Siapa yang curang, kan kalian yang curang sama Bunda, siapa suruh cuekin Bunda."


"Iya deh, kita janji gak bakalan cuekin Bunda."


"Bunda gak usah ngambek lagi, senyum dong, kan jelek kalau bunda cemberut."


Tegar menarik sedikit bibir Ibunya agar terlihat sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Kalau bunda senyum kan cantik, iya gak Pa?"


"Iya dong, Bunda kan wanita paling cantik dirumah kita."


__ADS_2