BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI

BIARKAN AKU MEMILIH JALANKU SENDIRI
bab 8


__ADS_3

"Aku …."


"Aku boleh ikut tante?" Tanya lani padaku, membuat aku bingung harus menjawabnya.


Dengan mata berkaca-kaca dan wajah memelas ia tunjukan pada membuat hati ini terenyuh sekali.


'Bagaimana? Apa yang harus aku jawab padanya!' gumamku dalam hati.


Kenapa anak ini mau ikut denganku.


Aku takut saat nanti dia aku ajak kerumah ternyata dia mau menipuku. Walaupun terlihat  kalau dia berkata jujur tapi tetap saja saya harus waspada.


"Bagaimana tante? Apakah saya boleh ikut tante?" Tanya Lani lagi. Dengan wajah memelasnya.


"Tapi, kalau nanti kamu ikut tante pulang trus kamu dicariin bagaimana?" Tanyaku pada Lani.


"Aku tidak punya siapa-siapa tante, Ibu menitipkanku di panti asuhan. Aku lari dari sana karena aku ingin mencari orang tuaku tante," keluhnya.


"Jadi pembantu dirumah tante juga tidak apa-apa kok Lani mau asal ada tempat untuk berteduh tante," lirihnya.


"Baiklah kalau begitu kamu boleg ijut sama tante, nanti kita cari orang tua kamu juga yah! Biar kamu bisa berkumpul dengan keluarga kamu," ucapku sambil menenangkannya.


Lani Pun ku bawa ke rumah kami. Selama diperjalanan dia tidak banyak bicara hanya diam duduk di belakang.


Tegar tertidur di mobil, mungkin kelelahan bermain di taman. Sepanjang perjalanan pulang sambil menyetir aku berfikir masalah Lani. Kasihan sekali dia.


Mudah-mudahan aku bisa membantunya menemukan keluarganya kembali.


Sebelum pulang kerumah, aku mampir ke toko baju untuk membeli beberapa stel baju untuk Lani.


Karena dia tidak membawa apapun saat ikut denganku, baju yang Lani pakai pun sudah tidak layak.

__ADS_1


****


Sampai di rumah, ku parkirkan mobil ke halaman rumah namun ku lihat ada sepeda motor terparkir di sana, siapa datang ke rumahku sore-sore begini pikirku.


Kami bertiga turun, Tegar yang sedari tadi tertidur terpaksa aku gendong sampai kedalam rumah, saat berjalan memasuki rumah yang sudah dalam keadaan pintu terbuka.


Aku masuk dan langsung menidurkan Tegar ke dalam kamar biarkan saja dia tidur dulu nnati baru aku bangunkan untuk mandi.


Lani yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu mungkin menunggu instruksi dari ku.


"Ayo masuk sini Lan," ajakku pada Lani untuk masuk ke rumah kami.


"Baik Tante, terimakasih."


"Anak siapa ini Mil?" Ucap Ibu yang tiba-tiba muncul dari arah dapur diiringi oleh mantan suamiku, membuat aku kaget dan menoleh ke arah suara Ibu.


"Aku menemukannya di jalan Bu! Karena kasihan padanya jadi aku membawanya ke rumah ini," jawabku menjelas pada mantan Ibu mertua.


"Bisa sajai akal-akalan anak ini minta kasiani kamu dan dia maling dirumah ini," ujar Mas Amar mantan suamiku menimpali. 


"Ini bukan urusan kalian, ini urusan Mila, terserah Mila mau bawa siapa saja kerumah ini, paham kalian!" ucapku penuh penekanan. Membuat mereka berdua terdiam.


"Kalian yang ada urusan apa datang kerumah ini? Seenaknya saja main masuk rumah orang sembarang," ucapku lagi.


"Aku baik dengan kalian bukan berarti kalian bisa seenaknya saja masuk kerumah ini." Ku tinggalkan mereka dan membawa Lani masuk kedalam untuk menyuruhnya mandi dan berganti pakaian. 


Aku beranjak ke dapur, kulihat bik Ijah sedang memasak.


"Bik, kapan mereka datang? Kenapa mereka masuk rumah ini seenaknya?" Tanya ku bertubi-tubi pad bik Ijah yang masih sibuk dengan sayurannya.


"Sudah satu jam Non," jawab bik Ijah sambil tertunduk.

__ADS_1


"Lain kali tidak usah suruh mereka masuk," ucapku pada bik Ijah.


"Aku membawa seorang anak yang aku temukan di jalan bik, sekarang dia sedang mandi, bibi kasih dia makanan nanti yah," ucapku.


"Baik Non."


****


Aku beranjak ke ruang depan, kulihat mereka masih duduk santai di rumah ini, mau apa sebenarnya mereka kesini bikin aku pusing saja.


"Ada urusan apa kalian kesini?" Tanya sinis.


"Kamu kok bilang begitu Mil! Emang ibu tidak boleh datang kesini, Ibu ingin melihat cucu Ibu, lagian Ibu kan memang sering main kesini," ucap Ibu.


"Mulai sekarang jika kalian. Mau datang kerumah ini dan ingin melihat Tegar harus ijin dulu sama Mila, karena Mila tidak mau kejadian kemarin terulang lagi," ucapku.


"Tegar masih tidur, sebaiknya kalian pulang saja karena Aku mau istirahat."


"Kamu kok begitu Mil!" Ujar Mas Amar.


"Kita sudah tidak punya hubungan apapun Mas, jadi tolong kamu jangan ganggu aku lagi, pulanglah," usirku.


"Mil, aku kan sudah minta maaf sama kamu dan menyesali semuanya," ucap Mantan suamiku memelas membuat aku muak melihat tingkah lakunya seperti anak kecil.


"Lantas kalau kamu sudah minta maaf dan menyesali semuanya aku harus apa?" Tanyaku.


"Aku ingin kamu memaafkan Mas Mil," lirih nya membuat aku semakin membencinya.


Enak saja menyakiti, meninggalkan dan sekarang kembali tanpa rasa berdosa. Dasar laki-laki.


"Maaf Mas, aku mau istirahat dan kamu pulanglah." Ujarku. Ku tinggalkan mereka masuk ke kamar lalu menguncinya, lebih baik aku istirahat.

__ADS_1


"Mil … Mila dengar kan Mas Mil!"


__ADS_2