
Amar merasa gugup saat Mang Leman bertanya. Namun ia berusaha untuk tenang agar mang Leman tak curiga.
"Sampeyan tadi ngapain berdiri di situ kayak orang bengong?" Tanya Mang Leman pada Amar saat mereka membawa nasi box ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa? Hanya takjub saja melihat rumah ini bagus sekali dan besar lagi."
"Iya rumah Bu Mila bagus dan besar."
"Mamang sudah lama bekerja disini?" Tanya Amar penuh selidik.
"Baru, saat Ibu Mila dan Pak Dani membeli rumah ini, saya baru ikut mereka, disini juga ada bik Ijah orang kepercayaan bu Mila."
"Sekarang bu Mila mana ya Mang? Kok dari tadi saya belum melihatnya?"
"Tadi itu yang manggil saya waktu di luar, itulah Bu Mila pemilik rumah ini," ucap mang Leman dengan santai.
"Oh, iya pak."
Amar masih menoleh kesana kemari, bola matanya seakan berputar-putar memastikan untuk melihat Mila, namun sejak tadi Mila pun tak nampak batang hidungnya.
Rasa rindu yang sudah lama ia pendam, namun belum juga terpenuhi berjumpa dengan sang pujaan hati. Amar Pun tak melihat sosok Tegar di rumah ini.
Sudah hampir satu jam Amar berada di dalam rumahnya Mila namun batang hidung Mila dan Tegar Pun tak nampak.
"Semuanya sudah beres, saya pamit pulang ya Mang!"
"Oh iya, terimakasih ya pak! Sudah mau bantuin saya."
Amar Pun memutuskan untuk pulang, sudah hampir satu jam ia berada di rumah Mila namun masih belum bisa bertemu dengan Mila.
Amar berjalan keluar dari rumah Mila, sambil menoleh kesana kemari.
Amar menyalakan mesin sepeda motor miliknya, namun saat hendak pergi, Amar melihat Tegar berjalan kaki di temani Bik Ijah, Amar langsung mematikan mesin motornya dan menghampiri Tegar.
"Tegar, kamu lagi ngapain disini?" Tanya Amar pada anak lelakinya. Ia berdalih seakan-akan tidak mengetahui apa-apa.
"Ayah! Ayah sedang apa disini?" Tegar balik bertanya.
__ADS_1
"Ayah tadi mengantarkan pesanan ke rumah itu," ujar Amar sambil menunjuk rumah Mila.
"Itu kan rumah Tegar, sekarang Tegar sama Bunda dan Papa tinggal disana." Ucap Tegar dengan polos.
"Papa! Maksud kamu siapa Papa?"
"Papa Tegar."
"Maksudnya siapa Bik?" Tanya Amar pada Bik ijah, Amar mulai berakting seolah-olah dia kaget mendengar ucapan Tegar.
"Hem"
"Itu Pak … Non Mila sekarang sudah menikah lagi dan memiliki keluarga baru, kami tinggal disini sekarang," ucap Bik Ijah memberi penjelasan pada Amar.
"Ayo Yah, masuk dulu ke rumah Tegar nanti Tegar kenalin Ayah sama Papa Tegar."
Dengan polosnya Tegar berkata seperti itu, seakan senang memiliki Papa baru, membuat Amar kesal sekali namun mencoba untuk tetap tenang karena ia harus bisa mengambil hatinya Tegar.
Selama ini Tegar tidak pernah suka pada sang Ayah makanya Amar harus bersikap baik padanya, karena Tegar adalah senjata buat Amar merebut kembali hati sang mantan istri.
"Tapi Ayah takut Nak, nanti Bunda akan mengusir Ayah," ujar Amar yang berpura-pura untuk mencari simpati anaknya.
"Ayo Yah," Tegar menyeret tangan Amar untuk ikut dengannya masuk ke dalam rumah.
Amar berjalan mengiringi Tegar dari belakang. Amar senyum-senyum sendiri saat hendak masuk rumah Mila.
"Assalamualaikum"
"Bunda … Bunda dimana," teriak Tegar memanggil Mila.
"Waalaikumsalam"
"Iya, Bunda ada di dapur, ayo kesini," jawab Mila dari dalam.
Tegar berlari kecil menuju dapur untuk melihat ibunya.
"Kamu kenapa teriak-teriak begitu si Nak!"
__ADS_1
"Itu Bun, di luar ada …."
"Ada siapa."
"Tadi Tegar gak sengaja ketemu di depan rumah terus Tegar ajak mampir deh kerumah kita," ucap Tegar dengan polos.
Mila bingung apa maksud ucapan anak nya, siapa orang yang diajaknya mampir ke rumah mereka bukannya mereka tinggal disini terbilang baru.
"Maksud kamu siapa orang yang kamu suruh kerumah kita."
"Kalau ngomong yang jelas dong Nak."
"Pak Amar Non," jawab bik Ijah menimpali.
"Apa Bik!"
"Maksud Bibik, Ayahnya Tegar."
"Iya Non, tadi kami gak sengaja ketemu Bapak di depan lalu Tegar menyuruh Bapak masuk.
Dengan wajah pucat pasi sambil menelan saliva Mila tertegun, rasa tak percaya mendengar kalau saat ini ada mantan suaminya di ruang tamu mereka.
Jantung Mila berdetak dengan cepat, Mila merasa bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Ayo Bun, temui Ayah, tadi Tegar mau kenalin Ayah sama Papa, bentar lagi kan Papa pulang."
Mila masih berdiri mematung, keringatnya bercucuran, binggung harus berbuat apa.
Apakah ia harus menemui Amar mantan suaminya atau berdiam diri didalam kamar menunggu suaminya pulang.
Mila mencoba menghubungi nomor suaminya untuk segera pulang, Mila benar-benar takut saat ini, ia takut untuk menemui mantan suaminya.
Mila bingung dari mana Amar bisa tahu alamat rumahnya, tidak mungkinkan kalau ini semua kebetulan fikirnya.
Nomor Dani tidak aktif membuat Mila semakin panik, bingung. Sementara Tegar masih sibuk mengajaknya untuk menemui sang Ayah.
"Kemana si kamu Mas, kok tidak bisa dihubungi sih," Mila berbicara sendiri.
__ADS_1
"Bunda kok bengong aja, ayo Bun! Kasian Ayah nungguin kita."
"Iya, ayo."