
Masih kudengar teriakan mantan suamiku dari luar, sungguh benar-benar menguji kesabaranku orang ini.
Lebih baik aku pura-pura tidak mendengar saja agar mereka segera pergi dari rumah ini.
Ku ambil gawai dan mengeceknya siapa tau ada pesan atau panggilan yang tidak aku dengar.
Benar saja ada lima panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak aku kenal. Entah siapa yang menelponku, tak begitu aku hiraukan karena memang tidak aku kenal.
Setengah jam berlalu rupanya suara Ibu dan Mas Amar sudah tak terdengar lagi, mungkin mereka sudah pergi biar saja. Ingin keluar kamar namun aku sudah sangat lelah.
Biar Bik Ijah yang akan urus anak-anak, lebih baik aku istirahat.
****
Pagi hari disinari mentari pagi yang indah, sungguh cerah sekali hari ini semoga hati-hariku secerah mentari.
Aku beranjak keluar kamar untuk sarapan, berjalan perlahan menuju meja makan yang kulihat sudah ada anak-anak sarapan di temani oleh Bik Ijah.
"Wah! Kalian sudah pada sarapan nih kok bunda gak di ajak?" Tanyaku pada mereka yang samih asyik menyuapkan nasi ke dalam mulut mungilnya.
"Iya bun! kami sarapan duluan, lagian kan bunda masih di kamar tadi," jawab Tegar dengan polos.
"Tante gak sarapan?" Tanya Lani karena melihat ku masih berdiri memperhatikan mereka.
"Sarapan dong! Emang kalian aja yang mau sarapan aja tante nggak!" jawabku sambil menarik kursi untuk duduk bersama mereka.
Sambil menyentongkan nasi uduk ke atas piring, ku lihat kalau Lani sudah mulai akrab dengan Tegar dan juga Bik Ijah.
__ADS_1
Tegar dan Lani sepertinya mereka seumuran. Aku jadi kepikiran untuk menyekolahkan Lani di saja daripada dia dirumah tidak ada kegiatan.
Jika nanti benar-benar tidak ada yang mencari lani, aku akan mengadopsinya saja untuk memperjelas statusnya nanti.
***
Aku mengantarkan Tegar sekolah sekalian meminta formulir untuk Lani biar dia bisa segera diterima di sekolah.
Sambil menunggu Tegar belajar Aku mengurus pendaftaran Lani, dan semua yang diperlukan, namun mendaftarkan Lani tidaklah mudah.
Karena dia bukan anakku dan juga Lani tidak memiliki surat-surat untuk memenuhi syarat pendaftaran.
Aku harus secepatnya mengurus surat-surat untuk Lani supaya dia bisa segera sekolah dan menikmati hari-harinya segabai anak-anak pada umumnya.
***
"Bun, kita beli apa saja untuk dirumah?" Tanya Tegar saat kami sudah berada di pasar tradisional yang sudah ramai.
"Kita beli sayur dan lauk pauk sekalian beli buah-buahan," jawabku sambil berjalan menuju para penjual yang sudah menjajakan dagangannya.
Semua keperluan dapur sudah kami beli tanpa terkecuali, ini untuk memudahkan Bik Ijah supaya tak perlu repot tiap hari harus kepasar.
Kami berjalan menuju parkiran dimana mobilku terparkir disana, saat kami ingin keluar dari pasar menuju parkiran tak sengaja aku bertemu seseorang yang sudah lama sekali tidak bertemu.
Aku melihat seorang laki-laki turun dari mobil bersama perempuan namun aku tak mengenal perempuan itu siapa. Tapi laki-laki itu tak asing bagiku.
Aku mencoba mengingat namanya yang sudah di ujung lidah namun sulit untuk terucap. Membuat aku harus berpikir keras mengingat namanya.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam mobil dan memasukan semua barang belanjaan, duduk sejenak di dalamnya. Sambil mencoba mengingat lelaki tadi.
Dari kejauhan aku memperhatikannya karena aku belum berani untuk menyapa, sungguh aku melupakan namanya entahlah siapa nama lelaki itu
Lelaki itu duduk di dalam mobil dengan seorang anak lelaki yang usianya mungkin dua tahunan kira-kira, asyik sekali mereka bermain bersama.
Melihat keakraban antara anak dan ayah membuat aku mengingat kembali masa lalu dimana anakku tak pernah merasakan hal itu.
Tak terasa air mata jatuh berlinang saat aku melihat kebersamaan lelaki itu dengan anaknya. Andai dulu Mas Amar tidak berkhianat mungkin keluargaku akan hidup bahagia tudak seperti sekarang.
Aku harus berjuang sendirian membesarkan anakku tanpa bantuan seorang suami.
"Bun, kok ngelamun ayo kita pulang?" Tanya Tegar tiba-tiba memecahkan lamunanku.
"Iya Nak, ayo kita pulang."
Kulajukan perlahan mobil keluar dari pasar sambil sesekali aku masih memperhatikan lelaki yang aku kenal namun lupa namanya siapa.
Saat mobil ku melewati mobil lelaki itu dengan perlahan aku memperhatikannya yang masih bermain dengan anak lelakinya.
Terlihat kebahagian di antara mereka, sungguh membuat aku iri. Cepat ku tepis rasa itu karena akan membuat aku terluka.
Mobil melaju membela jalan raya menuju rumah, karena kami sudab berbelanja, sepanjang perjalanan aku masih mencoba mengingatnya.
Ya aku ingat sekarang dengan lelaki yang kulihat di pasar, kenapa setelah di tengah jalan aku baru mengingatnya.
Harusnya aku ingat dia di pasar tadi agar bisa menyapanya dan bertanya kabar.
__ADS_1
Ternyata dia …