
Aku Berhak untuk Bahagia 33
Hari ini Mila memeriksakan kandungannya diantar oleh dua lelaki terbaiknya, Tegar begitu bersemangat akan pergi mengantarkan Bundanya ke Dokter kandungan.
Mereka bertiga sudah siap akan berangkat ke Dokter kandungan, Tegar sudah sedari tadi duduk di teras menunggu Bunda dan Papanya yang masih di dalam kamar.
"Bunda, ayo kita berangkat nanti kesiangan, lama bener sih Bunda," teriak putra Mila dari luar rumah memanggil ibunya yang masih di dalam kamar.
"Iya, tunggu sebentar Nak! Bentar lagi juga kita berangkat," jawab Mila dengan sedikit berteriak dari dalam kamar.
Mila dan suaminya keluar kamar, mereka sudah siap untuk pergi, Dani mengambil kunci mobil yang masih tergantung di dinding.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil yang masih terparkir di halaman rumah. Saat mereka hendak memasuki mobil tiba-tiba Amar muncul di depan pintu gerbang sambil berteriak memanggil Tegar.
Kedatangan Amar seketika membuat kacau rencana Mila sekeluarga.
Amar sudah tahu jika Mila akan pergi ke Dokter kandungan karena diberitahu Tegar saat ia menelpon Tegar dan ingin membuat janji untuk pergi namun ditolak oleh Tegar dengan alasan mau mengantarkan Bunda ke Dokter.
Momen ini malah digunakan Amar untuk menggagalkan rencana mereka pergi ke Dokter.
"Ayah sedang apa disini? Bukannya Tegar sudah bilang kalau hari ini Tegar tidak bisa ikut dengan Ayah karena mau nemenin Bunda periksa dedek bayi." Tegar mencoba menjelaskan pada Ayahnya yang masih berdiri di depan pintu gerbang.
"Kamu bukannya Pak Amar yang suka antar makan siang saya ke kantor?" Tanya Dani yang kaget melihat Amar berada di depan pintu gerbangnya.
"Iya Pak, saya Amar yang suka antar pesanan Bapak."
"Apa … jadi kalian sudah saling kenal," ujar Mila keheranan.
"Iya Sayang, Mas kenal karena pak Amar suka antar makan siang Aku ke kantor."
"Aku tidak tahu jika dia adalah Mantan suami kamu."
"Kenalkan saya suaminya Mila," ucap Dani memperkenalkan dirinya pada Amar.
"Iya Pak, maaf saya juga tidak tahu jika istri Bapak adalah Mila mantan istri saya, sekali lagi saya minta maaf Pak," ujar Amar berpura-pura agar menarik perhatian Dani.
"Iya, tidak apa-apa Pak."
"Tapi maaf Pak, sekarang kita mau pergi, jika Bapak mau menemui Tegar bisa datang lagi nanti setelah kami pulang karena Tegar juga mau ikut kita, permisi." Ucap Dani yang membuat Amar tak percaya.
Amar tidak percaya jika ia akan di usir oleh suami mantan istrinya, padahal tadi ia berharap jika kedatangannya akan membuat mereka membatalkan kepergian mereka ke Dokter, ternyata Amar salah.
__ADS_1
Apalagi melihat ekspresi Dani saat bertemu dengannya yang biasa saja dan tampak tenang, Amar merasa kesal, ia mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah namun tak bisa ia luapkan.
Mobil Dani, perlahan keluar dari halaman rumah mereka sementara Amar masih berdiri di samping pintu gerbang menyaksikan kepergian mereka yang nampak bahagia. Membuat Amar semakin geram melihat pemandangan itu.
Amar masih memperhatikan Mobil mereka berlalu hingga hilang dari pandangan, ia pun pergi meninggalkan rumah Mila dengan penuh rasa amarah.
Amar melajukan sepeda motornya dengan membawa luka dihati, ia kembali ke rumah kontrakannya.
Di dalam kontrakannya ia berteriak seperti orang hilang akal, ia menangis histeris meratapi hidupnya.
Ia merasa begitu sakit hati melihat kebahagian Mila sekarang, wanita yang pernah ia sakiti, ia menyesal karena pernah meninggalkan Mila.
Sekarang seakan semuanya sudah terlambat, meski ia ingin memiliki Mila kembali, air matanya tumpah ruah hatinya hancur berkeping-keping.
Apalagi yang harus ia lakukan agar Mila bisa kembali pada nya dan meninggalkan suaminya Dani.
Apalagi sekarang Mila sedang mengandung, apa mungkin ia bisa membuat Mila kembali dengan keadaan saat ini.
****
Sepanjang perjalanan Dani hanya diam tak banyak yang diucapkan karena di dalam kepalanya masih memikirkan Amar mantan suami Mila yang tadi berkunjung kerumah mereka.
Karena ia juga seorang laki-laki.
Mila pun ikut diam karena bingung ingin bicara apa, ia tahu suaminya sedang tidak baik-baik saja sejak bertemu dengan mantan suaminya, meski Dani tampak tenang tapi Mila paham betul sifat lelaki halalnya.
Mila akan ambil sikap jika nanti mantan suaminya datang kembali karena ia tidak ingin jika kehadiran mantan suaminya akan merusak rumah tangganya.
Mereka Pun sampai di klinik Ananda, mereka keluar dari mobil menuju ruang pendaftaran karena sebelum datang mereka sudah buat janji maka tidak butuh waktu lama untuk antre.
"Ibu Mila, silakan masuk," panggil salah satu suster jaga yang bernama Airin.
Mila berjalan di temani dua lelaki hebatnya, berjalan tertatih tatih karena perutnya sudah mulai membesar membuatnya susah bergerak, itulah nikmatnya seorang Ibu.
Dokter Anan mulai melakukan pemeriksaan pada Mila yang sudah berbaring.
Selesai pemeriksaan dokter mulai menjelaskan jika kondisi bayi Mila sehat mudah-mudahan bisa melahirkan dengan normal nantinya.
"Bayi Ibu sehat, tetap jaga pola makan dan istirahat yang cukup," ucap sang Dokter.
"Dedek bayinya laki-laki atau perempuan Om Dokter?" Tiba-tiba Tegar bertanya.
__ADS_1
"Kamu maunya dedeknya apa?" Dokter Anan balik bertanya sambil tersenyum.
"Maunya sih Adik laki-laki Om."
"Ya sudah kalau begitu kamu berdoa sama Allah biar nanti dedek bayinya laki-laki."
"Tadi Bunda kan di periksa Om."
"Dedek bayinya masih malu, jadi jenis kelaminnya belum bisa Om Dokter lihat," Dokter Anan mencoba memberikan penjelasan pada putra Mila yang tampak kecewa karena tidak bisa mengetahui jenis kelamin calon adiknya.
****
Dirumah Tegar masih diam tanpa mau bicara pada siapapun, ia merasa kecewa karena tidak bisa mengetahui jenis kelamin calon adik bayinya yang sebentar lagi akan lahir.
"Kamu kenapa? Kok cemberut aja?" Tanya sang Bunda.
"Tegar sebel sama Om Dokter, gak mau kasih tau dedeknya nanti laki-lali atau bukan," ucapnya dengan polos membuat Mila tersenyum melihat kelakuan putranya.
"Ya sudah nantikan kita bisa periksa lagi, kamu gak boleh sedih dong."
Tegar hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti yang diucapkan ibunya.
****
Mila menghampiri suaminya yang sedang duduk di teras sambil menghisap sebatang rokok.
"Kami lagi ngapain Mas?" Tanya Mila yang membuyarkan lamunannya.
"Eh … kamu Sayang, Mas cuma nyantai aja, gimana Tegar masih ngambek?"
"Iya, kayak masih ngambek, biarin aja nanti baik sendiri."
"Mas, kayaknya kamu sedang banyak pikiran? Mikirin apa? Kamu gak bisa bohong sama aku Mas!"
Dani menghela nafas panjang saat Mila bertanya, ia seakan bingung mau menjawab apa. Ia tidak ingin jika istrinya terlalu banyak pikiran takut berpengaruh dengan calon anak mereka.
Angin berhembus menyejukan suasana, membuat dedaunan kering di halaman rumah seakan berlari kesana kemari. Awan berubah menjadi sedikit menghitam menandakan akan turun hujan.
"Mas hanya bingung saja."
"Bingung kenapa? Apa yang mengganggu pikiran Mas?"
__ADS_1